pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

“Istri dan Anakku Mengerti Pekerjaanku”

Suka Duka Kasboti, Sopir Bus Pegawai Pemkot Makassar (1)

MENJADI sopir bus pegawai milik Pemerintah Kota Makassar ternyata penuh suka duka juga. Di saat pegawai tepat waktu ke kantor mungkin mereka tidak dilirik, namun ketika bus mogok, dia menjadi sorotan utama dan dituding sebagai biangnya.

Laporan: ARIF AL QADRY

Mengantar pegawai maupun honorer ke Kantor Balai Kota Makassar di Jalan Ahmad Yani, sudah menjadi tugas sehari-hari Kasboti. Menjadi sopir bus pegawai tentunya dia memiliki tanggungjawab yang besar, terutama bagi keselamatan pegawai hingga tiba di kantor Balai Kota.
Peran pria yang akrab disapa pak Kas sebagai sopir telah banyak membantu pegawai. Bagaimana cerita pak Kas yang menemani pegawai menuju tempat tugas di Balai Kota.
Dia mengaku sangat senang dengan pekerjaannya. Suka duka menjadi sopir hingga 22 tahun lamanya tidak terlalu berfikir, sehingga baginya tidak ada beban.
Dia juga mengaku, selama menjadi sopir sudah banyak tamu Pemerintah Kota Makassar diantar berkeliling Kota Makassar dalam melakukan kunjungan kerja.”Sudah tidak terhitung lagi berapa tamu Pemkot Makassar saya antar berkeliling Makassar. Sudah 22 tahun saya menjadi sopir dari Wali Kota Makassar sebelumnya Andi Malik B Masry, setelah itu H Baso Amiruddin Maula, Ilham Arief Sirajuddin, Andi Herry Iskandar, Ilham Arief Sirajuddin dan saat ini Moh Ramdhan Pomanto,” jelasnya.
Sebelum menjadi sopir pegawai, dia pernah mengabdi menjadi sopir di Kecamatan Tallo pada tahun 1994. Setiap hari dia mengantar camat atau menjemput camat untuk melakukan aktifitasnya. Hanya beberapa lama, dia kemudian ditempatkan untuk menjadi sopir pribadi Camat Mariso.
“Sejak tahun 1994 saya sudah mulai bekerja sebagai sopir untuk mengantar pejabat. Awalnya saya bekerja sebagai sopir mengantar jemput camat Tallo selama dua tahun. Hanya beberapa tahun, saya kemudian ditempatkan untuk menjadi sopir camat Mariso dan saat itu selama empat tahun status saya kemudian diangkat menjadi sebagai sopir umum yang standby di kantor Balai Kota Makassar,” katanya.
Menurutnya, pepatah bahwa pengorbanan untuk daerah adalah pengorbanan untuk orang banyak selalu dia pegang teguh. Di dalam bekerja, apapun itu harus dilakukan dengan ikhklas agar barokah. Meskipun waktu bersama keluarga harus dikorbankan.
Tapi menurutnya itu tidak masalah karena sudah sebuah kewajiban sebagai sopir.”Tanpa dukungan istri dan anak pekerjaan saya tidak sukses. Bawa mobil saja tidak bisa konsentrasi, kalau istri marah-marah,” kisahnya.
Pria ramah yang berdomisili di Jalan Nipa-nipa ini merasa bersyukur, karena istri dan anaknya tidak pernah mengeluh, baik itu masalah keuangan atau hal yang lain.”Pekerjaan saya memang tidak menentu. Jika ada tamu saya wajib mengantar berkeliling, meskipun harus ke daerah di luar Kota Makassar,” katanya. (arf/war)



×


“Istri dan Anakku Mengerti Pekerjaanku”

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar