MIMPINYA untuk merubah hidup harus digapai dengan kerja keras. Gadis berusia 18 tahun itu sadar, untuk bisa kuliah, dia harus bisa mandiri. Menghasilkan uang dari keringatnya sendiri.
Laporan: RAHMA AMRI
Tidak mudah memang. Namun, dia memiliki semangat dan tekad baja untuk mewujudkannya.
“Sepanjang pekerjaan itu halal, bisa menghasilkan uang, kenapa tidak?” jelasnya.
Tak pernah terlintas dalam diriya perasaan malu atau gengsi. Dia juga tidak peduli dengan kata-kata orang tentang dirinya.
Sebagai pengantar makanan, Rima butuh fisik yang cukup kuat. Selain harus mengangkat beban cukup berat, apalagi jika cukup banyak yang memesan makanan, Rima juga harus kuat naik turun tangga. Semua dijalani dengan tabah. Toh, setiap pekerjaan yang dijalani pasti ada resikonya. Namun, tidak melulu keletihan yang dirasakan. Jika beruntung, ada juga pemesan makanan yang bermurah hati memberikan tip. Itu otomatis menjadi penyemangat dalam bekerja. Namun, Rima menegaskan, dirinya pantang untuk meminta.
“Kalau ada yang bermurah hati memberi tip, alhamdulillah. Tapi kan saya tidak akan pernah meminta,” jelasnya.
Perjuangan Rima untuk mengumpulkan pundi-pundi memang cukup berat. Dia menuturkan, untuk sampai di tempat kerja, dia harus menempuh jarak berpuluh kilometer. Pasalnya, wanita yang hobi menyanyi ini tinggal di Bontomarannu, Kecamatan MoncongloE. Karena itu, dia harus mencicil satu unit sepeda motor, berhubung tidak ada angkutan umum dari rumah menuju kantornya.
Dia mengaku, pernah dalam perjalanan pulang dari kantin pemprov ke rumah, dirinya diadang begal. Waktu itu kondisi jalan dari arah Antang ke MoncongloE, Maros, memang sangat sepi kendati belum terlalu malam. Dia terpaksa harus merelakan uang hasil kerjanya hari ini disikat begal. Beruntung motor yang dipakai tidak disikat kawanan penjambret berjumlah tiga orang itu.
Pernah juga sekali waktu, rantai motornya putus. Terpaksa dia harus mendorong kendaraannya berkilo-kilo sebelum tiba di bengkel terdekat.
Anak keempat dari enam bersaudara ini termasuk sosok yang cerdas. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Rima langganan juara kelas. Dia selalu masuk peringkat 10 besar di sekolahnya. Caranya bertutur pun menunjukkan jika perempuan berjilbab ini punya ‘isi’. Karena itulah, dia bela-belain untuk melanjutkan sekolahnya.
Waktu kecil, Rima bercita-cita menjadi aparat penegak hukum. Namun seiring waktu, ketika menyatakan niat ingin kuliah ke orang tuanya, sang bapak mewanti-wanti agar dirinya memilih program studi selain Hukum. Diapun mengubah haluan dengan membidik ilmu administrasi.
Dia berharap kelak bisa bekerja mandiri di kantor baik swasta atau negeri, tergantung nasib membawanya.
“Semua sudah diatur Allah. Namun, kita disuruh berusaha untuk mengubah hidup kita lebih baik. Yang jelas, saya tidak mau masa depanku suram,” pungkasnya.
Sudah sekitar empat bulan dia menjadi pengantar makanan di kantin Mama Eka yang berada di lingkup kantin Pemprov Sulsel.
Jika pemesan menelpon kantin Mama Eka untuk dibawakan makanan atau minuman, maka yang bertugas mengantarkan ke pelanggan adalah Rima. Kendati harus bolak-balik kantin, hingga ke lantai empat kantor gubernur, tak tersirat rasa lelah di wajahnya. Dia selalu ceria.
Dia berharap, dari hasil jerih payahnya, bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Sejak SMA, wanita berjilbab ini memang sangat ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sejak kecil, nilai pelajaran Rima sangat cemerlang. Dia kerap jadi langganan juara kelas. Namun, sadar karena kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan, dia harus bekerja mandiri untuk mengumpulkan uang membiayai kuliah. Kebetulan ada salah seorang staf di kantor gubernur yang juga kerabatnya memberikan tawaran untuk menjadi pengantar makanan di kantin Pemprov Sulsel. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata, ada jalan untuknya agar bisa kuliah. Diapun menerima tawaran itu dengan senang hati. Kendati rumahnya di daerah MoncongloE Kabupaten Maros, namun dia tetap semangat untuk mengubah masa depannya. Karena jarak rumah ke tempat kerja cukup jauh, dia pun kredit motor untuk melancarkan aktifitasnya. Dalam sehari, dia diberi upah Rp40 ribu rupiah. Uang itulah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Selain untuk membayar cicilan motor, upahnya juga disimpan untuk membayar pendaftaran kuliah.
“Alhamdulillah sudah terkumpul lumayan. Sudah bisa daftat kuliah bulan Mei mendatang,” ungkap Rima kepada BKM di sela-sela kesibukannya mengantar makanan dan minuman.
Perempuan lulusan SMAN 8 Mandai itu berencana akan mendaftar di salah satu universitas yang ada di Kabupaten Maros. Dia merasa sangat beruntung karena aktifitasnya sebagai pengantar makanan di kantin sangat fleksibel waktu. Alasannya, dia bisa bekerja Senin hingga Jumat berdasarkan jam kerja pegawai. Sementara Sabtu dan Minggu digunakan untuk kuliah.
“Rencananya nanti begitu kalau saya sudah kuliah,” katanya semangat. (rhm/war)

