pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Syahrul Ingin Semua Sekolah Gelar UNBK

Dosen Unhas Pantau UN di 12 Kabupaten/Kota

GUBERNUR Sulsel, Syahrul Yasin Limpo dan Wakil Gubernur, Agus Arifin Nu’mang melakukan pemantauan pelaksanaan UN hari pertama, kemarin. Syahrul mengunjungi SMAN 17 Makassar, SMK 1 Sulsel dan MAN Model Makassar.
Dari pemantauan itu, khusus untuk pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) diketahui masih terkendala pada komputer. Bahkan di beberapa sekolah, pelaksana ujian harus meminjam laptop milik siswa.
“Pelaksanaan UNBK ini menjadi titik star kita untuk mendorong agar tahun depan, upaya-upaya ujian dengan komputer harus makin massiv dilakukan pada semua sekolah,” kata Syahrul.
Melihat pelaksanaan UNBK di beberapa sekolah, Syahrul menilai, pelaksanaan UN yang berbasis pada komputerisasi bisa berjalan lebih apik, lebih terencana, lebih pasti, dibandingkan dengan pelaksanaan UN secara manual. Selain itu, para siswa juga lebih senang dengan UNBK tersebut.
“Saya coba cek bagaimana materi soal ujian. Materi soal ujian walaupun sudah didownload tiga hari lalu, baru terbuka tadi pagi. Barulah materi itu ada disini, kemudian diakses pada komputer untuk dijadikan soal ujian. Hari ini juga, hasil ujian langsung diterima reciver di Jakarta. Model-model ini saya kira, dalam teknologi hal biasa, tapi menunjukkan sebuah langkah yang lebih pasti untuk kita,” terangnya.
Menurut Syahrul, era digital, frekuensi, dan komputerisasi, adalah sebuah kebutuhan hari ini dan besok, tidak bisa lagi tidak dilakukan. “Anak-anak kita seperti apa yang kita lihat di beberapa sekolah ini, mereka lebih happy untuk ujian, muka mereka ceria banget. Tidak seperti kalau kita ujian kertas, terlalu ribet rasanya,” lanjutnya.
Terkait ketersediaan perangkat keras UNBK, Syahrul menyatakan, hampir semua sudah tersedia, termasuk listrik dan lain-lain terantisipasi dengan baik dan tidak ada masalah. Namun, masalah servis dari sekolah, guru, Dinas Pendidikan memang perlu diperhatikan. Khususnya kenyamanan ruangan, kabel-kabel tidak boleh berseliweran, dan AC harus bagus hingga siswa nyaman.
“Kondisi keamanan di sekitar sekolah juga cukup bagus, walaupun tidak perlu diatur terlalu tegang. Saya terima kasih ada polisi, tentara. Tapi semua itu hanya untuk preventif,” imbuhnya.
Terkait kurangnya komputer, Gubernur berjanji akan mengagendakan agar tahun depan makin lebih massiv. Apalagi, komputer dan digital era sudah menjadi tuntutan paradigma kehidupan, dan tidak bisa lagi dinafikan. Karena itu, apapun yang menjadi masalah, harus dicarikan solusinya.
“Sulsel termasuk yang paling tinggi sekolah yang melaksanakan UNBK. Tahun ini, jumlah sekolah yang melaksanakan UNBK lima kali lipat dibanding tahun lalu. Saya tidak sesumbar mengatakan bahwa harus semua sekolah UNBK, karena saya takut juga kita langsung lompat terlalu cepat, sementara kesiapan kita bersoal, nanti jadi bumerang. Kalau tahun depan, saya mau pelaksana UNBK naik 30 kali lipat. Tapi saya pelan-pelan dulu, rapat dulu dengan para bupati,” paparnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang meninjau pelaksanaan UN di SMAN 3 Makassar. Kurang lebih 15 menit sebelum waktu ujian nasional dimulai, Agus sudah berada di sekolah ini.
Dia menyempatkan diri masuk ruang kelas dimana akan berlangsung ujian berbasis komputer. Agus memberikan motivasi kepada siswa peserta ujian agar tidak terlalu tegang dalam mengerjakan soal soal nantinya.
“Tidak usah tegang, kerjakan saja soal dengan tenang, karena saya melihat kalian berwajah lulus dan cerah. Insya Allah kalian lulus semua,” kata Agus.
Di SMAN 3 yang dikunjungi mantan Ketua DPRD Sulsel ini, peserta ujiannya sebanyak 273 orang dengan menempati 3 kelas yang dilaksanakan sebanyak 3 sesi. Sementara di SMAN 14 Makassar yang juga didatangi, jumlah peserta ujian 256 orang dengan menggunakan 15 ruang kelas. SMAN 14 melaksanakan UN masih mengunakan sistem manual.
Sementara di SMKN 1 Makassar dengan jumlah peserta ujian sebanyak 312 orang, menggunakan 5 ruang kelas dan berlangsung 3 sesi dengan sistem komputer. Sedang di MAN 1 Makassar terdapat 154 orang peserta dengan menggunakan 9 ruang kelas. Di sekolah ini masih menggunakan UN sistem manual. Dari 154 orang peserta UN, satu orang diantaranya tidak hadir hingga berlangsung UN. Menurut panitia ujian yang bersangkutan hingga saat ini belum ada konfirmasi tentang ketidakhadiran siswa tersebut.
Usai meninjau pelaksanaan UN, Agus mengatakan bahwa pelaksanaan UN tahun ini jauh lebih siap dibanding dengan tahun sebelumnya. Bahkan, menurutnya, pelaksanaan UN tahun ini persiapannya sudah mencapai 100 persen.
Agus berharap agar pihak pemerintah, dalam hal ini Diknas terus berkoordinasi dengan pihak PLN, baik pusat, provinsi maupun kabupaten dan kota untuk kelancaran pelaksanaan UN yang berbasis komputer.
Agus juga berharap kepada panitia UN agar memberi fasilitas kepada siswa peserta UN yang terlambat akibat macet, atau tempat tinggalnya yang jauh dari sekolah.
Salah seorang siswa MAN Model Makassar, Siti Fadillah mengaku cukup deg-degan dengan UN yang akan dihadapi. Ditemui saat menunggu jam masuk ujian, gadis berjilbab ini mengaku sudah melakukan berbagai persiapan agar bisa mengerjakan soal dengan maksimal.
Karena sekolahnya menyelenggarakan UN berbasis komputer, Fadillah mengaku, sejak awal sekolah sudah mempersiapkan mereka ujian dengan sistem UNBK. Salah satunya, intens melakukan simulasi dan tryout.
Dibanding ujian konvensional, Fadillah mengaku UNBK lebih efektif karena tidak perlu menulis serta membulat-bulatkan lembar jawaban. “Saya lebih suka UNBK karena tidak ribet,” pungkasnya.
Universitas Hasanuddin juga menurunkan timnya untuk memantau pelaksanaan UN tingkat SMA/sederajat di Sulsel. Mereka disebar di 12 kabupaten/kota. Masing-masing Parepare, Palopo, Takalar, Bulukumba, Selayar, Barru, Enrekang, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
Bukan hanya pemantau, pihak Unhas juga mengisi kuisioner penyelenggaraan UN. Kampus ini dipercaya pula untuk memindai (menscan) lembar jawaban ujian (LJU) UN SMA/MA/SMK setelah ujian berlangsung selama empat hari.
Wakil Rektor I Unhas, Prof Junaidi Muhidong,MSc menjelaskan bahwa beberapa dosen dilibatkan untuk memantau pelaksanaan UN. Mereka juga mengisi kuisioner, mengambil gambar pelaksanaan UN, dan membuat laporan hasil pemantauan.
”Unhas juga mendapat kepercayaan untuk melakukan pemindaian LJU. Pemindaian dapat berlangsung cepat jika LJU segera dibawa ke Unhas untuk dipindai paling lambat 10 hari pascaujian,” ujarnya (rhm-ita/rus)



×


Syahrul Ingin Semua Sekolah Gelar UNBK

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar