PERJALANAN hidup di dunia ini telah banyak yang kita bisa petik, termasuk segala insiprasi dari orang-orang bawah yang tetap tabah dan ikhlas untuk mencari rezeki demi melanjutkan hidup dan keluarganya.
Laporan: ARIF AL QADRI
Termasuk pelajaran berharga dari seorang ibu penyapu jalan di Jalan Sultan Hasanuddin, Slamet Riyadi, dan Jalan Balaikota, Makassar.
Subuh, Selasa lalu, cuaca tampak dingin. Hanya terdengar satu dan dua kendaraan yang lalu lalang. Mungkin, warga kota masih tertidur pulas setelah melaksanakan aktifitasnya.
Di sudut jalan nampak seorang petugas kebersihan dengan wajah lelah memegang sapu panjang.
Usia si ibu sudah tidak muda lagi, umurnya sekitar 48 tahun lebih. Beliau harus bersusah payah menghidupi ketiga anaknya sebagai orang tua tunggal lantaran suaminya lebih dulu meninggal karena sakit. Ketiga anaknya tetap ia sekolahkan.
Setiap pagi, Supiyati (48), warga Jalan Dangko ini meninggalkan rumah yang terbilang sederhana. Ia juga meninggalkan ketiga anak anaknya sejak pukul 03.30 pagi. Di jalan utama tersebut, Supiyati untuk membersihkan jalan dari sampah plastik atau daun kering.
Dengan bermodalkan rompi berwarna orange, sarung tangan dan juga penutup hidung. Supiyati atau akrab disapa Yati mulai bekerja menyapu sepanjang jalan yang telah menjadi wilayah kerjanya dari pukul 04.00 hingga pukul 08.00 pagi.
“Saya itu keluar dari rumah jam tiga subuh. Jadi saya perkirakan jam 04.00 wita saya sudah mulaimi kerja sampai jam 07.00 wita. Tapi kalau banyak sampah apalagi kalau selesai hujan atau selesai ada acara di wilayah tempatku membersihkan saya biasa selesai kerja jam 08.00 wita,” kataya.
Sudah satu tahun lima bulan, Yati menjadi tulang punggung keluarganya dengan bekerja sebagai tukang sapu jalan setelah sang suami yang bernama Sampara meninggal sejak dua tahun lalu. Padahal, sewaktu suami Yati masih hidup dan bekerja sebagai Jukir di Jalan Sulawesi ia mengaku hanya tinggal dirumah mengurus anak anaknya dan mengerjakan pekerjaan rumah.
“Sabar dan ikhlas aja dek, Allah tau apa yang terbaik buat kita,” tutur sang ibu ketika menceritakan problematika hidup yang menderanya.
Ia menambahkan menjadi tukang sapu jalanan hanya itu yang dapat ia kerjakan. Dengan upah yang didapatkan sebesar Rp1,7 juta per bulan, ia terpaksa harus pintar-pintar mengatur keuangan antara biaya hidup sehari-hari, uang sekolah anaknya dan uang transpor ia pergi bekerja.
“Saya dulu tidak pernah berfikir bakal menjadi tukang sapu. Tapi mungkin nasibku seperti ini jadi saya tetap syukuri, bersabar dan tetap melakukan hal yang baik untuk anak saya dan berharap ketiga anak saya dapat sukses tidak seperti saya ini,” tukasnya.(arf)

