BULAN Suci Ramadan adalah bulan penuh berkah. Semua umat Islam mendapatkan berkah jika mereka serius berusaha.
Laporan: ARIF AL QADRY
Seperti halnya menjalankan usaha musiman di bulan puasa yakni menjual makanan takjil untuk berbuka puasa. Menjual makanan takjil sudah dipastikan sangat menjanjikan. Apalagi, keuntungan menjalankan bisnis kue tradisional di bulan puasa bisa berlipat ganda meski mempunyai batas waktu hanya sebulan saja.
“Setiap hari meski di luar bulan Ramadan saya tetap berjualan kue di Jalan Hertasning, Hanya saja, setiap menjelang bulan Ramadan saya mulai menambah stok jualan kue menjadi dua kali lipat dibandingkan hari biasanya. Sudah sejak tahun 2011 saya berjualan kue tradisional,” kata Hamriyati saat ditemui penulis, Selasa, kemarin.
Dia mengatakan, jajanan untuk buka puasa tersebut dijual bervariasi, dari Rp1.000-Rp2.000 per potong untuk gorengan dan kue serta Rp5000-8000 untuk minuman seperti es campur dan aneka kolak dingin.
Menurutnya, menjual jajanan buka puasa dirasakan ada suka duka terutama kalau cuaca tidak mendukung.”Kalau panas begini enak jualannya apalagi minuman, tapi kalau hujan ya terpaksa rugi sedikit,” ujar Hamriyati.
Bahkan ibu berkaca mata ini mengaku, keuntungan paling banyak diperoleh pada saat pertengahan puasa, sebab para ibu-ibu rumah tangga sudah malas membuat panganan untuk berbuka puasa.”Kalau memasuki puasa ibu-ibu masih suka membuat kue paganan berbuka puasa. Tapi kalau pertengahan bulan puasa biasanya mereka suka membeli kue dan gorengan di luar rumah,” katanya.
Sambil mengatur kue yang dijajakan di dalam etalase, wanita kelahiran Bone 20 Maret 1962 menambahkan, berbagai macam jenis kue tradisional yang ia pajang seperti Songkolo Bandang, Onde onde, Songkolo, Tarajung, Putu Tongka ataupun Putu Cangkir dengan harga yang bervariasi. Ibu lima orang anak itu mengaku mampu menjual sekitar 500 biji kue dalam sehari khususnya dihari biasa. Sedangkan ketika masuk Ramdhan, dia mengaku mampu menjual sedikitnya 800 biji kue perharinya.
“Sudah lima tahun saya menjual kue tradisional atau modern di sini dek, lumayan pendatan perhari yang saya dapat digunakan untuk biaya hidup sehari hari dan membiayai kuliah empat anak saya dari lima bersaudara. Karena anak pertama saya sudah bekerja,” ucapnya
Hamriyati juga mengisahkan awal mula dia menjual kue tradisional. Saat itu, ia mulai pusing untuk mencari uang untuk biaya hidup dan membiayai kuliah keempat anaknya. Kebetulan, tetangga samping rumahnya saat itu menjual kue di depan rumahnya. Hamriyati berinisiatif untuk membantu menjualkan kue tetangganya di pinggir jalan poros Hertasning Baru.
“Saya dulu dek pertama kali mulai menjual kue untuk takjil berbuka puasa dari kue titipan tetangga saya. Dari keuntungan yang saya peroleh dari pemilik kue, ia mulai mencicil etalase ukuran 2×2 meter. Berkat etalase tersebut, ia mulai memasok kue yang lebih banyak dan berusaha membuat kue sendiri,” katanya.(arf)

