pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Dari Berjualan Daging Hingga Tisu

KOTA Makassar cukup memiliki pengaruh yang kuat bagi orang-orang untuk datang mengais rezeki. Salah satunya dengan berjualan tisu di persimpangan jalan-jalan di kota termasuk di bawah fly over.

Laporan: ARIF AL QADRY

Malam itu sekira pukul 20:00, lampu lalu lintas atau traffic light yang berada di persimpangan Jalan Urip Sumoharjo tiba-tiba saja berubah berwarna merah. Para pengendara baik roda empat ataupun roda dua berhenti.
Hanya durasi tiga detik setelah berhenti, tiba-tiba sesosok pria cukup tua muncul dari bawah Jembatan Fly Over berjalan dan menghampiri pengendara khususnya roda empat. Dengan beberapa bungkusan tisu yang dipegang, pria tua mengintip masuk ke dalam mobil.
“Tisu pak, tisu bu, sepuluh ribu tiga,” ujar pak tua itu.
Penasaran siapa sosok pria tua tersebut, penulis kemudian memutar kendaraannya melalui Jalan AP Petta Rani dan kembali masuk ke Jalan Urip Sumoharjo. Tepat di bawah Jembatan Fly Over, pria tersebut tampak lesu duduk di atas trotoar. Sambil mengelap butiran keringat yang nempel di dahinya menggunakan baju kaos yang digunakan, penulis menghampiri pria tua dan memperkenalkan diri.
Perkenalan singkat membuahkan hasil, pria tua tersebut berkenan menceritakan sedikit pengalaman hidupnya dan alasan dirinya berjualan tisu di sekitaran lampu lalu lintas di bawah Fly Over, Jalan Urip Sumoharjo.
Hasan, itulah nama pria tua yang selama ini sering terlihat menjajakan tisu-tisu di bawah Fly Over Makassar. Sudah dua tahun lamannya, pria kelahiran Ujung Pandang, 20 Januari 1959 mencari rezeki dengan berjualan tisu. Dan bukan hanya Hasan, beberapa orang dewasa dan anak-anak sering terlihat berjualan tisu saat lampu lalu lintas berwarna merah.
Harga satu tisu yang di jual seharga Rp4 ribu, sedangkan untuk tiga bungkusnya mendapat potongan harga menjadi Rp10 ribu. Tisu yang dijualnya langsung dia beli dari agen berlokasi di Jalan Barawaja, tak jauh dari tempatnya berjualan.
Ketika jualannya ramai, setiap hari Hasan mengaku dapat membawa pulang uang Rp150 ribu dengan menjual sebanyak satu dus tisu. Dan ketika sepi, hanya dapat membawa pulang uang sebesar Rp75 ribu. Isi tiap dus, ada 80 bungkus tisu dan rata-rata dia mampu menjual sebanyak satu dus tisu setiap hari. “Pendapatanku itu masih kotor karena saya harus simpan untuk modal lagi dan biaya-biaya lain,” ujarnya.
Jualan tisu di jalan raya sejak kecil sama sekali tidak pernah diimpikan. Sebelum berjualan tisu, Hasan sempat bekerja di Pasar Terong Makassar menjual daging sapi. Waktu itu, pendapatan setiap bulan dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya sehari-hari.
Namun nasib mungkin berkata lain. Diawal 2003, Hasan jatuh sakit. Kedua kakinya lumpuh, dan bahkan nyaris di amputasi. Hampir satu bulan lamanya dirawat di Rumah Sakit (RS). Yang membuat Hasan tidak betah atau berlama-lama berada di rumah sakit, selain memikirkan biaya, dia lebih khawatir dengan anak bungsunya yang masih berusia dua bulan.
“Takdir bisa saya lawan, namun penyakit yang saya derita harus saya lawan. Di rumah sakit, saya terus fikir anakku yang masih berusia dua bulan. Kalau saya di rumah sakit, siapa yang biayai keluargaku. Jadi saya minta keluar dan kemudian mengemis di lampu merah Jalan Pettarani karena tidak adami uangku. Belum adapi ini Fly Over ini,” sebutnya. (arf)



×


Dari Berjualan Daging Hingga Tisu

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar