MAKASSAR, BKM — Ketua Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) wilayah Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Hasanuddin Kamal menegaskan, jangkauan layanan air bersih di Sulsel saat ini masih rendah atau hanya sekira 50 persen saja.
Bahkan masih ada beberapa kabupaten/kota yang belum terlayani secara maksimal. Kalau secara nasional, sudah diatas 70 persen.
“Jangkauan pelayanan air bersih untuk wilayah Sulsel masih rendah. Padahan kita di sini sebenarnya cukup banyak sumber air baku,” ungkap Hasanuddin, Selasa (22/8) usai diterima Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo di Kantor Gubernur Sulsel.
Dia melanjutkan, rendahnya jangkauan layanan diakibatkan penyebaran tempat tinggal penduduk yang tidak merata. Berbeda dengan Pulau Jawa.
Direktur PDAM Gowa itu melanjutkan, sebagai gambaran, jika di Jawa, satu kilometer pipa PDAM mampu melayani hingga 1.000 penduduk sebaliknya. Di Sulsel, untuk melayani 1.000 rumah penduduk, butuh berkilo-kilo meter pipa.
“Sebaran penduduk tidak merata. Itu menjadi kendala kita di Sulsel,” ungkapnya.
Di Sulsel, daerah yang masih minim jangkauan air bersihnya seperti Selayar, Pinrang, Enrekang, Barru, dan beberapa daerah lain.
untuk membicarakan persoalan ketersediaan air bersih, tambah Hasanuddin, akan digelar Indonesia Water Waste (IWWEF) EXPO dan forum IWWEF (PDAM) ke-7
pada 6-9 September mendatang di Hotel Four Points Makassar.
Sementara itu, salah seorang panitia IWWEF yang juga Direktur Utama PDAM Makassar, Haris Yasin Limpo, menjelaskan, salah satu kegiatan yang akan digelar pada even itu adalah forum regional yang akan dihadiri beberapa gubernur dan menteri. Forum ini rencananya juga akan dibuka oleh Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla.
Forum regional akan menjadi forum strategis bertujuan untuk mendorong komitmen setiap daerah atau provinsi dan juga kerjasama antar daerah. Seperti kita ketahui, era otonomi daerah saat ini menempatkan pemda sebagai penaggung jawab pembangunan wilayah termasuk pelayanan publik terhadap akes air bersih.
Namun demikian, setiap daerah memiliki keterbatasan sumber daya sehingga kesulitan didalam melayani masyarakat akan air bersih. Sehingga, potensi konflik antar derah dalam pemanfaatan air baku semakin meningkat. Untuk itu, perlu pendakatan pengelolaan air minum secara terpadu.
“Diperlukan tidak sekedar kemauan politik dan regulasi yang memadai. Peran pemerintah provinsi sangat penting untuk mendorong konsep regionalisasi SPAM. Sulawesi Selatan bisa menjadi model kerjasama sebagai acuan bagi daerah lain,” kata Haris.
Dalam acara itu nanti juga akan ada penandatanganan komitmen PDAM dalam memberi pelayanan air bersih.
Gubenur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengaku mendukung penuh acara yang baru pertama kali dilaksanakan di luar Jawa ini.
“Ini harus dilaksanakan sebaik mungkin, bahkan lebih baik dari pelaksanaan di Jawa. Air bersih jangan bersoal,” harap SYL.
Dia juga mengatakan bahwa air sangat erat kaitanya dengan kualitas hidup manusia terutama kesehatan dan aspek kehidupan lainnya.
“Apa gunanya tanam pohon, pasang lampu jalan, kalau air bersih tidak disediakan. Kita bicara dari hulu ke hilir, jangan pandang enteng, air bisa juga membuat orang jadi cantik atau jelek” seru SYL.
Dia juga berharap agar regulasi yang ada disosialisasikan agar tidak bersoal di lapangan, PDAM juga harus juga mengerti tentang sanitasi dan limbah daur ulang. (rhm)

