SUKA duka kehidupan Muliyati ternyata cukup mengesankan di awal-awal membuka usaha jualan bakso. Pasalnya, untuk tetap mempertahankan usahanya, dia terpaksa meminjam uang ke renterir.
Laporan: ARIF AL QADRY
Rentenir tersebut tinggal tidak jauh dari rumahnya. Dia meminjam uang Rp500 ribu dan harus dikembalikan Rp650 ribu. Setiap minggu dia diberi waktu untuk mengembalikan utang pokok berserta bunganya.
Dia bahkan mendapat teror, ancaman, caci maki, dan perkataan kasar dari rentenir penagih utang di rumahnya, jika tak mampu melunasi utangnya.
Perempuan berusia 37 tahun ini tidak pernah lari dari kejaran para rentenir. Dia selalu membukakkan pintu dan menghadapi para rentenir.“Saya tak pernah lari. Sepahit apapun saya hadapi masalah ini,” tuturnya.
Mulyati menuturkan terjerat utang saat rentenir menawarkan pinjaman uang. Dia tergiur dan menyetujui pinjaman tersebut, karena saat itu kepepet untuk membuka usaha bakso.
Mulyati juga mengaku tidak pernah merasa malu meminjam. Karena, jika tidak berusaha bagaimana bisa mempertahankan hidup bersama keluarganya. Jadi itulah mengapa dia sampai sekarang semangat menjalankan usahanya. Dia mulai meninggalkan rumah pada pukul 06:00 Wita bersama suaminya di Jalan Balai Kota.
Sesampainya di tempat penjualan, ia langsung membersihkan tempatnya dengan menyapu dan mengepel lantai jualannya untuk tetap menjaga kebersihan. Dia melayani pengunjung hingga pukul 05:00 Wita. Dalam benaknya, dia bercita-cita ingin memiliki tempat usaha sendiri untuk berjualan bakso.”Saya bercita-cita memiliki tempat usaha sendiri tanpa mengontrak,” paparnya.
Wanita yang lahir di Kota Makassar tepatnya 28 Mei 1979 kembali mengisahkan, kalau awal membuka usaha hanya kondisi apa adanya. Disamping belum memiliki gerobak bakso, meja yang dia gunakan juga masih terbuat dari kayu yang berukuran kecil dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter yang hanya ditempati oleh tiga orang dewasa atau empat orang anak-anak.
Anak kelima dari enam bersaudara itu mengatakan, sejak berumur delapan bulan ia sudah ditinggal mati kedua orang tuanya. Bapaknya bernama Dg Janang meninggal diusia (40) tahun dan hanya berselang sebulan ibunya yang bernama Dg Isa juga meninggal dunia diusia (39) tahun.
Bahkan dia juga mengaku hanya dapat menikmati dunia pendidikan hingga di bangku kelas 5 di SD Bawakaraeng karena sudah tidak mampu lagi membayar uang sekolah.
Puncak kebahagiaan dia rasakan saat beranjak usia 25 tahun. Dia dipertemukan oleh seorang pria yang saat ini sudah resmi menjadi suaminnya yaitu Hamdani Dg Mada atau yang akrab disapa Dg Mada.
Ia sedikit menceritakan jika dulunya Dg Mada kebetulan tinggal di samping rumahnya di Jalan Maccini Gusung.
Setiap hari dia mengaku saling pandang memandang dan saling melempar senyum yang manis hingga akhirnya ia berpacaran. Berjalan beberapa bulan, kekasihnya itu memutuskan untuk membina rumah tangga dengan cara menerima lamaran pernikahannya. Awalnya dia mengaku kaget karena kekasihnya yang bernama Dg Mada tiba tiba datang ke rumahnya bersama orang tua mereka dengan maksud untuk melamar.
Dengan rasa senang dan terharu, dia mengaku tidak berfikir lama dan menerima lamaran tersebut.(arf)

