pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Water Canon Dikerahkan Hadapi Massa Litha Brent

MAKASSAR, BKM — Eksekusi lahan berlangsung di Jalan Gunung Merapi, Senin pagi (30/10). Obyek berupa ruko itu diketahui milik pengusaha Litha Brent.
Jalannya eksekusi tak berlangsung mulus. Peristiwa berdarah serta bentrokan mewarnai.
Sekelompok massa dari Perwakilan Otobus (PO) Litha mencoba melakukan perlawanan terhadap polisi yang mengawal jalannya eksekusi. Pengadilan Negeri Makassar melakukan eksekusi berdasarkan putusan nomor: 47 EKS/2016/PN Makassar tertanggal 14 Agustus 2017, dalam permohonan kuasa risalah lelang nomor: 1035/2015 tanggal 14 November 2015 yang jatuh kepada Ferdi.
Pantauan BKM di lokasi, sebelum pelaksana eksekusi tiba, massa Litha Brent melakukan aksi penutupan jalan secara menyeluruh. Dimulai dari ujung Jalan Gunung Merapi hingga objek eksekusi lahan berupa ruko salah satu aset PT Litha & Co. Mereka menggunakan tiga unit bus Litha.
Tidak lama kemudian, petugas kepolisian yang diback up personel TNI tiba di lokasi guna melakukan pengamanan. Tak lama kemudian situasi memanas. Polisi meminta massa Litha Brent untuk membuka akses jalan. Saat itulah terjadi perlawanan hingga berujung ricuh.
Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Ujung Pandang Kompol Wahyu yang berada di lokasi, menegaskan bahwa pihaknya diminta untuk melakukan pengamanan jika juru sita melakukan eksekusi. ”Kami diminta untuk melaksanakan pengamanan. Namun saat di lokasi, massa melakukan perlawanan. Mereka menghalangi petugas. Kami minta secara persuasif untuk membuka akses jalan. Tapi malah melempari petugas dengan batu,” terang Kompol Wahyu.
Sempat terjadi aksi kejar-kejaran antara massa dengan polisi. Meski telah dipukul mundur, massa tetap memberikan perlawanan. Tembakan gas air mata pun diberikan.
Massa sepertinya sudah mempersiapkan diri untuk melawan. Mereka mengumpulkan batu di badan jalan dan digunakan melempari petugas. Bahkan, melengkapi diri dengan anak panah serta petasan api untuk menyerang polisi.
Petugas kemudian mengambil tindakan membubarkan paksa aksi membahayakan itu. Tim sabhara menyerobot masuk dengan menggunakan mobil water canon sambil menyemburkan gas air mata.
Saat itulah massa berhamburan dan lari kocar kacir masuk ke lorong-lorong. Selanjutnya, tim sabhara menyebar masuk melakukan penyisiran. Hasilnya, sebanyak 22 orang massa Litha Brent diamankan. Selanjutnya digelandang ke Mapolrestabes Makassar.
Dandim 1408/BS Kolonel Kav Otto Sollu didampingi Danramil 1408-07/UP Mayor Inf Yulius juga berada di lokasi.
Setelah situasi kondusif, juru sita dari PN Makassar bernama Ruslan membacakan putusan eksekusi. Ia didampingi Dandim 1408/BS, dari pihak kepolisian Kompol Dwi Bakhtiar, Danramil Ujungpandang serta Kapolsek Ujungpandang Kompol Wahyu.
Titi selaku pengacara penggugat, mengatakan sudah beberapa kali eksekusi hendak dilakukan. Hanya saja selalu gagal karena dihalang-halangi massa Litha Brent.
“Sebenarnya sejak jatuhnya putusan hendak dilakukan eksekusi. Tapi kami kesulitan, karena selalu dihalangi. Sekarang baru bisa dilakukan berkat bantuan aparat keamanan,” kata Titi.
Informasi yang diperoleh di lokasi, kelompok massa yang mengenakan pita berwarna kuning yang diikatkan di lengan itu
bersatu sudah terlihat sejak subuh hari pukul 04.30 Wita. Mereka didatangkan dari luar Makassar dengan menggunakan tiba unit bus Litha. Pada pukul 10.00 Wita, massa inipun berhadapan-hadapan dengan polisi hingga terjadi bentrokan.
”Jam 10 baru ricuh. Massa melempari petugas dengan batu. Beberapa kali tembakan peringatan dan gas air mata dikeluarkan, tapi tetap ada perlawanan. Setengah sebelaspi baru mundur semua itu kelompok pemuda. Ada yang luka-luka, dan banyak yang ditahan polisi juga,” ujar Wahyu, salah seorang warga Jalan Gunung Merapi.
Sementara Ani, warga yang tinggal di sekitar lokasi menyebut, baru kali ini ada eksekusi lahan terjadi di Jalan Gunung Merapi dan berakhir dengan keributan. Kejadian ini dirasakan cukup mengganggu, khususnya warga sekitar lokasi yang ingin keluar rumah melakukan aktifitasnya.
“Mereka (kelompok massa) itu sengaja didatangkan dari luar Makassar. Kasihan kalau sampai luka dan ditahan polisi,” cetusnya.
Hingga pukul 13.20 Wita, aparat kepolisian dan TNI masih terlihat di lokasi. Mereka melakukan penjagaan, sembari menunggu penyelesaian pengerjaan pagar besi yang dipasang depan gerbang masuk lahan yang telah dieksekusi. (ish-arf-jul/rus)



×


Water Canon Dikerahkan Hadapi Massa Litha Brent

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar