BEBERAPA orang telah mencoba membantu daeng Badeng mulai dari tetangga dan orang-orang yang kebetulan mengetahui tentang kesulitan yang dialami daeng Badeng. Dengan memberi sembako berupa beras,minyak dan mie instan. Bahkan ada juga yang memberi seng dan tripleks yang yang terpakai lagi kepada daeng Badeng untuk memperbaiki kondisi rumahnya yang sangat memprihatinkan itu.
Laporan: ARIF QADRY-AGHITS RENALDY
Terkadang pula ada yang memberikan sejumlah uang pri renta ini. Daeng Badeng sekeluarga selalu bersyukur dengan apa yang diberikan orang lain kepadanya. Karena dengan bantuan sekecil apapun, itu sudah sangat berarti untuk daeng Badeng sekeluarga. Ia juga berharap ada bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban hidupnya bersama keluarga.
Penulis menyempatkan bertemu Daeng Badeng yang beristerahat di sofanya. Sofa bekas berwarna kuning kusam itu menjadi barang yang sangat bermanfaat baginya untuk beristirahat sejenak usai bekerja seharian menyusuri ruas jalan di Kota Makassar mencari kardus, botol dan gelas plastik bekas.
Tidak hanya sepulang bekerja, lelaki berumur 87 tahun tak pernah merasa bosan mengisi waktu sorenya hampir setiap hari dengan duduk di sofa miliknya yang disimpan depan rumahnya di Jalan Syech Yusuf, Lorong V, RW 05, RT 06, Kabupaten Gowa. Alasannya karena sofa tersebut satu-satunya kursi lapisan busa yang ia punya.
Sudah 12 tahun, Daeng Badeng bersama istrinya Daeng Sitti tinggal bersama dalam gubuk berukuran sempit dengan hanya memiliki lebar enam meter dan panjang lima meter. Ukuran yang cukup sesak menjadi tempat tinggal mereka berdua. Tak nampak barang-barang mewah berada dalam rumahnya. Jangankan televisi, tegel dalam rumah saja masih tanah lembab.
Cukup memprihatinkan memang kondisi sepasang suami istri itu. Di waktu malam, mereka harus menahan dingin dan gigitan nyamuk. Sedangkan ketika siang, mereka juga merasakan panas. Di mana dinding rumah mereka masih menggunakan triplek lapuk dengan atap seng yang nampak bocor. Maka ketika musim hujan masuk, mereka berdua sering basah terkena air hujan.
“Cukup sedih kalau lihat ini rumah, tetapi tidak ada daya ku perbaiki. Tidak uang untuk itu, makan saja susah dan masih sering dibantu sama orang-orang apalagi anak,” kata Daeng Badeng melihat ke penulis dengan tatapan kosong.
Sudah hampir seminggu ini, Daeng Badeng tidak keluar mencari rezekinya. Dia sakit, semua sendi tulangnya dia rasa ngilu. Mungkin karena usianya yang sudah senja, ditambah dengan beban pekerjaannya mengayu becak menyusuri ruas jalan di Kota Makassar mencari botol dan gelas plastik bekasnya.
Botol dan gelas plastik bekas, ataupun besi tua dan karton yang dikumpulkan di atas becaknya kemudian dia jual. Ada dua tempat Daeng Badeng menjual barang-barang bekas yang dia kumpulka, yaitu di Jalan Rappocini dan Jalan Pengayoman.
Untuk botol dan gelas plastik bekas, dihargai Rp2.000 perkilonya. Karton bekas dihargai Rp1.500 perkilo dan besi tua seperti baut dihargai Rp7.500 perkilonya.
“Tidak menentu, sehari biasanya saya dapat 10 kilo botol dan gelas plastik atau sama sekali jalan kosong. Karton sama besi tua susah saya dapat paling sering itu plastik,” tambahnya.
Dari pagi hingga siang, Daeng Badeng masih berada di luar rumahnya mencari dan mengumpulkan barang-barang bekas. Itu dia lakukan sejak tahun 1991 sampai sekarang ini pasca dia tidak lagi menjadi tukang becak.
“Dulu saya tukang becak waktu masih tinggal di Jalan AP Petta Rani di samping kantor PJR sekarang ini. Bukan tanahku itu, tapi tanahnya orang yang saya jaga dan diizinkan mi juga bangun rumah disana. Pas tanahnya dia jual saya pindah mi apalagi ada uang sedikit dikasikan ka sama pemilik lahan itu,” sebutnya.
Daeng Badeng sekeluarga hanya berharap suatu saat nanti kehidupan mereka akan lebih baik daripada sekarang.
Keduanya melalui sisa hidup mereka, nyaris tanpa mengeluh dan putus asa. “Pernah saya dapat bantuan beras raskin dan uang, alhamdulilah bisa untuk makan beberapa hari,” ungkapnya.(*)

