BERPROFESI sebagai sopir ambulance pengantar jenazah, bukan hanya membutuhkan keterampilan dalam mengemudikan kendaraan, tapi juga harus bisa mengurus jenazah mulai dari memandikan, ikut membantu berikan formalin, sampai memberikan pakaian bagi jenazah non-muslim.
Laporan: ARIF AL QADRY
Pengalaman tersebut dirasakan Faisal, warga Kabupaten Gowa yang sudah bertahun-tahun berprofesi sebagai sopir ambulance pengantar jenazah di Yayasan Kerukunan Keluarga Soppeng (KKS). Meski sebenarnya ada banyak Rumah Sakit (RS) di Makassar menjadi mitra Yayasan KKS untuk jasa pengantaran jenazah, namun hanya ada dua RS menjadi tempat disukai menunggu orderan yaitu, RS Wahidin Sudirohusodo dan RS Stella Maris.
Sejak 1995 sampai 1998, Faisal menggeluti profesinya sebagai sopir ambulance pengantar jenazah. Resign atau mengundurkan diri dari pekerjaannya pernah dia lakukan pada tahun 1999 menjadi driver bank, dan 2010 menjadi pengawas kerupuk di Kabupaten Maros.
Mencari suasana baru dan pengalaman baru dan tidak berhubungan lagi dengan jenazah alasan Faisal untuk mengundurkan diri. Namun semua pekerjaan barunya tidak bertahan lama. Dia kembali bergabung di Yayasan KKS sebagai sopir ambulans Juli, 2017 ini.
“Sempat saya kerja di bank sebagai driver bank antar marketing, dan bekerja sebagai pengawas bank. Tapi kembali lagi jadi sopir ambulans. Saya sudah cintai juga pekerjaan ini dan untuk berbuat kebaikan,” katanya.
Sementara gaji yang didapatkan setiap bulan diakui cukup memenuhi kebutuhan hari-harinya. Hanya saja, dia tidak ingin menyebut nilainya. Dia bersyukur dengan profesi inilah dia bisa menghidupi keluarganya.
Satu pesan dari Faisal buat para sopir pengantar jenazah yaitu, jaga keselamatan anda dan keselamatan pengguna jalan lain. Menjadi sopir ambulance pengantar jenazah harus memiliki etika baik saat berkendara. Tidak boleh egois di jalan apalagi ugal-ugalan.
Begitu juga kondisi kendaraan harus rutin diperhatikan seperti oli mesin dan ban. Karena kendaraan sehat belum tentu mulus, apalagi kendaraan yang jarang mendapat perawatan. Kendaraan sehat bisa menjadi penyelamat nyawa manusia yang ada dalam kendaraan.
“Sirine memang kita punya bahkan lampunya juga nyala, tapi bukan berarti kita harus cepat apalagi sampai ugal-ugalan. Kita harus ingat nyawa kita sendiri dan orang lain, jadi tidak mesti ngebut-ngebut di jalan,” sebutnya.
Adapun tarif jasa pengantaran jenazah di dalam kota sebesar Rp400 ribu, dan luar daerah bisa mencapai Rp800 ribu, tergantung jarak daerahnya. Untuk jenazah non-muslim, juga ada paket peti, dan pakaian termasuk formalin dengan harga lebih mahal lagi. Peti jenazah paling murah yang disediakan seharga Rp4 juta.
“Biasa kita juga gratiskan ji kalau ada masyarakat yang benar-benar tidak mampu. Tanpa syarat cukup jujur saja dengan bicara secara baik-baik kepada kami biar kami paham dan mengerti,” sebutnya.
Sore itu, Faisal mempersilakan penulis masuk di sebuah ruangan yang menjadi tempat berkumpulnya sopir ambulans dan pengurus jenazah di RS Stella Maris. Menuju ke ruangan tersebut lebih dekat melalui ruang jenazah, namun di depan ruang jenazah aroma formalin cukup terasa. Tidak cuma itu, peti-peti jenazah juga tampak tersusun rapi.
Ruangan yang cuma berukuran lebar empat meter dan panjang tiga meter menjadi tempat berkumpul setiap waktu para sopir ambulans dan pengurus jenazah. Dan disitu Faisal mengingat kembali awal dirinya menjadi sopir ambulans pengantar jenazah dan pengalaman-pengalamannya.
Bekerja sebagai sopir ambulans pengantar jenazah tidak dibenarkan memilih kondisi mayat yang ingin diangkut, sebagai konsekuensi profesi harus selalu siap mengantar mayat yang membutuhkan pelayanan ambulans mulai mayat berdarah karena kecelakaan, bunuh diri, dibunuh atau karena sakit.
Bagi awam profesi itu cukup menyeramkan, tetapi ketika sudah sering dilakukan maka fobia bertemu dan bersama mayat sekalipun kondisinya penuh dengan darah dapat hilang. Karena hal tersebut pernah dirasakan Faisal ketika pertama kali terjun di lapangan mengantar jenazah dari RS ke rumah duka.
Meski dikatakan dimasa kecilnya dulu sering bermain di samping mobil ambulance yang terparkir depan rumahnya, namun rasa merinding tetap tidak terhindarkan sewaktu pertama kali mengantar jenazah.
“Sekarang rasa takut sudah tidak ada lagi, karena sudah terbiasa, dan menurut saya takut hanyalah sugesti saja,” ucap suami Dewi Amelia.
Sudah cukup lama bapak enam orang anak itu menggeluti profesinya sebagai sopir ambulans pengantar jenazah, dimulai sejak 1995. Meski telah berulang kali mencoba beralih ke pekerjaan lain seperti driver bank dan menjadi pengawas pembuatan kerupuk, walhasil kembali menjadi sopir ambulans pengantar jenazah. Mungkin saja ini takdirnya mencari nafkah dan rezekinya. Karena dengan menjadi sopir ambulans dia berhasil menyekolahkan satu anaknya di tingkat SMA, dan empat anaknya lagi masih sementara bersekolah.
Tidak mengenal waktu, tengah malampun dia harus siap menerima telepon masuk dan menyambungkan ke sopir-sopir ambulans di RS. Tetapi posisi sebagai operator cukup singkat dirasa Faisal, hanya beberapa bulan saja bekerja sebagai operator, dia diminta menjadi sopir ambulans pengantar jenazah dan standby 1 × 24 jam menunggu orderan. Ini menjadi tantangan baru dan harus dihadapi.
Dua RS menjadi tempat kumpulnya menunggu orderan masuk yaitu, RS Wahidin Sudirohusodo dan RS Stella Maris. Hanya beberapa jam saja menunggu orderan di awal beralihnya menjadi sopir ambulans, orderanpun masuk. Faisal yang saat itu berada di RS Wahidin Sudirohusodo diminta datang ke RS Stella Maris mengantar jenazah.
Berdua dengan kernet, dia mengantar jenazah ke rumah duka yang pada waktu itu masih dalam Kota Makassar. Tidak banyak waktu dibutuhkan, diapun berhasil jalankan tugasnya dengan baik dan lancar. Kerena jam kerjanya belum selesai, maka sesampainya di RS tidak banyak nafas ditarik usai melaksanakan tugas pertamanya. Alasannya tugasnya belum selesai dan harus kembali standby mengantar jenazah.(arf)

