MESKI sudah tidak muda lagi, M Hasbi tetap semangat untuk membahagiakan keluarganya. Usaha sembako ini sudah ia jalani selama puluhan tahun bersama istrinya, Sumarni Suparni. Selain sembako, pria setengah abad ini juga memiliki penghasilan tambahan sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT).
Penghasilan usaha sembako yang tidak seberapa diharapkan dapat menghidupi dia dan istrinya. Meskipun belum dikaruniai anak, ia tetap berharap di usianya tersebut bisa memiliki anak yang diberikan oleh Allah. “Saya tetap berdoa agar Allah bisa memberikan saya anak, meskipun usia saya dan istri tidak muda lagi,” harapnya di depan penulis.
Ia juga menceritakan kalau keberadaan Monumen Emmy Saelan di Jalan Hertasning Timur sampai sekarang belum dijaga dan dikelola secara resmi. Monumen Emmy Saelan saat ini hanya diperhatikan oleh warga-warga dengan rutin melakukan kerja bakti bersama membersihkan sampah dan rumput liar di pelataran monumen. “Selama ini kebersihan monumen dilakukan secara sukarela warga-warga yang tinggal di samping monumen. Karena jika tidak dilakukan, rumput liar semakin tinggi melewati tembok dan jelas merusak,” katanya.
Seminggu sekali warga-warga di ajak turun melakukan kerja bakti di monumen. Kerja bakti dia lakukan dengan mengangkat rumput liar menggunakan tangan, parang dan linggis. Mesin pemotong rumput belum ada.
“Dari dulu saya cari-cari siapa pengelolanya ini momumen. Kalaupun memang tidak ada pengelolanya, biarkan kami warga yang kelola. Kendala kami kalau membersihkan belum ada alat pemotong rumput mesin. Kami masih pakai parang dan tangan,” katanya.
Menurut Hasbi, ia seringkali menegur pemilik gerobak dan kendaraan yang parkir tepat di pelataran monumen.
“Saya hanya berharap mariki sama-sama menjaga kebersihan di monumen. Siapa lagi yang menjaga dan mencintai sejarah kalau bukan kita,” kata pria kelahiran Bone, 21 September 1968.
Sudah lebih 20 tahun, Hasbi Rahman bermukim di samping monumen. Ia juga dipercaya menjadi ketua RT 03-RW 13, Kelurahan Kassi-kassi. Semenjak awal tinggal di samping monumen, ia berinisiatif menjadi tenaga sukarela membersihkan monumen meskipun tanpa digaji.
Posisi rumahnya yang hanya berjarak tiga meter dari tembok monumen membuatnya cukup mudah melihat semua aktifitas di monumen mulai jika ada tamu masuk ke dalam monumen, sampai gerobak dan kendaraan yang masuk dan parkir di pelataran monumen. Semua mudah dia ketahui.
Jika kondisi monumen sudah banyak di tumbuhi rumput liar, lumut, dan sampah-sampah plastik, dia langsung turun membersihkan. Itu dilakukan hampir setiap hari dipagi dan sore hari.
Sering juga dia mengajak warganya khususnya anak-anak kecil yang bermain di monumen untuk bersama-sama membersihkan sampah-sampah secara sukarela. Dengan begitu, dia bisa mengajarkan anak-anak untuk sadar sejak dini pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Saya tidak dapat gaji bersihkan ini momumen, dan saya memang tidak permasalahkan itu. Karena kalau bukan kita lagi warga disini, masa orang lain yang turun untuk bersihkan monumen ini. Jadi setiap hari saya masuk dan kontrol kebersihan dalam monumen. Kalau kotor saya ajak anak-anak untuk sama-sama bersihkan,” sebutnya.
Menjadi kegembiraan bagi anak-anak yang sering terlibat membersihkan pelataran monumen ketika ada kegiatan atau acara di monumen. Karena sering ada uang kebersihan yang diberikan oleh pembuat acara. Uang kebersihan yang diterima Hasbi kemudian dia bagi rata dengan anak-anak untuk bersih-bersih. “Kalau ada acara bagus, biasanya kami dikasihkan uang kebersihan. Dan uang itu saya bagi raya ke anak-anak biar lebih semangat lagi bersih-bersih,” terangnya. (arf)

