MAKASSAR, BKM — Pemerintah melalui Perum Bulog berencana akan mengimpor daging kerbau sebanyak 100 ribu ton dari India. Rencana itu ditanggapi dingin oleh Pemerintah Provinsi Sulsel.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel, Abdul Azis menjelaskan, khusus di Sulawesi Selatan, sejauh ini ketersediaan atau stok dagingnya masih mencukupi. Ia mengatakan kebutuhan daging yang mendesak saat ini hanya terjadi di DKI Jakarta.
“Kita selama ini adem-adem saja, belum mengkhawatirkan. Ketercukupan produksi lumayan banyak dan harga yang tidak terlalu naik,” kata Azis saat ditemui di Kantor Gubernur Sulsel.
Menurutnya, jika dilakukan impor, akan memengaruhi harga yang ada di pasaran dan membuat rugi peternak lokal. Kalau pun dilakukan impor, pihaknya memastikan Sulsel tak akan mendapat jatah.
“Jangan sentuh pasar tradisional. Boleh saja masuk tapi cukup di hotel. Supaya tidak memengaruhi produksi dan harga. Selama ini juga harga tak pernah jadi masalah, di kisaran Rp80-90 ribu per kg,” jelasnya.
Sebagai salah satu produsen sapi potong, tahun ini Sulsel menargetkan dua juta ekor. Untuk memenuhi produksi tersebut, mulai tahun 2017, pemerintah menetapkan program Upaya Khusus Sapi Kerbau Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB).
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo juga mengatakan, selama ini Sulsel mampu berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan daging di Kawasan Indonesia Timur. Dia berharap, ke depan, produksi Sulsel bisa lebih tinggi lagi.
“Kita punya target pencapaian populasi dan produksi dua juta ekor sapi dan kerbau di Sulsel tahun 2018,” jelas Syahrul.
Dia menekankan, jika permintaan daging terus meningkat, bisa saja beberapa tahun ke depan Sulsel bukan lagi daerah produsen melainkan konsumen. Apalagi pemotongan di Sulsel cukup tinggi yaitu 120 ribu ekor lebih setiap tahunnya. (rhm)

