MAKASSAR, BKM– Hari kasih sayang atau disebut valentine days hingga kini masih dirayakan kaum muda-mudi. Berbagai kegiatan sering digelar untuk merayakan momen spesial yang jatuh setiap 14 Februari.
Tiga hari menjelang valentine, Front Pembela Islam (FPI) Sulawesi Selatan melalui Dewan Syuroh FPI Sulsel, Abu Thoriq meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak merayakan valentine. Alasannya, valentine atau hari kasih sayang merupakan sebuah momen yang sama sekali tidak berfaedah.
“Saya sudah sering mengingatkan dan meminta kepada umat muslim untuk tinggalkan budaya batil itu. Untuk apa valentine yang diciptakan orang batil ikut dirayakan setiap 14 Februari. Hanya orang kafir saja merayakan itu,” sebut Abu Thoriq, Minggu (11/2).
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, FPI Sulsel tetap akan turun melakukan pengawasan aktifitas umat muslim di momen valentine. Pengawasan dilakukan di titik-titik yang diketahui sering dijadikan sebagai tempat peryaaan valentine. Dan kegiatan tersebut untuk mengingatkan umat muslim untuk tidak merayakan valentine.
“Buat umat Islam, janganlah ikut dengan alur-alur yang diciptakan oleh orang-orang tidak beriman. Ikutilah alur umat muslim sesuai yang ada dalam al quran dan hadis. Dan tahun ini pengawasan tetap kita lakukan. Kita akan turun,” tegasnya.
Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar juga mengimbau seluruh masyarakat untuk mengawasi para kaum muda-mudi untuk tidak menyalahartikan momen hari kasih sayang (Valentine Day), dengan melakukan tindakan luar batas.
Menurut Ketua Komisi D DPRD Makassar, Sampara Sarip, seluruh lapisan masyarakat baik pihak sekolah dan keluarga perlu mengawasi gerak gerik anaknya yang sedang beranjak dewasa. Sebab tingkat hamil dilaur nikah seringkali terjadi di Makassar.
“Jangan sampai moment valentine dari kebudayaan barat mereka salahartikan disini, dengan berbuat yang tidak-tidak. Apalagi, sudah banyak kasus di Makassar anak remaja hamil diluar nikah. Makanya orangtua dan seluruh masyarakat perlu mengawasi kaum muda ini,” tegasnya dikonfirmasi, Minggu (11/2).
Lanjut Legislator Fraksi PPP ini mengatakan, pemerintah juga perlu mengeluarkan larangan baik kaum muda untuk melakukan kegiatan valentine serta melakukan razia disejumlah wisma, kos-kos dan hotel tempat dimana kaum muda merayakan perayaan tersebut.
“Bukan hanya penjualan kondom yang perlu diperketat tapi semua tempat perlu diawasi. Ini zaman dimana anak muda tidak pernah berpikir panjang jadi perlu kita awasi,” katanya.
Terlebih lagi menurut Sampara pada perayaan tersebut anak muda masih melakukan aktivitas bersekolah, sehingga edaran ini perlu disebarkan di sekolah-sekolah dan ketatkan penjagaan di sekolah.
“Tidak boleh dibiarkan siswa keluyuran diluar sekolah. Makanya sekolah harus sosialisasi ke siswa untuk tidak merayakan moment tersebut,” ujarnya.
Hal yang sama juga dikatakan Legislator Gerindra, Lisdayanti bahwa saat ini anak muda dalam kondisi yang labil, sehingga sangat mudah terpengaruhi oleh lingkungan dan tren yang saat ini. Sehingga penanam rohani perlu ditnamkan ke kaum muda sebagai solusi untuk mengantisipasi kegiatan tidak diinginkan terjadi.
“Anak-anak kita saat inikan yang sedang tumbuh dewasa sedang mencari jati dirinya, masih mengikuti teman-temnnya berbuat begini begitu. Kalau saya untuk mencegah mereka meryakan valentine ini dengan penanam rohani disekolah saja,” katanya.(arf)

