pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Tak Ingin Cucu-cucunya Jadi Pengemis

TINGGAL bersama istrinya, nenek Sia 58 tahun, kakek Bandi juga harus mengalami pahitnya kehidupan tidak hanya dihantui banjir setiap tahun. Ternyata Kakek Bandi harus mampu menghidupi ke delapan cucunya, dengan pekerjaan sebagai buruh bangunan.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

“Bukan ji banjir yang saya pikirkan karena sudah setiap tahun mi begitu, tapi cucuku kasian mereka kadang tidak bisa sekolah karena pakaiannya basah. Apalagi gajiku tidak cukup yang hanya buruh bangunan dan terkadang tidak menentu. Sedangkan anak-anakku titipkan semua anaknya disini,” bebernya.
Jangankan membiayai sekolah dan kebutuhan ke delapan cucunya, Kakek Bandi sudah banting tulang setiap harinya harus menghidupi istri dan cucunya setiap hari dengan upah sebagai buruh sebesar Rp920 ribu setiap bulannya. Bahkan ia sudah bersyukur jika dalam sehari mampu membeli beras dua liter untuk keluarga kecilnya.
“Sayakan buruh di daerah, terakhir di Bone. Jadi uang saya dapatkan harus saya sisihkan untuk pulang dan untuk beli beras dan lauk. Saya berangkat kerja subuh hari kalau pulang jam 11 malam,” katanya.
Ia juga tidak mau membuat susah anak-anaknya untuk meminta bantuan apalagi meminta uang, sebab ia merasa masih mampu menghidupi kebutuhan untuk istri dan cucunya. Ia juga berpikir jika ia meminta uang kepada anak-anaknya sedangkan anak-anaknya sendiri harus menghidupi keluarganya masing-masing.
“Anak saya ada lima tapi semua punya kelurga sendiri, cuman satu anak saya disini itupun tidak kerja karena bisu. Ada juga sudah cerai, itumi dia titip anaknya sama saya ada juga yang merantau jauh dan ada juga yang di Gowa. Tidak pernah saya minta uangnya anak-anakku, kalau mereka kasih saya bilang kasih saja uang jajan untuk cucu-cucuku,” terangnya.
Dibebani tuntutan hidup diusianya yang sudah tidak kuat lagi, Kakek Bandi dan Nenek Sia merasa mengasuh cucu-cucunya bukan sebagai beban, justru itu membuat dirinya terpacu untuk bekerja. Sebab bukan hanya untuk dirinya dan istrinya melainkan juga buat cucu-cucunya.
“Saya bersyukur masih kuat untuk bekerja, kalau ada uang saya kasih jajan cucuku, beli beras, bayar listrik itu sudah lebih dari cukup mi buat saya,” ujarnya.
Ia juga tidak mau cucu-cucunya mengemis ke orang-orang seperti anak-anak yang lain. “Ketika sudah tidak dihiraukan orangtuanya mengemis mi di jalan, tidak maukah seperti itu,” tambahnya.
Diumurnya 62 tahun, Kakek Bandi sudah terbiasa menghadapi banjir dirumahnya selama 18 tahun lebih. Tidak hanya itu, di rumah panggung yang ukurannya tidak terlalu besar dan serba keterbatasan karena dindingnya terbuat dari gabungan seng dan tripleks harus menampung seluruh cucunya sebanyak delapan orang.
“Kalau hujan mi tiga hari berturut-turut tidak berhenti, pasti banjir mi disini. Kalau begitu saya suruh cucu-cucu dan anakku siap-siap mengungsi dulu di rumahnya anakku di Gowa,” ungkapnya saat ditemui memantau rumahnya yang kebanjiran.
Selama 18 tahun rumahnya terkena banjir, hanya satu kali mendapatkan bantuan dari PMI berupa bantuan kebutuhan pokok dan alat mandi di tahun 2013. Namun semenjak itu tidak satupun bantuan ia dapatkan baik dari pihak keluarahan dan kecamatan.
“Tidak pernah ada bantuan kalau dari pemerintah, Pernah ji satu kali tapi dari PMI bagi kebutuhan makanan karena waktu itu banjir besar sudah 2 meter lebih kayaknya,” ucapnya.
Lanjut Kakek Bandi bercerita, jika tinggi air sudah sepinggul orang dewasa, ia bersama istri dan cucunya harus makan seadanya dan dibagi rata, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Kadang kodong habis pulang sekolah pergi bantu neneknya menjual lauk, nanti dikasih uang jajan kalau sudahmi cuci piring atau bersih bersih warung,” tuturnya.
Selain itu Kakek Bandi dan Nenek Sia berharap bantuan pemerintah tidak hanya bantuan ketika rumahnya mengalami kebanjiran. Melainkan untuk cucu-cucunya yang sedang bersekolah minimal biaya sekolah hingga cucunya lulus sekolah menegah atas. (*)



×


Tak Ingin Cucu-cucunya Jadi Pengemis

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar