SIANG KEMARIN di sepanjang Jalan Bitowa, penulis sempat mendengar suara bising dari mesin pemotong rumput. Suara tersebut silih berganti dengan suara bising kendaraan. Tampak Ilham Suhadi, sedang serius menjalankan tugasnya sebagai satuan tugas (Satgas) kebersihan di Kelurahan Bitowa, Kecamatan Manggala.
PENULIS: JUNI SEWANG
Terlihat biasa, namun atas perannya memberikan dampak yang besat terhadap kebersihan agar terlihat indah dan tertata.
Penulis menyempatkan memandangi Ilham Suhadi yang sesekali meneguk air putih yang tersimpan dalam botol mineral yang sudah usang. Mukanya yang terlihat lelah sambil mengibaskan topinya ke arah badannya karena cuaca kemarin termasuk panas.
Perbincangan mulai terjadi antara penulis dan Ilham. Pria kelahiran 13 September 1988 ini mengaku baru setahun ini bergabung dengan petugas kebersihan Kelurahan Bitowa. Sebelumnya Ilham bergabung dengan perusahaan swasta yang ditugaskan untuk memotong rumput di kawasan perumahan.
“Baru setahun ini saya menjadi petugas kebersihan di Kecamatan Manggala. Tak terasa sembilan tahun saya ikut bekerja di perusahaan swasta sebagai petugas pemotong rumput juga,” katanya.
Saat itu, bosnya menyuruh memotong rumput diberbagai tempat termasuk di Kampus Unhas dan Perumahan Bukit Baruga. Ia bergabung sebagai petugas kebersihan di Kelurahan Bitowa setelah mendapat informasi dari temannya, sehingga ia memberanikan diri mendaftar dan langsung diterima.
Selain tugas pokoknya sebagai petugas pemotong rumput di Kelurahan Bitowa, Ilham juga terkadang diperbantukan di kelurahan lainnya di Kecamatan Manggala.
“Saya ditugaskan di Kelurahan Bitowa, tapi kalau ada kerja bakti di Kelurahan manapun di Kantor Kecamatan Manggala, saya diarahkan kesana untuk di perbantukan,” kata Ilham.
Dalam pekerjaannya tersebut Ilham sudah merasa bersyukur dan senang dapat bergabung sebagai petugas kebersihan Kecamatan Manggala, dengan insentif sebulan Rp2,050.000. “Saya bersyukur sama Allah telah memberikan rezeki sebagai petugas kebersihan. Honor yang saya terima sudah cukup untuk menafkahi istri dan dua anakku,” katanya.
Ilham juga mengaku, aktifitasnya dimulai pukul 07.00 pagi hingga pukul 10.00. Ia kembali ke rumahnya di Jalan Lomori Antang Kompleks Perkuburan Islam untuk beristirahat, kemudian kembali beraktifitas pukul 14.30 sampai 18.00.
“Setiap hari keluar rumah jam 7 pagi sampai jam 10, pulang istirahat. Peralatan saya bawa pulang, di kantor ditanggung biaya perawatan, pisau pangkas, ganti busi mesin dan karburator. Untuk mata pisau (tasi) biasa dalam satu hari habis satu gulung kecil,” jelasnya.
Dalam pekerjaannya Ilham dilengkapi seragam dan perlengkapan safety mulai dari sepatu untuk menghindari dirinya terkena benda benda tajam seperti paku, pecahan kaca. “Kalau perlengkapan bekerja semua siap dari rompi, sampai sepatu untuk menghindari ditusuk paku, atau pecahan kaca, untuk menghindari kecalakaan dalam bekerja. Dihindari saja masih sering kena paku dan beling, belum lagi batu yang mengenai betis,” ujar Ilham.
Ditanya dukanya menjadi pemotong rumput, meski hujan tetap melaksanakan tugas. Tapi sukanya, jika sudah mau menerima honor sebulan dan menyerahkan ke istri.(jun)

