pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Hapus Stigma Negatif Mantan Napi

APA yang terbersit di benak kita ketika mendengar sebutan mantan napi? Ada banyak persepsi yang muncul. Sebagian diantaranya mungkin berkonotosi jelek. Solidaritas Eks Narapidana Indonesia (SENI) mencoba menepis stigma itu.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

PADA sebuah kafe di Jalan Adhyaksa. Seorang pria berkacamata mengenakan jaket abu-abu tampak duduk di salah satu sudut. Kalung perak berukuran besar dan panjang menggantung di lehernya. Dua buah anak kunci ada di kalung itu.
Dia adalah Hasanuddin Tahir. Karib disapa Pak Tatang. Pria usia 66 tahun ini adalah Ketua Solidaritas Eks Napi Indonesia (SENI).
Saat BKM datang di kafe tersebut, Pak Tatang langsung menyambut dan memberikan tempat sendiri untuk mewawancarainya. Kala itu ia bersiap hendak menggelar rapat dengan rekan-rekannya.
Suaranya agak pelan, namun begitu detil saat menjelaskan. Apalagi saat berbicara mengenai para mantan napi, ia tampak bersemangat menyuarakan hak-hak para mantan penghuni sel yang tergabung di SENI.
Tak bisa dipungkiri bahwa stigma negatif telah melekat di masyarakat terhadap para mantan napi. Hal itulah yang berusaha dihapus oleh Pak Tatang dan teman-temannya. Sebab, tindak kejahatan yang dilakukan mantan napi adalah masa lalu yang tak boleh mendiskreditkannya di masa kini. Apalagi masa depannya.
Bagi Pak Tatang, orang yang pernah berada di balik jeruji besi bukanlah penjahat. Mereka berhak atas kehidupan yang bebas, tanpa merasa terkucilkan oleh masyarakat sekitar.
Karena itulah, di tahun 2008 silam dibentuklah SENI. Sebuah organisasi untuk menaungi para mantan napi.
Dalam ruangan kafe yang dipenuhi buku-buku itu, Pak Tatang mencoba menjelaskan tentang diri pribadinya. Suami dari Nur Asyiah ini mengatakan jika kini ia dan keluarganya tinggal di Jalan Kandea, Makassar. Pak Tatang merupakan bapak dari lima orang anak yang telah sukses di pekerjaannya masing-masing.
“Organisasi ini (SENI) memang sengaja saya bentuk, tidak lain tidak bukan untuk menyuarakan hak-hak para mantan napi yang biasa dianggap sampah masyarakat. Padahal kalau dilihat, mereka juga punya keterampilan. Mereka juga kreatif. Janganlah kita mengucilkannya,” kata Pak Tatang.
Anggota SENI adalah mereka yang baru keluar dari tahanan. Mereka akan diberdayakan, diarahkan pekerjaannya, dan dibangkitkan ekonominya. Sehingga jiwa sosialnya akan tumbuh kembali. Kelak diharapkan akan memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar.
“Kita mau lihat Makassar ini aman, makanya saya bina mereka. Di Indonesia ini, ada berapa narapidana? Mereka itu harus diberdayakan. Supaya mereka punya keahlian dan tidak membuat resah masyarakat. Dengan begitu, mereka akan menunjukkan bahwa dirinya juga bisa berkontribusi,” terangnya.
Walaupun Pak Tatang yang mendirikan organisasi ini dan ia sendiri yang menjadi ketuanya saat ini, namun dirinya sama sekali bukan mantan narapidana. Ia dulunya adalah seorang jurnalis yang dekat dengan masyarakat dan mengerti berbagai isu sosial.
Pak Tatang begitu mengerti akan kondisi sosial masyarakat dan persepsi orang tentang mantan napi. Makanya, ia menunjukkan kepeduliannya dengan membentuk organisasi ini. (*/rus/b)



×


Hapus Stigma Negatif Mantan Napi

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar