pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Berharap Bisa terangkat Jadi ASN

MASUK menjadi tenaga sukarela di Dinas Kebudayaan Kota Makassar dengan tugas sebagai tukang bersih di Museum Kota Makassar membuat Wawan memiliki harapan besar untuk bisa terangkat aparatur sipil negara (ASN).

Laporan: ARIF AL QADRY

Wawan dengan nama lengkap Wawan Abdullah adalah satu satunya tukang bersih museum kota yang sudah lebih dua tahun mengabdikan diri. Bagi pria kelahiran Ujung Pandang, 4 Agustus 1972 itu, waktu dua tahun yang dilalui membutuhkan kesabaran serta perjuangan.
Telat mendapatkan insentif bulanan sebesar Rp500.000 menjadi duka baginya. Di mana ketika insentifnya telat dibayarkan, ia terpaksa harus mencari pinjaman uang untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Kalau tidak, maka keluarganya tidak makan.
“Kalau jadi PNS sudah lebih jelas pendapatannya setiap bulan. Kalaupun terlambat, setidaknya nilainya tinggi ji jadi ada diharapkan dan bisa ada yang tabung untuk anak-anak,” sebut Wawan.
Sebelum menjadi tukang bersih museum kota, dulunya Wawan berprofesi sebagai juru parkir (Jukir) di depan Rumah Makan (RM) di Jalan DR SAM Ratulangi. Dibantu dua orang anggotanya, sejak pagi sampai malam Wawan mengatur dan menjaga kendaraan-kendaraan parkir di wilayahnya.
Perbandingan penghasilannya ketika masih menjadi Jukir dan menjadi tukang bersih museum kota sangat terasa bedanya. Dulu Wawan mampu membawa pulang uang tiap hari sebesar Rp50.000, kalau kendaraan sedang ramai-ramainya datang. Sedangkan menjadi tukang bersih di museum kota sudah jelas besaran pendapatan diterima setiap bulan, tetapi kadang terlambat dibayarkan.
“Masing-masing ada baiknya. Kalau jadi tukang bersih museum kota sudah jelasmi berapa banyak gaji saya dapat setiap bulan, beda dengan menjadi jukir kadang sepi kadang juga ramai. Tetapi tidak pernah ji telat dibayarkan ki sampai-sampai empat bulan,” cetusnya.
Awal Wawan menjadi tukang bersih ketika dirinya dapat tawaran dari keluarganya menjadi tenaga sukarela di Dinas Kebudayaan Kota Makassar yang bertugas sebagai tukang bersih. Disitulah di tahun 2016 dirinya menerima tawaran tersebut hingga sampai sekarang bekerja jadi tukang bersih museum.
“Siapa yang tidak mau menjadi PNS, pastilah saya harap juga suatu saat nanti kalau rejeki bisa terangkat menjadi PNS. Itulah harapan saya,” tambahnya.
Menyapu dan mengumpulkan seluruh sampah dedaunan yang berserakan di halaman museum menjadi pekerjaan rutin setiap hari dilakukan dimulai dari pukul 06:00 pagisampai dengan pukul 12:00 siang.
Di pagi buta usai meneguk kopi hitam buatan istrinya, Wawan mulai bergegas beranjak meninggalkan rumahnya di Jalan DR SAM Ratulangi mengendarai sepeda motor tuanya ke Jalan Balai Kota untuk memulai aktivitasnya.
Di museum, Wawan bekerja seorang diri, agar tanggung jawabnya dapat selesai sebelum museum ramai dikunjungi pengunjung dan pegawai, Wawan harus lebih cepat turun menyapu dan mengumpulkan sampah-sampah yang ada untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran besar.
Halaman depan museum menjadi tempat pertama Wawan memainkan sapunya dan sekop sampah.
Setelah halaman depan museum telah bersih, bapak tiga orang anak lanjut membersihkan bagian samping dan belakang halaman di museum. Tidak ada peralatan khusus digunakan, cukup sapu lidi, sekop sampah dan kantong plastik sudah dapat menunjang aktivitasnya.
“Istirahat kalau sudah jam 12:30 sekalian siap-siap pulang ke rumah. Tapi kalau tiba-tiba dapat panggilan atau tugas tambahan mau tidak mau harus dikerjakan. Kalau tugasku area halaman saja,” kata Wawan kepada penulis yang ditemui di halaman Museum Kota Makassar.
Membersihkan halaman museum dilakukannya setiap Senin-Jumat sesuai jadwal masuk kantor pegawai.
Besaran upah yang diterima Wawan setiap bulan dirasa pedih untuk menutupi biaya hidup bersama keluarganya. Pertengahan bulan ketika beras sudah habis, ditambah lagi tagihan listrik dan airnya masuk, Wawan terpaksa harus berkeliling mencari pinjaman uang ke tetangga dan keluarganya agar tetap bisa memenuhi kebutuhan dan keperluan. Sementara gaji setiap bulannya sering dibayarkan setiap per tiga bulan.
“Seperti sekarang ini sudah banyak mi pinjamanku, gaji ku sudah tiga bulan belum dibayarkan. Kalau tidak cari pinjaman, saya dan keluargaku tidak makan, kasihkan anak-anakku. Saya harapkan selain gaji dibayar tepat, berikan juga gaji yang layak apalagi biaya hidup di Makassar sudah mahal,” katanya. (arf)



×


Berharap Bisa terangkat Jadi ASN

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar