pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Mengendarai Motor Tua Menyusuri Lorong

USAHA apapun, kerjakanlah. Asalkan halal, semua pasti memiliki berkah tersendiri. Karena usaha bukan hanya kerja keras, namun dibarengi pula dengan ikhtar dan sedekah. Hal itupun yang dilakoni St Khotimah, penjual nasi keliling.

Laporan: NUGROHO

Pagi itu, penulis didatangi oleh seseorang ibu-ibu yang cukup berumur. Ia menawarkan sebungkus nasi kuning. Ia menjualnya cukup murah, hanya Rp5.000 saja. Tak asing dengan sosoknya, penulispun mencoba menanyainya lebih dalam.
Memang tak asing, penulis selalu melihatnya disekitaran Jalan Daeng Tata mondar mandir mencari pelanggan yang ingin sarapan. Ya, Khotimah memang selalu menjajakkan nasi kuning buatannya setiap pagi sampai siang hari. Tidak hanya menetap di satu tempat, ia pergi dari rumah ke rumah warga.
Sehari-harinya mengendarai sepede motor tua menyusuri sudut tempat di kota ini termasuk di dalam lorong-lorong. Dengan pakaian lusuh dan sedikit compang-camping, ia tak pernah lelah menjajakan nasi kuning buatannya.
Tampilannya amat sederhana, wanita 60 tahun ini setia berkeliling dari Jalan Cendrawasih, sampai ke sekitar Jalan Malengkeri, Makassar. Bukan hanya nasi kuning yang dijualnya, ada juga nasi campur, tempe, tahu, dan kerupuk.
Di belakang motor tuanya, ada wadah jualan yang terbuat dari kayu yang ia desain sendiri. Didalamnya, semua jualannya ia bawa disitu. Terlihat tampak berat, namun baginya itu biasa saja.
“Ya kelihatannya berat ya dek, saya sudah biasa, jadi biasa saja,” jawabnya sambil sedikit tertawa.
Ia biasa mengenakan pakaian yang dibalut dengan kerudung. Dilengkapi dengan caping andalannya, Khotimah tak kenal cuaca. Penulis kadang melihatnya mondar-mandir setiap pagi, bahkan disaat hujan sekalipun. Semangatnya pun sulit dibahasakan, begitu terharu ketika mendengar kisahnya.
Namun apa yang dilakukannya, bukanlah kesia-siaan dalam hidupnya. Walaupun hanya seorang penjual nasi kuning keliling, siapa sangka ia telah menunaikan ibadah haji dari hasil jualannya. Bukan hanya itu, rumahnya kini yang berada di Jalan Tanjung Palette, ia beli dari hasil jualan keliingnya.
Sedari pagi sekitar pukul 07.00, ia sudah harus keluar mencari nafkah. Setelah berkeliling, sekitar jam 12.00 siang, ia kembali lagi kerumahnya untuk beristirahat dan mengurus suaminya. Setelah siang, saatnya ia menjadi ibu rumah tangga kembali untuk keluarganya.
Suami Khotimah yang bernama Nurkhalis adalah seorang pemimpin zikir. Kesehariannya ya berzikir, apalagi jika ada acara keagamaan yang membutuhkan jasanya. Tak memiliki gaji tetap.
Anaknya ada empat, beberapa telah berkeluarga. Cucunya ada enam. Anak pertamanya bahkan mengikuti jejaknya menjadi penjual nasi kuning keliling. Beberapa anaknya lagi berhasil ia kuliahkan hingga selesai.(nug/war/b)



×


Mengendarai Motor Tua Menyusuri Lorong

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar