MEMBACA adalah kegiatan yang sangat mudah diakses, bermanfaat, dan positif bagi masyarakat. Begitulah alasan Dajju hingga ia akhirnya melakukan gerakan melalui literasi.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
“KALAU melalui olahraga, kita harus siapkan lapangan. Kalau membaca kan sediakan buku saja, jadi lebih mudah. Membaca juga bermanfaat besar. Jadi saya coba memberikan manfaat melalui buku,” begitu Anhar Dana Putra memberi perumpamaan akan aktifitasnya yang dilakoninya kini.
Lelaki berkacamata yang karib disapa Dajju ini pun tak asal-asalan dalam melaksanakan gerakannya. Ia terlebih dahulu melakukan riset mengenai kondisi literasi di Barru. Hasilnya cukup mencengangkan.
Menurutnya, anak remaja di daerah ini memiliki daya baca yang sangat rendah. Untuk usia remaja yang harusnya memiliki tingkat ingin tahunya yang tinggi, malah hanya satu sampai dua buku saja yang mereka baca. Tentu kondisi remaja di kampung halamannya itu membuatnya amat prihatin.
Setelah diteliti lebih jauh, ternyata anak-anak remaja itu bukan malas membaca, namun lebih pada masalah akses. Akses buku yang sampai di Barru dinilai masih kurang untuk menunjang budaya literasi di sana.
“Mereka bukannya malas membaca, tapi akses bukunya yang menjadi kendala. Bagaimana orang mau membaca kalau jarang ada buku,” begitu ujarnya.
Untuk itu, ia kemudian menginisiasi hadirnya Gerakan Literasi #BarruMambaca. Tak lain dan tak bukan adalah untuk memerangi kondisi seperti itu.
Setelah berdiri dua tahun lalu, kini hasilnya pun mulai nampak.
Dulu dirinya yang menginisiasi, kini malah masyarakat di sanalah yang mulai bergerak untuk kemajuan literasi.
“Awalnya kan kita mulai hanya dengan 100-an buku. Sekarang malah masyarakat disana yang mulai membantu kita. Banyak dari mereka yang mendonasikan buku-bukunya. Jadi istilahnya dari masyarakat untuk masyarakat. Alhamdulillah, sekarang buku kami sudah ada 600-an,” sebutnya.
Selain itu, tambah dia, masyarakat di sana juga kerap membantu dengan meminjamkan mobilnya jika Dajju hendak melakukan kegiatan. ”Anak-anak remajapun kini sudah mulai ramai yang tergerak untuk membaca. Ini berkah tersendiri tentunya,” terangnya.
Komunitas ini pun kini memiliki program yang rutin dijalankan. Ada tiga program utama, mulai dari yang dilaksanakan tiap minggu, sampai yang digelar setahun sekali.
Selain Pop-up Library yang dilaksanakan tiap akhir pekan, ada juga book traveling. Book traveling ini biasa mereka laksanakan dua sampai tiga bulan sekali. Tujuannya pun adalah desa-desa terpencil yang ada di Kabupaten Barru.
“Kita biasa ke desa-desa terpencil yang ada di Barru. Kita bawa buku ke sana. Untuk anak-anak biasa kita ajarkan menggambar, nonton bareng, dan tentu kita beri motivasi membaca,” kata Dajju.
Agenda rutin mereka lainnya yang lakukan adalah book camp. Kegiatan ini cukup unik karena melibatkan alam. Mereka biasa membuat camp di beberapa tempat, seperti pantai. Di sana dibuat kelas, mengajarkan literasi, sampai belajar mengelola komunitas. Kegiatan ini pun biasanya dilakukan setahun sekali.
Bacaan yang disediakan Dajju dan komunitasnya adalah buku anak-anak sampai buku dewasa. Ada buku anak-anak, fiksi, non fiksi, essai, cerpen, sastra, dan novel. Tujuannya, karena ingin mengcover semua umur untuk bisa lebih meningkatkan daya bacanya.
Saat ini, anak-anak remaja di Barru telah lebih sadar akan pentingnya literasi. Jadi walaupun terkadang Dajju tak ada di lokasi, mereka bisa menggerakkan diri mereka sendiri sekaligus orang lain.
Dan hal itulah yang diinginkan Dajju. Komunitasnya bisa lebih berkembang, dan budaya literasi di kalangan masyarakat Barru juga lebih berkembang. (*/rus/b)

