SETELAH ayam berkokok di subuh hari, Fajrin sudah menunggu agen penyalur koran di bawah traffik light Jalan Hertasning. Jumlah koran yang dia peroleh dari penyalur disesuaikan dengan hasil penjualan kemarin. Setiap pukul 06.00 pagi ia sudah meninggalkan rumahnya dari Alauddin bersama ibundanya, sambil berjalan kaki.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Fajrin sangat berharap ada uluran tangan seseorang untuk menjadikannya orang tua asuh agar bisa bersekolah kembali.
Suara dari bocah kelahiran Makassar, 31 Desember 2006 ini sangat menggema ketika menawarkan jualan korannya sambil mengayungkan senyuman dan tiga jarinya kepada para pengendara. Tiga jari bermakna harganya Rp3.000 setiap satu koran.
Panas terik mentari di Kota Makassar yang membakar kulit, tak membuat Fajrin mengeluh dan tidak melunturkan semangat Fajrin untuk mengumpulkan uang demi membantu orang tuanya. Bahkan di saat teman-teman seusianya bersekolah, Fajrin lebih memilih membantu orangtuanya mengumpulkan pundi-pundi uang, ketimbang uang tersebut digunakan untuk membeli seragam sekolahnya.
Ditanya mengapa tidak membeli seragam hasil jualan korannya, Fajrin menjawab, “tidak cukup untuk membeli makanku sama ku kasih mamaku beli beras nanti,” jawab polosnya.
Bahkan bocah sekecil ini hanya berpikir bagaimana ia bisa makan untuk hari ini beserta keluarganya. Dia tidak mampu berpikir besok bagaimana, masa depannya jadi apa, yang dia kejar adalah bagaimana dia menghabiskan korannya hari ini.
Fajrin mengaku jika sehari-hari ia biasa menerima 100 eksemplar koran yang kemudian dijualnya. Hasil penjualan koran, kemudian dibagi dengan sang agen. Dia mendapat jatah seribu per eksemplar, sementara agen mendapat duaribu. “Biasa ku dapat Rp20 ribu atau Rp10 ribu ji. Tapi biasa juga banyak yang kasih-kasihkah orang yang lewat,” katanya.
Penghasilannya sebagai penjual koran menurutnya sudah lebih dari cukup. Belum lagi ia harus bersembunyi tak kala ada satpol PP yang sedang razia, sudah sering ia di giring Satpol PP namun ketika bebas ia kembali menjajaki korannya di jalan.
“Sering kah biasa na ambil kalau ada lewat sini. Tapi Biasa kah juga sembunyi karena tidak na biarkan ki menjual bede,” sembari tersenyum.
Selama ini, belum sekalipun Fajrin mendapatkan perhatian apalagi bantuan dari pemerintah setempat sekalipun dirinya selalu mendapat juara dan rangking di kelasnya.
“Mau ka sekolah. Kalau sekolahka kelas 6 masekarang,” bebernya.
Bahkan Fajrin sangat menyukai seluruh mata pelajaran terutama matematika. Sewaktu sekolah dirinya tidak ingin bermain sebelum menuntaskan pekerjaan sekolah. Dirinya giat untuk belajar tidak hanya di sekolah, teman-teman sebayanya di tempat penjualan koran juga mengakui kecerdasan Fajrin.
“Putus mi kak sekolahku, sampai kelas empat SD ji,” akunya. Ditanya mengapa tidak bersekolah lagi, Fajrin mengaku seragam sekolahnya sudah tidak ada setelah rterbakar bersama rumahnya.
Meski dalam kondisi itu, dirinya tetap ikhlas putus sekolah guna membantu perekonomian orangtuanya kembali pulih.
“Kalau sekolah ka nanti tidak ada yang bantu mama dan bapakku cari uang. Tidak bisa mi na kasih sekolah ka karena tidak bisa beli seragam dan biaya sekolah,” katanya. Waktuku sekolah selalu ka juara di sekolah dan rangking 1 atau 2 di kelas. Mata pelajaran yang kusuka matematika, hitung-hitung itu,” tambahnya.
Selain itu, anak ke empat dari lima bersaudara ini juga, mempunyai cita-cita sebagai tahfiz Alquran, makanya seusai menjual koran ia menyempatkan dirinya untuk pergi ke Tempat Pengajian Anak (TPA) di dekat rumahnya. Seusai pulang dirinya juga harus membantu orangtuanya di rumah bersama kakaknya yang lain.
“Pulangka nanti ini pergi mengaji, mau kah hapal semua Alquran. Nanti pulang pergi ka lagi bantu mamaku di rumah karena biasa sakit adekku,” ujarnya.(ita)

