RADEN Ajeng (RA) Kartini kini telah abadi di haribaan Sang Maha Pencipta. Emansipasi wanita yang diperjuangkannya telah berbuah hasil. Tidak sedikit perempuan telah berhasil dengan kiprahnya di bidang masing-masing.
Dalam diskusi Mempoki di BKM, Jumat (20/4), empat ‘Kartini’ pendidikan zaman now di Makassar dihadirkan. Masing-masing Kepala SD Negeri Unggulan BTN Pemda Dr Andi Agusniati, MPd, Kepala SMPN 30 Hijriah Enang,SPd,MPd, Kepala SMAN 10 Dra Hj Husaifah,MSi, dan Kepala SMKN 8 Dr Hasnah Baharuddin, MPd.
Dipandu moderator Rahmawati Amri, keempatnya secara bergantian memaparkan apa yang telah dilakukannya selama memimpin sekolahnya masing-masing. Pentingnya pendidikan karakter serta budi pekerti bagi anak didik mendapat penekanan khusus dari para Srikandi ini. Termasuk prestasi yang telah ditorehkan sekolahnya masing-masing.
Kehadiran pemangku kepentingan dari tiga jenjang yang saling terkait satu sama lain ini, setidaknya membuka pemahaman bahwa pendidikan karakter tidak boleh terputus. Mulai dari tingkat Sekolah Daerah (SD), SMP hingga SMA dan SMK.
”SD adalah dasarnya pendidikan. Pada tingkat inilah, siswa mendapat dasar pengembangan karakter. Karena itu, pendidikan karakter menjadi fokus perhatian saya selama memimpin SD Negeri Unggulan BTN Pemda Makassar,” ungkap Andi Agustiani.
Datang dengan mengenakan kebaya warna coklat dipadu bawahan serta jilbab warna senada, kepsek yang karib disapa Andi Agus ini pun menerangkan tentang program karakter yang diterapkan di sekolahnya. Dirinya selalu menekankan kepada guru-gurunya agar selalu mendidik siswa dengan baik. Mulai dari mengajari siswa cara berpakaian, cara berbicara, sampai cara makan.
“Anak SD kita tahu sendiri bagaimana. Tapi kita selalu berusaha untuk mengajari mereka secara sungguh-sungguh. Mulai dari cara makan misalnya. Guru selalu menekankan kepada siswa bahwa jika sedang makan, maka harus duduk. Dan lebih diutamakan lagi jika makan sambil duduk bersama gurunya,” kata Agusniati.
“Kalau bicara sama guru juga kita ajari untuk tidak secara sembarangan. Biasanya kita ajari untuk duduk terlebih dahulu, lalu kemudian mulai bicara dengan gurunya,” tambahnya.
Karena target sebenarnya adalah menciptakan sekolah dengan karakter berbasis kelas, karakter berbasis sekolah, dan karakter berbasis masyarakat.
Tak lupa pula dirinya selalu mengarahkan siswa kepada nilai-nilai religius. Misalnya saja para siswa semenjak dini sudah diajarkannya beristighfar, membaca syahadat, membaca doa-doa hingga menghafal asmaul husna.
”Tiap hari saat jam 9 pagi, anak-anak ini harus melaksanakan salat dhuha. Tak lupa membaca shalawat. Anak-anak di SD ini juga telah diajari shalat berjamaah,” terangnya.
Yang lebih unik lagi, anak-anak di SD ini diharuskan menghafal beberapa surah pendek. Jika ada yang tak dihafalnya, maka siswa tersebut bakal tak bisa mengambil rapor miliknya. Hal ini tentu sangat baik bagi perkembangan akhlak pada anak-anak.
Selain pada siswa, Agusniati ternyata juga fokus pengembangan para guru-gurunya. Hal itu sangat wajar, karena gurulah yang menjadi bagian dalam perkembangan karakter anak-anak.
Guru-guru diharuskan mengajar menggunakan LCD proyektor. Jadi yang aktif menjelaskan bukan lagi gurunya, melainkan para siswa yang telah dibimbing secara khusus dalam menjelaskan pelajaran. Apalagi untuk siswa kelas IV, V dan VI.
Dirinya juga selalu mengingatkan kepada para orang tua untuk selalu tidak menjelekkan para guru di depan anaknya. Karena baginya, hal itu justru akan merusak anak itu sendiri.
“Kalau orang tua itu jelekkan guru di depan anaknya sendiri, anak-anak nantinya tak memiliki sosok idoa lagi di sekolah. Efeknya adalah anak tersebut tak mau lagi mendengarkan apapun yang dikatakan guru itu. Tentu itu bisa mempengaruhi proses belajar anak itu sendiri,” jelasnya.
Pimpin Sekolah Pakai Hati
Kepala SMPN 30 Makassar Hijriah Enang menjelaskan, di jenjang ini merupakan masa-masa peralihan. Siswa SMP adalah siswa berkembang dari masa SD, untuk disiapkan ke jenjang SMA. Jadi para guru SMP tentunya harus tahu bagaimana menyesuaikan tingkah polah siswa yang berasal dari SD, kemudian membentuknya untuk bisa menuju ke jenjang SMA.
”Untuk memimpin sekolah tidak hanya memakai logika, tapi juga hati,” katanya.
Hijriah yang mengenakan kebaya dan jibla warna hijau muda, mengatakan bahwa selama ini fokus pada pengembangan kualitas pendidikan karakter oleh guru. Dengan memberikan contoh dari para guru itu sendiri. Mulai dari siswa yang dijemput oleh guru di depan gerbang,bersalaman, berjalan beriringan, hingga memungut sampah jika mendapatinya.
Di sekolah yang dipimpin Hijriah, berbagai sarana dan prasarana yang menunjang kebersihan amatlah diperhatikan. Salah satu contohnya saja adalah dengan membangun tempat sampah tiga jenis.
Selain itu, Hijriah juga membangkitkan karakter Adiwiyata kepada para siswanya. Mulai dari mengecek kebersihan, merawat tanaman, menciptakan suasana spiritual, sampai mencintai kebangsaan dengan menyanyikan lagu nasional. Hal ini terus menerus ia ciptakan dalam suasana lingkungan sekolah.
Upaya yang telah dilakukan oleh pihak sekolah, menurut Hijriah, harusnya dibarengi sikap positif semua pihak. Ia sangat berharap jika semua program yang telah dicanangkan di sekolahnya bisa bersinergi pada semua stakeholder yang ada di Makassar.
“Misalnya, kasus yang banyak menimpa siswa itu kan bolos sekolah. Biasanya mereka itu larinya ke warnet. Nah, seharusnya warnet-warnet ini ditutup ketika jam belajar sekolah. Dalam hal ini semua harus ikut berperan. Misalnya petugas Satpol PP berkeliling memantau aktivitas siswa yang membolos untuk kemudian dibawa kembali ke sekolahnya,” terang Hijriah.
“Intinya bagaimana kita bekerja sama dengan semua komponen, bagaimana mencerdaskan kami, bukan hanya menuntut kami,” tambahnya.
Pupuk Keteladanan untuk Siswa
Pendidikan yang berkesinambungan akan menciptakan karakter yang baik bagi siswa. Dari usia dini sampai perguruan tinggi, karakter itu harus terus dikembangkan kepada siswa. Begitupun saat menginjak usia SMA.
Ada beberapa strategi yang dilakukan Kepala SMAN 10 Makassar, Dra Hj Husaifah,MSi untuk pendidikan karakter. Mulai dari pendekatan keagamaan, keteladanan, sampai gotong royong.
Husaifah selalu menekankan salat berjamaah kepada setiap siswanya. Selain itu juga biasa diadakan kultum, pengajian-pengajian, serta bimbingan rohani.
Keteladanan yang ia pupuk, mulai disiplin akan ketepatan waktu setiap siswanya datang ke sekolah, berpakaian yang rapi, dan bertutur kata yang baik. Namun sebelum menekankan kepada siswanya, Husaifah yang hadir dengan berkebaya putih, ternyata lebih dulu menekankan hal itu kepada para guru. Di SMA 10 Makassar, menurut Husaifah, dirinya selalu mengimbau anak didiknya untuk melakukan kerja bakti.
Ketika di awal memimpin sekolah ini, lingkungan sekolah selalu langganan banjir menjadi persoalan yang ditemuinya. Lambat laun permasalahan tersebut berhasil diatasinya. Kini, SMAN 10 Makassar telah berhasil direvitalisasi.
Husaifah juga berhasil menjadikan lingkungan sekolahnya menjadi asri. Caranya, dengan budidaya tanaman hidroponik yang dikembangkan di sekolah tersebut.
“Saya juga memberikan penghargaan kepada siswa-siswa yang bisa menjadi contoh dalam mengubah karakter buruk siswa lain. Contohnya untuk hari Senin nanti, saya mau beri penghargaan kepada siswa yang tiap harinya berjalan kaki sejauh tiga kilometer lebih hanya untuk ke sekolah,” kata Husaifah.
“Penghargaan ini saya harapkan bisa menjadi motivasi bagi siswa lain yang sering terlambat, padahal fasilitas mereka bisa dibilang lengkap. Tidak sama seperti ketiga siswa tersebut,” tambahnya.
Siswa SMKN 8 Didekatkan ke Industri
Kepala SMKN 8 Makassar Hasnah Baharuddin, menjelaskan bahwa SMK adalah sekolah yang menyiapkan siswanya untuk terjun ke dunia kerja. Karenanya, kultur itulah yang terus diciptakan. Siswa SMKN 8 Makassar dibuatnya untuk benar-benar dekat dengan dunia industri.
Sejak awal mereka telah dibiasakan untuk masuk dalam lingkungan industri. Sebagai kepsek, Hasnah menerapkan pendidikan karakter industri. Salah satu contohnya adalah mengenakan pakaian yang sesuai dengan pekerjaan mereka pada bidangnya.
“Misalnya, kalau lagi ke SMKN 8 itu ada beberapa siswa yang memakai baju batik kayak pramugari, berarti mereka memang lagi disiapkan untuk menjadi pramugari nantinya. Kalau pakai topi yang besar, hari itu kita ajarkan memasak. Nah, kalau kalian lihat ada yang pakai baju cleaning service, maka mereka lagi dilatih jadi cleaning service,” jelas Hasnah.
Siswa siswi SMKN 8 Makassar, diakui Hasnah agar berbeda dengan sekolah lainnya. Sebab mereka sudah dibiasakan menggunakan lipstik dan sepatu dengan hak tinggi. Hal ini tentu memiliki tujuan. Yaitu mendekatkan mereka dengan dunia industri, sehingga akan lebih mudah nantinya mendapat pekerjaan setelah tamat.
Selain pendidikan berkarakter industri, Hasnah juga menerapkan pendidikan berkarakter kebersihan dan terintegrasi. Makanya, hari Jumat ia fokuskan pada kerja bakti.
Tak lupa Hasnah mengarahkan guru-guru untuk melakukan pendekatan kepada siswa sesuai zaman sekarang. Misalnya, para siswa sekarang itu gaya bicaranya terlihat lebih santai kepada gurunya. Makanya, menegaskan untuk tak menegur siswa terlalu berlebihan jika sikapnya seperti itu. (nug/rus/b)

