pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Tanaman Mangrove Cenderung Digunakan Sebagai Kayu Bakar

MAKASSAR, BKM– Pesisir laut wilayah Utara Makassar menjadi tempat penanaman 50.000 bibit pohon mangrove yang digelar Pemerintah Kota Makassar. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati empat tahun masa kepemimpinan Moh Ramdhan Pomanto-Syamsu Rizal (DIA) sekaligus rangkaian peringatan Hari Bumi.
Penanaman ribuan bibit pohon mangrove yang berpusat di Pelabuhan Nusantara Untia dibagi jadi enam zona di dua kacamatan yaitu, Kecamatan Tamalanrea, Kelurahan Bira, dan Kecamatan Biringkanayya di Kelurahan Untia.
Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan, Soni Sumarsono dan Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal memimpin langsung jalannya kegiatan penanaman mangorve diikuti jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Sulsel dan Kota Makassar, serta jajaran OPD, RT-RW se Makassar, dan organisasi seperti PMI, Jumat (4/5) pagi.
Kepala DPP Kota Makassar Abdul Rahman Bando dalam penyampaiannya mengatakan hasil kajian akademik di DPP Kota Makassar, sepanjang kawasan pesisir mulai di Untia hingga di Buloa dapat ditanami mangrove sejauh 116 meter dari garis pantai. Sementara saat ini baru 20 meter dari garis pantai yang telah ditanami mangove.
“Artinya radius yang bisa ditanami mangrove itu masih sangat luas. Apalagi Makassar ini selalu disorot bahwa kurang Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang di mana belum cukup 30 persen berdasarkan aturan. Jadi salah satu cara murah meningkatkan RTH adalah dengan menanam mangrove di pesisir karena lahannya milik negara. Cukup memikirkan bibitnya saja dengan penanaman swayada yang melibatkan masyarakat dan lainnya,” terangnya.
Ada banyak manfaat bagi masyarakat sekitar pesisir dengan adanya tanaman mangrove. Masyarakat lokal pesisir dapat melakukan aktivitas ekonominya dengan melayani pengunjung wisata alam yang masuk. Apalagi trek mangrove sudah mulai ditata baik pemerintah kota yang tentu dapat juga dimanfaatkan jadi tempat jualan hasil olahan perikanan.
“Karena dulu masyarakat belum memanfaatkan ekonomi dari tanaman mangrove, masyarakat jadinya menebang sendiri tanaman mangrove. Pohon tanaman mangrove itu hanya sekadar digunakan sebagai kayu bakar. Ini tentu sangat menyedihkan apalagi sampai berhektar-hektar ditebang khususnya di wilayah Bira,” akunya.
Padahal tanaman mangrove atau bakau menjadi tempat bertelurnya ikan dan tempat memijahnya kepting bakau. Walhasil setelah masyarakat diberikan pemahaman akan potensi ekonomi dari mangrove, masyarakat sudah dapat merasakan manfaatnya. Dan bahkan telah menjadi nelayan kepiting bakau di daerah tersebut.
“Sekarang sudah dirasakan manfaatnya, sudah banyak nelayan-nelayan kepiting bakau yang menjual kepiting bakau setiap hari berkilo-kilo. Kalau dulunya menebang, sekarang sudah menjadi pahlawan mangrove karena sudah merasakan manfaatnya,” sambungnya.
Plt Wali Kota Makassar Syamsu Rizal mengatakan 50.000 bibit mangrove yang ditanam disebar di enam zona untuk dua kecamatan sepanjang 1,2 kilometer. Penanaman bibit dengan membagi kelompok mulai dari Forkompimda, RT-RW, jajaran OPD, TNI dan Polri serta organisasi lainnya.
Dengan penananaman ribuan mangrove diharapkan lebih menambah RTH minimal sepanjang 5 hektar di Makassar serta memberikan edukasi bagi masyarakat akan sadar menjaga lingkungan. Termasuk juga dengan menambah benefit bagi masyarakat lokal pesisir dengan menjadikan wisata mangrove.
“Bibit yang ditanam sesuai dengan keasaman tanah di lokasi penanaman sehingga tingkat hidupnya bisa 90 persen. Ada dua jenis mangrove yang kami tanam yaitu Rizophora dan Avicennia,” tambahnya.
Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan Soni Sumarsono megapresiasi kegiatan yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar memperingati empat tahun kepemimpinan DIA, Hari Bumi dan Hari Buruh. Dengan penanaman mangrove diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan khususnya nelayan dan masyarakat.
“Ini juga menjadi upaya dalam meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan. Spesifiknya melestarikan biota laut agar tetap hidup dan dipertahankan. Jangan sampai laut kita rusak akibat proses reklamasi dan sebagainya,” katanya.
Setelah melakukan kunjungan langsung, Soni berinisiatif membuat rapat bersama forkompimda di daerah wisata mangrove tempat wisata Lantebung di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea.
“Kuta akan menggelar rapat forkompimda di kawasan Lantebung. Biarlah teman teman melihat langsung kondisi dan situasi di lapangan seperti apa. Minimum bisa merasakan karena kalau dari belakang meja saja saya sendiri tidak bisa merasakan apa di lapangan. Apalagi banyak masalah dan kerusakan lingkungan saya lihat. Tidak bisa menutup diri untuk berdialog dengan masyarakat,” tutupnya. (arf)



×


Tanaman Mangrove Cenderung Digunakan Sebagai Kayu Bakar

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar