pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Bacakan Doa di Setiap Bunga yang Dijual

PEKERJAAN sebagai penjual bunga makam ternyata bukan hanya sekadar mendapatkan uang. Melainkan Dg Maya selalu menyelibkan doa di setiap bunga makam yang ia jual untuk dirinya.

Laporan; ARDHITA ANGGRAENI

Merasa sudah sangat tua dan tidak mampu bekerja keras lagi, Dg Maya mengaku setiap pengunjung yang melakukan ziarah ke makam dan membeli bunganya, tidak hanya uang yang didapatkan Dg Maya melainkan balasan doa dari para peziarah.
“Kah saya nak’ tena mi kulle (Tidak bisa) kerja berat-berat. Punna Nia mi’ (Kalau ada) datang beli bunga bersyukur ma nak biar Rp 5-10 ribu. Biasa setelah saya bacakan doa, ada juga yang doakan saya semoga panjang umur,” ucapnya kepada penulis, kemarin.
Meski penghasilannya yang tidak menentu, Dg Maya mengaku masih bertahan berjualan bunga. Ia juga pernah bertanya-tanya, kenapa tidak ada bantuan dari pemerintah ke penjual bunga seperti dirinya.
“Pernah kah itu saya nak’ bertanya kenapa tenna (tidak ada) bantuannya pemerintah ya ke saya kodong. Tapi tenna tonja (Tidak juga) berharap nak’ nanti pakrissiki (Sakit) nyawaku puna tena gappa (Tidak dapat),” katanya.
Tidak hanya itu, didalam lubuk hati Dg Maya ingin sekali merasakan di momentum perayaan bulan ramadan nanti, ia dapat membelikan baju lebaran untuk kedua cucunya. Bahkan tidak sanggupnya membiayai sekolah dua cucunya, Dg Maya bercerita bahwa cucunya tersebut harus membantunya mencari uang tambahan.
“Baru-baru ji nak dipanggil ki kodong kerja jadi buruh, masih SD ki tapi marimi (Berhenti) assikola (Sekolah). Punna nia na gappa (Kalau ada dia dapat) mae ku suruh bolliki (kusuruh simpan) untuk pembeli bajunya lebaran,” bebernya.
Hanya itulah yang ia harapkan di momentum lebaran, disamping ingin berkumpul bersama anak-anaknya.Ia juga tidak ingin menyusahkan anak-anaknya lagi dengan mengharap belas kasihan.
“Siri’ kah nak (malu kah), tidak pernah kah saya itu pergi minta-minta di anakku. Kalau begitu ji ku dapat itu tommi ku makan,” tuturnya.
Ia mengaku sudah 15 tahun menjual bunga tabur makam yang dibantu anak dan menantunya, rumahnyapun dekat dengan makam tempat ia menjual. Dijam 06.00 pagi ia sudah keluar rumah untuk menunggu pedagang bunga langgananya yang biasa ia beli dengan harga Rp500-2.000 kemudian ia campuran dengan daun pandan.
“Cepatkah nak saya keluar jam 06.00 keluar ma menjual, nah siang ini baru Rp10.000 ku dapat. Biasanya tidak ada juga tapi tetap ki bersyukur. Doakan kah nak supaya panjang umur,” ujarnya.
Selain itu Dg Maya mengaku penghasilannya tentu tidaklah cukup menghidupi dirinya sebab satu kantong bunga dijualnya seharga Rp5.000 begitupun air sari bunga ia jual seharga Rp 10.000. Bunganya bisa laku jika ada pelayat yang membawa jenazah untuk dikebumikan.
Begitupun saat memasuki bulan ramadan dan lebaran, Dg Maya biasanya mendapatkan untung yang banyak hingga bunganya habis 20 kantong dalam sehari. Hal itu ia rasakan seminggu menjelang ramadan dan sehari sebelum lebaran.
“Tidak banyak ji memang karena kalau masuk mi bulan ramadhan nanti, banyak yang juga menjual disini. Jadi untung-untungnya Rp 100 ribu paling banyak laku 20 kantong ji, kalau harga sama ji hari biasanya tapi biasanya sehari-hari rugi ki sediakan setiap hari, nanti ada penggali kubur bilang ada yang mau dimakamkan besok baru kita jual lagi, ” bebernya.
Begitulah yang dirasakan oleh Dg Maya penjual bunga tabur makam, dia mengaku hanya saat menjelang ramadan saja dagangannya akan laris manis. Karena biasanya masyarakat Bugis-Makassar sebelum memasuki bulan ramadan selalu melakukan ziarah ke makam keluarga.(*)



×


Bacakan Doa di Setiap Bunga yang Dijual

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar