pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Saya Bantu Suamiku Sebagai Buruh Bangunan

KEHIDUPAN Dg Tia jauh dari kata sempurna. Tidur sampimng becak. Memulung dengan penghasilan yang tak pasti. “Yang penting bisa makan dan tidur,” katanya.

Laporan: JUNI SEWANG

Siang kemarin, penulis sempat menemui Dg Tia yang beristerahat lelah di samping Lapangan Hertasning. Ia banyak bercerita tentang kegetiran hidup di ibu kota Provinsi Sulsel ini.
Ia mengaku, awalnya ia berada di Makassar dari tempat asalnya di Kabupaten Jeneponto tahun 2012 lalu. Saat itu, ia mengikuti suaminya yang berprofesi sebagai buruh harian. lokasi tempat ia tinggal merupakan kawasan pemulung Jalan Hertasning baru (kampung savana/kampung pemulung), bila suami berangkat bekerja sebagai buruh bangunan, Dg Tia tidak memiliki kegiatan.
Melihat kegiatan keseharian para ibu-ibu pemulung mengumpulkan barang bekas dan menimbangnya, akhirnya Dg Tia tertarik untuk ikut mencoba memulung.
“ke Makassar ikuti suami berprofesi tukang batu. Kalau pergimi kerja tidak adami saya bikin. Mau jadi tukang cuci di rumahnya orang tidak ada yang panggil. Di rumah tidak ada dibikin,” ungkapnya.
Untuk menghilangkan kebosanan di rumah, ia ikut sama tetangga pergi yabo (mulung) pakai karung dan menggunakan fasilitas becak. Bahkan, ia membawa anaknya bersama-sama memulung, setelah anaknya diserahkan neneknya di Jeneponto.”Jadi di Makassar anak tidak sekolah, mereka ikut yabo sama saya,” kata Dg Tia.
Becak mereka peroleh setelah meminta suaminya untuk membuatkan gerobak becak untuk digunakan memulung.
“Ini becak dibuat suamiku. Becak ini kupake sama sama anakku yabo, tidak jalan kaki maki. Biasa kalau yabo sama sama banyak kudapat, biasa ada juga orang di jalan kasi makanan dan uang. Mungkin kasian karena diliat bawa anakku,” ungkapnya.
Demi mencari nafkah bagi keluarganya, Tia bekerja siang dan malam. Dari pagi sampai sore, dia mengumpul barang bekas di jalan maupun tempat sampah.
Menurutnya dalam sehari ia bisa mengumpulkan 3-4 karung sampah yang terdiri dari plastik botol minuman dan barang-barng lain. Sampah-sampah itu lantas mereka bawa pulang ke rumah untuk dipilah. Dari hasil memulung, ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 30- 40 ribu. Uang itu mereka pergunakan untuk menghidupi keluarga dan anaknya. “Ya uangnya untuk kebutuhan belanja dan keperluan rumah tangga,” kata Dg Tia.(*)



×


Saya Bantu Suamiku Sebagai Buruh Bangunan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar