TIDAK semuanya pakaian bekas layak pakai yang dijual kualitasnya baik.Kadangkala dalam satu karung ada saja pakaian yang sudah rusak meski merk terkenal.
Laporan: ARIF AL QADRY
Hal tersebut disampaikan Ahmadan, salah satu penjual pakaian cakar di kompleks bursa cakar di Jalan Batua Raya kepada penulis saat bertandang masuk ke dalam lapaknya akhir pekan lalu.
Sudah tujuh tahun ini, pria kelahiran Ujung Pandang 15 Maret 1993 melayani pengunjung datang di lapak jualan pakaian cakar. Berbagai macam bentuk, jenis dan merek pakaian cakar dijualnya dengan harga terjangkau sesuai kualitas pakaian yang dipilih.
Semua pakaian yang ada di dalam lapak jualannya rapi di gantung menggunakan hanger. Kemeja, rok, dan jas dipisahkan secara tertentu untuk memudahkan calon pembeli mencari jenis pakaian cakar sesuai dengan yang dibutuhkan. Namun mayoritas pakaian dijualnya adalah pakaian perempuan seperti kemeja dan rok. Dan untuk laki-laki hanya jas.
Bapak dua orang anak dari istri bernama Sari itu tak pernah melarang pengunjungnya mencoba pakaian-pakaian yang ada. Karena kepuasan pengunjung menjadi perioritasnya dalam berjualan.
“Bebas pengunjung mau lihat-lihat, mencoba, dan tawar menawar harga. Karena kepuasan konsumen adalah hal utama,” katanya.
Harga pakaian cakar yang dijual tergolong murah, mulai dari Rp40 ribu hingga Rp45 ribu jenis kemeja perempuan, dan Rp15 ribu hingga Rp20 ribu untuk rok. Sedangkan jas laki-laki diratakan seharga Rp100 ribu.
Semua pakaian cakar diambil dari daerah Kabupaten Pangkep langsung dari kapal. Jika permintaan sedang ramai dan stock pakaian sudah sedikit, dalam se bulan dapat dua kali membeli. Setiap pembelian pakaian bisa mengambil dua bal pakaian khusus perempuan.
Meski penjual cakar semakin menjamur di Kota Makassar hingga menempati tepi ruas jalan, namun Madan selalu bersyukur lapak jualannya tidak pernah sepi dari para pengunjung dan pembeli. Dari pukul 11:00 sampai pukul 23:00 beroperasi, dia mampu memmbawa pulang omzet sebesar Rp400 ribu setiap harinya.
“Alhamdulillah tidak pernah ji sepi pembeli. Setiap hari paling banyak bisa saya bawa pulang Rp400 ribu dari siang sampai malam. Kalau akhir pekan apalagi di bulan suci ramadan bisa meningkat penghasilan,” tambahnya.
Selain merasakan keuntungan berjualan pakaian cakar, duka sering dirasakan. Di mana ketika mengambil dan membeli pakaian, di dalam karung kebanyakan kondisi pakaian rusak seperti sobek. Tentu kondisi itu membuat harus membanting harga lebih murah agar pakaian bisa laku terjual.
“Kami penjual cakar juga untung-untungan saat membeli pakaian. Tidak bisa kita pilih atau bongkar pakaian dari dalam karung. Disitulah bisanya semua pakaian didalam karung bagus-bagus semua barangnya dan kadang juga banyak rusak. Kalau rusak tidak bisa dikembalikan dan sudah menjadi risiko. Jadi harus dijual murah,” tuturnya.
Omzet dari penjualan pakaian cakar tahun ini dirasakan menurun jika dibandingkan pada tahun 2011 sampai 2015. Tahun tersebut peminat cakar sangat tinggi dan mampu capai omzet dua kali lipat dari tahun ini. Tidak hanya itu saja, dua tahun terakhir penjual cakar banyak gulung tikar karena mahalnya harga pakaian dan tidak sesuai dari harga jual.
“Harus bisa putar modal, kalau tidak gulung tikar juga. Sudah banyak penjual cakar gulung tikar karena harga pakaian selalu naik dan tidak sesuai dengan harga jual. Ini cakar jadi harus murah dan kalau di jual murah tipis untung karena belum lagi bayar sewa tempat,” ucapnya.
Lapak jualan pakaian cakar yang disewa dalam kompleks cakar di Jalan Batua Raya seharga Rp500 ribu per bulan. Sementara lapaknya mengambil tiga petak yang artinya harus membayar sebesar Rp1,5 juta setiap bulan.
“Keuntungan cukup untuk menutupi kebutuhan hari-hari keluarga. Karena sebagian besar keuntungan saya putar untuk beli stock dan sewa tempat. Harga per bal kemeja perempuan bisa Rp6 juta dengan isi per balnya sebanyak 400 lembar. Kalau harganya Rp3 juta per bal dengan isi sekitar 280 lembar. Harus bisa atur keuangan,” tutupnya.
Sesekali Madan mengusap air di dahinya sambil melayani pengunjung di lapak tempat jualannya. Batang kayu berukuran tiga meter menjadi alat bantuan untuk mengambil pakaian – pakaian yang tergantung di atas dengan hanger.
Keringatnya semakin banyak keluar takkala ramainya permintaan dari pengunjung meminta pakaian-pakaian yang tergantung di hanger dibongkar dan diturunkan untuk dicoba.Namun pada akhirnya batal dan tidak jadi dibeli.
“Setiap hari saya melayani pelanggan dengan berbagai macam karakter. Ada cari barang kualitas bagus dengan harga sangat murah, tidak banyak tanya tapi langsung beli.Ada juga yang sudah banyak mencoba pakaian tapi tidak beli alias tanya saja dan coba-coba saja.Tapi semua itu harus tetap kita layani dan syukuri,” jelas pria kelahiran Ujung Pandang, 15 Maret 1993.
Semua pakaian cakar dibelinya dari daerah Kabupaten Pangkep. Barang dibeli langsung dari kapal dengan tiap kali pembelian per bal. Dalam satu bulan dapat membeli dua kali pakaian dengan tiap kali pembelian sebanyak dua bal khusus pakaian perempuan.
“Satu bulan saya biasa ambil atau beli pakaian dua kali. Satu kali pembelian bisa dua atau tiga bal di daerah Pangkep. Satu bal untuk kemeja perempuan isi 400 lembar, kalau rok isinya 280 lembar dan jas berisi 300 lembar per balnya,” tambahnya. (arf)

