pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Jalan Berkilo-kilo Kadang tak Dapat Pembeli

HIDUP ini memang butuh perjuangan. Kita selalu dituntut untuk bekerja keras dan berusaha jika ingin menyambung hidup.Berbagai cara dilakukan yang penting halal.Seperti halnya Saman lelaki 65 tahun pedagang alat rumah tangga dari rotan dan bambu.

Laporan: ARIF AL QADRY

Bapak Aman panggilan akrabnya salah satu warga asli Ciamis, Jawa Barat yang merantau di Kota Makassar untuk mencari hidup.
Sudah sekira sembilan tahun lamanya atau tepatnya sejak 2009 lalu, pria kelahiran Ciamis, 20 November 1962 berada di Kota Daeng bersama empat orang teman sekampungnya.
Di Makassar, bapak yang telah memiliki tiga orang anak itu setiap hari berkeliling mencari rezeki dengan menjual berbagai macam bentuk kerajinan tangan yang terbuat dari bambu dan rotan seperti tudung saji, tempat nasi, tempat buah, tikar, sapu lantai dan sapu halaman hingga topi tani atau caping tani. Termasuk asesoris kerajinan lain berupa tempat lampu hias.
Pak Aman menggunakan gerobak untuk menjual seluruh bahan kerajinannya.
Kepada penulis, Aman mengaku, jika kompleks dan perumahan yang padat penduduk lebih disukai menjual barang dagangannya. Alasannya, banyak ibu rumah tangga menyukai perabot rumah tangga modern dari hasil kerajinan tangan. Selain itu, kaum laki-laki juga kadang memesan asesoris seperti tempat lampu hias.
“Selain menawarkan kualitas barang yang kuat dan awet, harga barang yang saya jual juga cukup terjangkau mulai dari Rp15.000 sampai Rp200.000. Tergantung bentuk dan jenis dari barang itu,” kata Aman yang sempat menepi di di depan Kompeleks Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang.
Siang kemarin, Aman lagi beristirahat setelah berkeliling ke dalam perumahan dan lorong-lorong mencari pembeli. Sebab tidak ada tempat tetap untuk menjual dagangannya.
“Ini beda dengan makanan yang memang orang mencari. Kalau perabot yang saya jual ini jarang dibutuhkan oleh orang-orang, ada waktu-waktu tertentunya.Barang inipun hanya bisa bertahan sampai satu tahun. Artinya, satu tahun sekali baru orang mau beli lagi. Jadi caranya biar bisa laku sayalah yang harus aktif turun mencari calon pembeli,” ucapnya.
Setiap hari ketika jarum jam menunjukkan pukul 09:00, Aman bersama empat temannya mulai bergegas meninggalkan tempat kos di Jalan Prof Abdurrahman Bassalamah. Setiap hari sampai pukul 16:30, dia berkeliling di kompleks dan perumahaan menawarkan perabot rumah tangga dan asesoris kerajinan tangan.
Jalan berkilo-kilo meter hampir setiap hari dijalaninya, itu demi menjual barang dagangannya.Kadangkala dalam satu hari itu Aman tidak mendapatkan pembeli seorang pun.
Hal tersebut tentu menjadi duka baginya, terlebih pada saat itu cuaca lagi hujan dan uang di dompetnya tersisa hanya Rp5.000.
“Jalan kaki berkilo-kilo meter sudah sering, dan bahkan pernah berjalan dari daerah Sudiang sampai di Jalan AP Petta Rani tapi tidak dapat pembeli. Perut lapar saya tahan, karena uang di dalam dompet sisa Rp5.000.Jadinya saya belikan minuman saja sebagai penahan lapar,” kisahnya. (arf)



×


Jalan Berkilo-kilo Kadang tak Dapat Pembeli

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar