pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Ditegur Satpol Hingga Pernah Berjualan di Jayapura

ADA banyak pengalaman yang dapat dikisahkan oleh Saman selama dirinya berjualan perabot rumah tangga menggunakan gerobak. Mulai dari ditegur Satpol PP Makassar, dikejar preman hingga berjualan ke luar pulau paling timur di Indonesia yakni di Jayapura.

Laporan: ARIF QADRY

Gerobak kayu ukuran panjang satu setengah meter dan lebar kurang dari satu meter menjadi teman setia pria kelahiran Ciamis, 20 Novemver 1962 itu.
Gerobak kayu bekas yang dibuat sebagai tempat untuk menyimpan berbagai macam bentuk kerajinan tangan dari bambu dan rotan seperti tudung saji, tempat nasi, tempat buah, tikar, sapu lantai dan sapu halaman hingga topi tani atau caping tani dan asesoris kerajinan lainnya berupa tempat lampu hias.
Di Kota Makassar, Aman sapaan karibnya berkeliling kota berjualan.Ia sering beristerahat di depan Taman Makam Pahlawan (TMP). Di tepi jalan tersebut, bapak tiga orang anak itu sengaja memarkir gerobak jualannya agar mudah disorot pengendara untuk singgah membeli jika tertarik.
“Kalau selesai keliling kompleks perumahaan dan lorong-lorong jam 15:00 saya sudah mangkal di depan (TMP) Panaikang.Siapa tahu saja ada pengendara yang melintas lalu singgah membeli barang. Kalau sudah 17:00 saya pulang ke kos untuk beristerahat dan melanjutkan besok paginya,” kata Aman.
Perabot rumah tangga hasil kerajinan tangan yang dijual Aman harganya terbilang cukup bersahabat. Selain unik modelnya apalagi dibuat dari bambu dan rotan, harganya juga terjangkau seperti tudung nasi dari rotan seharga Rp150.000 dan dari bambu seharga Rp100.000. Tempat nasi seharga Rp50.000, tempat buah Rp80.000, sapu lantai dan halaman Rp20.000, lap kaki Rp15.000. Adapun tempat lampu hias seharga Rp120.000 dan topi tani atau caping tani seharga Rp30.000.
“Paling banyak dibeli tudung nasi, tempat nasi, tempat lampu hias dan caping tani. Sapu lantai dan halaman juga banyak dan saya bersyukur setiap hari biasanya selalu ada yang laku tiga sampai empat barang macam-macam jenis,” akunya.
Selain di Makassar, beberapa daerah lainnya di Sulawesi Selatan seperti Kabupaten Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, dan Bone sering dikunjungi Aman bersama empat orang temannya. Bahkan tak jarang harus bertolak ke provinsi paling timur di Indonesia yaitu, Kota Jayapura.
Selama tiga bulan lamanya, Aman berjualan berpindah-pindah daerah. Tidak menentu kadang di satu daerah bisa satu hingga dua bulan lamanya tinggal, tergantung dari minat pembeli.
“Kalau saya lihat di Makassar sudah sepi, saya jalan lagi ke Bulukumba, Sinjai dan bahkan ke Jayapura untuk berjualan. Tiga bulan saya keliling di daerah-daerah hingga pulang ke kampung ketemu keluarga,” sebutnya.
Upah yang diterima Aman setiap bulan dari hasil keliling menjual perabot rumah sebesar Rp1,5 juta. Untungnya biaya sewa kosan dan transportasi kapal laut dan mobil jika ke suatu daerah ditanggung oleh pemilik barang.
“Biaya makan sehari-hari saya sendiri tanggung.Intinya saya bekerja disini cuma untuk makan saja, adapun biasa bonus-bonus saya dapat kalau banyak barang laku terjual. Syukur kalau dapat rezeki lebih lumayan untuk istri di kampung dan anak. Tiga anak saya, dua sudah berkeluarga,” tambahnya.
Aman bersyukur, dari hasil kerja kerasnya jualan perabot rumah tangga dan asesoris kerajinan tangan hingga ke pulau seberang bisa menyekolahkan satu anaknya hingga dibangku perguruan tinggi. Saat ini anak perempuannya itu sudah masuk semester akhir.
“Anakku di kampung tetap bantu saya bekerja, si bungsu kuliah sambil kerja supaya ada uang jajannya. Itulah yang membuat saya semangat karena mau melihat anak-anak saya baik,” tambahnya.
Sudah sekira sembilan tahun lamanya atau tepatnya sejak 2009 lalu, pria kelahiran Ciamis, 20 November 1962 berada di Kota Daeng bersama empat orang teman sekampungnya.
Kepada penulis, Aman mengaku, jika kompleks dan perumahan yang padat penduduk lebih disukai menjual barang dagangannya. Alasannya, banyak ibu rumah tangga menyukai perabot rumah tangga modern dari hasil kerajinan tangan. Selain itu, kaum laki-laki juga kadang memesan asesoris seperti tempat lampu hias.
Setiap hari ketika jarum jam menunjukkan pukul 09:00, Aman bersama empat temannya mulai bergegas meninggalkan tempat kos di Jalan Prof Abdurrahman Bassalamah. Setiap hari sampai pukul 16:30, dia berkeliling di kompleks dan perumahaan menawarkan perabot rumah tangga dan asesoris kerajinan tangan. (*)



×


Ditegur Satpol Hingga Pernah Berjualan di Jayapura

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar