MENJAGA kebersihan Kampus sungguh bernilai dan patut diapresiasi.Di usianya yang hampir menginjak kepala enam ini, Dg Latinro masih sanggup berjuang menghidupi keluarganya, walaupun hanya menjadi tukang penyapu jalan dan menjaga taman di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Pria kelahiran 1961 yang ditemui penulis menunjukkan sikap ramah dan enak diajak menggobrol.Dg Latinro bercerita bahwa sehari-hari pekerjaanya ialah menyapu gerbang masuk pintu 2 Unhas sembari memangkas tanama liar yang merusak taman. Ia juga mengaku dengan menggunakan sapu ijuk dan pakaian dinasnya, Dg Latinro menyusuri setiap tempat yang sudah menjadi wilayahnya untuk dibersihkan.
“Tubuh saya ini sudah tidak muda lagi nak’. Tapi mau bagaimana lagi, itulah tuntutan hidup kita mau makan apa kalau tidak kerja, apa mi na beli anak-anakku di rumah sama ibunya,” ucapnya.
Dg Lantinro juga tidak kelihatan mengeluh walaupun fisik rentanya mulai menggerus tubuh tuanya. Satu hal yang membuat ia semangat bekerja karena yang ia lakukan sejatinya untuk menyambung keberlangsungan hidupnya dan keluarga.
“Syukur mi juga ku rasa, walaupun pendapatan tidak seberapa, tapi saya bisa menghidupi istri dan kedua anak saya. Anak saya tidak lama lagi akan masuk kuliah jadi saya harus kuliahkan dia, seperti mahasiswa disini karena tidak semua orang seperti saya bisa menyekolahkan anak hingga sarjana,” tuturnya.
Begitupun upah yang didapatkan Dg Latinro ketika kerja kerasnya hanya diupah Rp1,5 juta per bulan. Kebutuhan hidup yang kian tinggi, upah tersebut terasa tidak cukup dan tidak sebanding dengan kontribusi berupa kebersihan yang ia lakukan selama ini.
“Kalau saya jadi tukang bangunan mungkin di upah Rp100 ribu satu hari, kalau disini Rp100 ribu itu satu minggu untuk makan saja. Tapi saya bersyukur karena selama kerja bangunan saya sering sakit, kalau disini paling menyapu jalan, buang sampah sama cabut rumput dikasih mi setiap bulan,” bebernya.
Sejalan dengan upah yang tidak layak, Dg Lantinro hanya diberikan uang untuk makan Rp100.000 per minggu. Mungkin bagi sebagian kalangan mahasiswa uang tersebut ada yang digunakan untuk bersenang-senang dan adapula digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, beda dengan hidup bapak Dg Lantinro ini.
Walaupun hidup yang penuh kesulitan, Dg Latinro juga tak lupa untuk berdoa untuk kehidupan keluarganya dan juga mendoakan mahasiswa agar pintar-pintar sekolahnya. Begitulah ucapan yang anggun dan terbatah-batah dari seorang kakek ini.
Dg Lantirno juga mengatakan “Jangan kikir ke orang, harus banyak-banyak mengasihani satu sama lain. Jangan lupa salat dan banyak-banyak bersyukur,” katanya.
Menurut Dg Latinro hidup ini bukan untuk meratapi nasib, namun bagaimana usaha dan kerja keras diiringi dengan doa menjadikan kita harus berlaku optimis menyongsong masa depan.”Itulah yang selalu saya katakan ke anakku dan istriku, jangan sampai hidup begini kita banyak mengeluh. Tidak Boleh itu,”tutupnya.
Sambil memegang sapu ijuk dan menggunakan topi serta sandalnya, ia mengaku, menjadi penyapu taman di Universitas Hasanuddin Makassar adalah pekerjaan terbaik menurutnya, daripada menjadi tukang bangunan yang sempat dilakoninya selama bertahun-tahun.
Keterbatasan fisik bukan hambatan untuk mengabdi sebagai tukang sapu. Dg lantinro mulai melakukan aktivitasnya sehari-hari pukul 06.00 hingga pukul 17.00 dengan istirahat pada pukul 11.00. Ketika istirahat, Dg Lantinro pun pulang guna mengisi perutnya berupa nasi dan lauk pauk seadanya. Ia hanya tinggal bersama keluarga dan anaknya disatu atap.
“Dari pagi smpai sore kita kerja, tapi pagi ji sama sore baru kita bersih-bersih lagi. Kalau lapar pulang ka dulu di rumah atau ku bawah memang mi makanan ku kesini.(*)

