MENCARI nafkah yang halal memang penuh perjuangan. Selain fisik, mental pun harus dipersiapkan. Setiap hari Dg Situ harus menyusuri jalan-jalan Kota Makassar untuk menjajakan kacang rebusnya.
Laporan: JUNI SEWANG
Dari rumahnya di Bontonompo, Kabupaten Gowa, ia mengendarai sepeda motornya hingga di tempat mangkalnya Jalan poros Antang Raya (pasar Antang). Hal itu dilakoni pria 60 tahun tersebut demi menafkahi keluarga, yang tak ada kata lelah dalam pikirannya.
Sudah kurang lebih 40 tahun ia menjalaninya. Dari usaha itu Dg Situ berhasil menyekolahkan lima orang anaknya, hingga ada yang lulus dari Akademi Perawat. Setiap hari ia membawa 35 liter kacang. Per liter kacang rebus ia hargai Rp 15ribu. Jika semua laku terjual, ia bisa pulang membawa untung Rp150 ribu. Tapi tak jarang pula tak semua dagangannya habis terjual, kadang tersisa dalam jumlah banyak. Pekerjaannya itu sudah dimulai pada siang hari.
“Pukul 11.00, kacang direbus sampai dengan sekitar dua jam, kemudilan disortir mana yang muda dan kempes dibuang. Itu memakan waktu sekitar satu jam lebih,” ujarnya.
Setelah melewati tahapan tersebut, sekitar pukul 15.30 mulailah Dg Situ, menyusuri jalan bersama jualannya. Tak sedikit orang yang membeli di jalan. Selama 40 tahun melakoni pekerjaan itu, banyak pengalaman yang ia alami, duka maupun suka. Sukanya saat semua kacang rebus habis. Dia sangat bersyukur.
“Saat itu juga dengan hati senang saya awalnya menjual dengan cara dipikul pada usia belasan tahun, dimana dari Rp1/liter, minyak tanah harga 1 ringgit. 1 bulan 3 hari hanya menghasilkan Rp1.000, saya lakoni sampai saat ini, dikarenakan ini ji yang saya tau,” ungkap Dg Situ, saat dikunjungi saat berjualan.
Tak seperti awalnya ini lebih ringan,” ungkapnya. Dari jualan dipikul, berjualan menggunaan sepeda gayuh, hingga berjualan menggunakan motor, Ia pulang pada pukul 01.00, wita. (jun)

