DIJULUKI sebagai kolektor numismatik atau yang biasa di sebut kolektor uang kuno, Sosok Dani Wibowo mengaku memiliki kepuasan tersendiri yang jarang dirasakan semua orang. Sebab memiliki benda yang langka dan tak dimiliki orang lain.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
bukan hanya pengusaha atau pejabat yang bisa mengoleksi barang antik, tapi dirinya juga mampu melakukan itu.
Pria kelahiran ujungpandang ini merasa kegemarannya mengkoleksi mata uang kuno, tentunya harus mempunyai budget khusus serta jiwa besar untuk mengkoleksinya, hal itulah yang menyebabkan dirinya sempat ditentang oleh keluarga kecilnya?.”Dulu keluarga saya tidak suka saya mengoleksi barang milik ayah karena itu membutuhkan modal besar, utamanya istri sayai,” ucapnya saat ditemui penulis beberapa hari lalu.
Namun setelah Dani menjelaskan trik untuk mengoleksi uang kuno ini dengan low banget, akhirnya keluarganya menerima hobbynya tersebut. Sekarang bagi Dani, untuk mengkoleksi mata uang kuno tidak perlu membeli dengan harga yang mahal, sebab bermodalkan pertemanan yang luas dan banget ribuan sudah bisa mengoleksi barang antik.
“Saya diajarkan dulu sama sahabat saya yang juga kolektor, bahwa dengan menjalin banyak jaringan yang luas kita tidak butuh modal yang banyak. Kalau kita masih pemula kita siapkan saja modal Rp500 ribu sampai Rp1 juta lah. itu untuk beli koleksi uang yang kita inginkan terus kita simpan,” jelasnya.
Sebab menurutnya, prinsip kolektor bukan bagaimana mendapatkan uang kuno sebagai penghasilan setiap bulannya melainkan sebagai bentuk investasi ke depan, karena kolektor itu mengoleksi barang antik bukan untuk tukar menukar, melainkan menjadi barang koleksi yang disimpan. “Jadi uang itu dari tahun ke tahun akan lebih mahal lagi, seperti koleksi ayah saya,” bebernya sambil memperlihatkan koleksi uang peninggalan ayahnya.
Ia juga sudah berjanji kepada ayahnya tidak menjual lagi koleksi uang kunonya jika bukan hal yang mendesak. Apalagi ayahnya sudah mewanti-wanti untuk tidak menjual album-album yang berisi uang kuno miliknya Sebagai hobi yang sudah melekat dari ayahnya.
“Saya sempat jual satu, setelah itu saya sungguh menyesal. Makanya saya mengoleksi barang antik karena semakin tua usia barang tersebut akan menambah rasa penasaran,” tuturnya.
Selain itu, ia juga berencana bakal mendirikan toko uang kuno di Makassar. Selain sebagai sarana edukasi ke masyarakat ia juga menyediakan uang kuno untuk kebutuhan mahar nikah, pajangan, dan untuk para kolektor baru selanjutnya.
“Itu baru pembicaraan dengan teman-teman saya, untuk buka toko uang kuno. Barangkali ada yang mau jadikan sebagai mahar atau berminat mengeluti bidang ini, kan bisa saja,” akunya.
Ia juga membeberkan masyarakat yang punya niat mengoleksi barang antik memerlukan keuletan dan kesabaran. Sebab nantinya barang antik tersebut dapat bernilai investasi jika dikoleksi dari tahun ke tahun.
Lebih jauh, kata Dani kepada penulis, dulu dirinya bukanlah seorang kolektor. ayahnya-lah seorang koletor uang kuno dan mengumpulkan uang lama tersebut dari beberapa negara. Hingga di akhir hayat ayahnya telah mengumpulkan uang kuno yang jumlahnya banyak.
“Saya dulunya tidak tahu menahu soal uang kuno, dengan sabar ayah saya mengajarkan untuk mencintai uang kuno hingga akhirnya melanjutkan cita-cita ayah memperbanyak uang kuno,” ucapnya saat ditemui penulis di rumahnya di Kompleks Sudiang Makassar.
Hingga saat ini Dani masih tetap menyimpan koleksi uang kuno yang ia peroleh dari beberapa negara dan membelinya ke orang.”Saat ini uang kuno sudah sulit didapatkan, sebab para kolektor juga mencarinya,” ujar Dani.
Dani juga mengaku, nilai barang kuno itu sudah tinggi sekarang. Sebenarnya sudah ada beberapa yang tidak ia miliki lagi karena ada kolektor yang menawari.”Uang kuno 20 pounds Inggris tahun 1564-1616 saya jual Rp50 juta, koletor asing juga yang ambil. Sebenarnya saya tidak mau jual karena itu peninggalan bapak saja,” katanya.(*)

