pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pernah Mendapati Sembilan Ekor Kambingnya Mati Karena Sakit

JANUARI, Februari dan Maret, adalah musim paceklik bagi Muh Yusuf dalam menjual kambing-kambingya di Jalan Lamuru, Kecamatan Bontoala. Sebab tiga bulan itu masih masuk pada musim hujan dan sedikit minat orang-orang membuat acara pesta dan membeli kambing.

Laporan: ARIF AL QADRY

Tidak ada libur, setiap hari mulai pukul 08:00-17:00, Yusuf berada di tempat jualan kambingnya. Usai menggiring puluhan kambing dari rumahnya ke kandang jualannya, Yusuf langsung bergegas ke lahan kosong di Jalan Perintis Kemerdekaan untuk mencari lahan kosong.
Biasanya di lahan kosong banyak rumput-rumput liar. Itu dimanfaatkannya untuk makanan kambing-kambingnya. Setiap hari ada sekira empat karung goni yang berisi rumput diambil untuk makanan hewan jualannya. Selain rumput, kulit pisang dari penjual pisang eppe di area Pantai Losari Makassar, Jalan Penghibur juga diambilnya.
“Vitamin khusus untuk kambing tetap ada, tapi untuk makanan sama seperti yang lain. Rumput, daun – daun dan kulit pisang saya kasikan. Jadi kalau malam itu, saya ke tempat-tempat penjual pisang eppe minta kulit pisang untuk makanan kambing. Gratis kulit pisangnya karena saling membantu juga,” ucapnya.
Ada empat macam jenis kambing yang dijual oleh Yusuf, ada kambing Flores dan Sumba asal NTT, kambing kacang dari Pangkep, dan kambing Donggala dari Jeneponto. Harga yang ditawarkan cukup bervariasi mulai dari Rp1,5 juta sampai Rp3 juta untuk jantan. Betina dimulai Rp600 ribu-Ro1,2 juta. Khusus kambing Donggala paling banyak dicari.
“Harga kambing Flores dan Sumba yang jantan dimulai dari Rp1,3 juta sampai Rp1,5 juta. Kambing kacang asal Pangkep dimulai Rp600 ribu sampai Rp1,4 juta dan dari Jeneponto, kambing Donggala Rp1,2 juta sampai Rp1,7 juta,” tambahnya.
Yusuf mengakui harus sabar ketika kambing-kambing miliknya ada yang mati. Meskipun mendapat perawatan dan perhatian, namun kondisi fisik kambing berbeda-beda. Jika sakit dan tidak cepat mendapat perawatan bisa-bisa mati.
“Pernah dalam satu minggu ada sembilan ekor sekaligus kambing mati. Kondisinya memang sakit dan tidak bisa bertahan lagi.”
Sambil bersama penulis, Yusuf yang akrab disapa telihat sedang sibuk membersihkan kandang kambingnya. Rumput dan kulit pisang yang berserakan di lantai kandang, diambil dan kemudian dikumpulkan. Kotoran kambing dalam kandang yang panjangnya 5 meter dengan lebar 3 meter disapu. Pria kelahiran Ujung Pandang, 15 Agustus 1988 bercerita awal mula dirinya menjual puluhan ekor kambing.
Sudah 30 tahun lebih, bapak tiga orang anak dari istrinya Sahera berjualan di Jalan Lamuru. Tak jauh dari tempat dia tinggal bersama keluarganya di Jalan Masjid Raya.
Keberhasilannya memiliki puluhan ekor kambing disebut tidak lepas dari dorongan orang tuanya. Di mana mulai dari nenek sampai bapaknya dulu adalah penjual kambing hingga diteruskan kepadanya dan saudara – saudaranya sampai sekarang ini.
“Dari usia 7 tahun saya sudah diajak ke kandang kambing tempat jualan bapak yang sekarang ini saya lanjutkan. Pulang sekolah, saya baru datang bantu kasi makanan kambing dan bersihkan kandang,” katanya.
Fokusnya melanjutkan bisnis bapaknya menjual kambing berjalan di 2001 lalu. Waktu itu dirinya masih duduk kelas 1 SMP. Sebagai pemula, dia diberikan satu ekor kambing oleh bapaknya. Kambing jantan miliknya dirawat sampai usianya cukup tua, besar dan kemudian dijual.
Hanya dua hari menitip kambing di kandang bapaknya, satu ekor kambingnya laku terjual. Uang hasil penjualan kambing disimpan sebagai modal untuk membeli kambing dan sisanya ditabung untuk modal membeli kambing lagi.
“Setelah dua tahun putar-putar uang, alhamdulillah bisa tambah – tambah beli kambing lebih banyak sampai 80 ekor sampai sekarang ini,” tambahnya. (arf)



×


Pernah Mendapati Sembilan Ekor Kambingnya Mati Karena Sakit

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar