PAGI-pagi sekali Firman sudah harus memanasi motornya. Karena tepat pukul 08.00, ia sudah harus berada di Masjid Cheng Ho untuk mulai membersihkan masjid. Rumahnya yang berada di Takalar membuatnya butuh waktu sekitar sejam untuk sampai.
Setiap harinya, tepat pukul 08.00, Firman telah mulai membersihkan masjid. Mulai dari menyapu, mengepel, dan sebagainya. Hal ini menjadi rutinitasnya tiap hari tanpa dirinya merasa bosan sedikitpun.
“Pekerjaanku begini mi, ndak bosan ji Alhamdulillah. Karena kalau ndak begini k, siapa mau hidupi istri sama anak,” katanya.
Sekitar empat jam membersihkan, biasanya Firman istirahat sejenak sekitar pukul 12.00 untuk salat dan juga makan siang. Ia biasanya makan bersama dengan rekan-rekannya pengurus masjid disana. Hingga pada pukul 13.30 ia kembali membersihkan.
Pada 13.30 ia melanjutkan membersihkan kembali saat orang-orang di masjid sudah tak terlalu ramai. Firman terus membersihkan sampai tiba adzan Ashar. Setelah ia Salat Ashar, berarti telah selesai pula pekerjaannya di hari itu. Firman pun biasanya langsung bergegas menaiki motornya untuk pulang menemui keluarga kecilnya.
Saat membersihkan masjid, tentu banyak cerita menarik dan cerita tidak mengenakkan yang dialaminya. Cerita menariknya dikatakan Firman tentu karena bisa terus berada di rumah Allah ini. Membersihkan masjid baginya bukan hanya mencari nafkah, namun juga mengais pahala sebanyak-banyaknya.
Cerita tidak mengenakkan, biasanya saat dirinya tengah membersihkan, banyak orang yang lewat kesana kemari. Padahal orang tersebut dikatakan Firman mengetahui jika masjid sedang dibersihkan dan dengan sengaja melewatinya.
“Pernah saya sementara sikat wc, ada jemaah yang tiba-tiba datang pake sepatu masuk. Saya tegur karena sepatunya melewati batas suci. Eh malah na marahi k, alasannya karena dia pake kaos kaki dan susah dilepas,” kata Firman.
Namun biasanya Firman juga selalu berhasil menegur seseorang. Tidak dengan marah balik, namun ia memberikan imbauan yang biasanya bisa diterima.
“Kasusnya di orang yang ke wc ini, Alhamdulillah akhirnya ia mengerti. Saya bilangi untuk lepas saja kaos kakinya. Lama-lama akhirnya na lepas ji, dan Alhamdulillah baik-baik ji,” tambahnya.
Sebenarnya Firman punya keinginan besar untuk mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. Namun ia terkendala pada ijazah yang ia miliki. Maka dari itu, ia berencana ingin ikut paket c untuk mendapatkan ijazah setara SMA.
“Dulu sebenarnya pernah mau ikut, tapi ndak ada biayaku. Alhamdulillah sekarang ada hasil nabung, saya mau ikut paket c,” ucapnya.
Dulunya Firmansyah adalah siswa SMAN 13 Bontonompo. Namun tak bisa melanjutkan sekolahnya karena urusan ekonomi dan sosial. Ia pun hanya bisa bersekolah di sekolah tersebut hanya sampai kelas 2 SMA.
Bahkan waktu bersekolah dirinya tak disukai oleh para guru karena nakal. Ia mulai sadar saat ia kelas 2 SMA, ayahnya meninggal dunia, praktis ia tak memiiki lagi biaya untuk melanjutkan sekolahnya.
Sepeninggal ayahnya membuat Firman harus mencari uang sendiri. Ia pun memutuskan untuk berhenti dari sekolahnya dan mencari pekerjaan.
Tiap bulannya Firman digaji sebesar Rp1,5 juta. Semua itu ia gunakan untuk biaya transportasinya tiap hari dan biaya kebutuhan untuk anak dan istrinya. Walaupun kadang pas-pasan, namun ia tetap bersyukur karena beberapa kebutuhannya hingga saat ini bisa dipenhinya.
“Istri saya ndak kerja, saya ji. Istri saya Alhamdulillah juga ndak permasalahkan jauh sekali tempatku kerja. Selama ini juga Alhamdulillah kebutuhan bisa kami penuhi,” kata Firman.(nug/war/b)
Seringkali Dimarahi Jamaah yang Hendak ke Kamar Mandi
×

