pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Doktor Itu Naik Lepa-lepa Kala Bersekolah

ADA banyak cara menunjukkan bakti pada negeri. Salah satunya dedikasi tinggi di dunia pendidikan.
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-73, 17 Agustus 2018, BKM menurunkan laporan khusus tentang Madeamin. Seorang guru Sekolah Dasar (SD) di pulau terpencil, yang dengan keterbatasannya mampu meraih gelar doktor.

Laporan: Rusdi Nasaruddin

MADEAMIN lahir di Pulau Sabangko, 20 Februari 1972. Pulau ini letaknya cukup terpencil. Berada dalam wilayah Desa Mattirobombang, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkep.
Untuk menjangkaunya, harus menempuh jalur laut. Dari dermaga Kassi Kebo, Kecamatan Ma’rang, dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit ke Pulau Sabangko. Ada pula akses dari dermaga Limbangan,
Kecamatan Labbakkang. Jarak tempuhnya lebih lama, yakni 1,5 jam. Itu karena perjalanannya lebih banyak di sungai.
Memiliki kampung halaman di sebuah pulau, orang tua Madeamin menjalani rutinitas keseharian sebagai nelayan kecil. Sementara ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa.
Keterbatasan ekonomi tak pernah membuat Madeamin berputus asa. Ia terus merajut masa depannya demi memperbaiki kualitas hidupnya.
Mengawali pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 41 Sabangko di tahun 1986. Tak ada kendala berarti kala itu. Karena sekolah ini berada dalam wilayah Pulau Sabangko, tempat tinggal keluarga Madeamin.
Tamat SD, Madeamin kecil bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Sementara, Sekolah Menengah Pertama (SMP) hanya ada di Pulau Salemo. Sebuah pulau yang bertetangga dengan Pulau Sabangko.
Jarak antara kedua pulau ini ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam, dengan menggunakan perahu kecil, yang oleh masyarakat setempat disebut lepa-lepa. Sarana transportasi laut ini tak menggunakan mesin. Hanya mengandalkan dayung.
Namun, hal itu tak menyurutkan tekad Madeamin untuk melanjutkan pendidikan. Sudah bulat keinginan anak nelayan ini. Ia rela mengarungi lautan luas demi menggapai cita-citanya, agar kelak bisa menjadi seorang pegawai negeri. Satu profesi yang tak satupun digeluti warga Pulau Sabangko kala itu.
Saat itu, keinginan Madeamin coba diadukan ke Alepu, ayah kandungnya. Juga kepada ibunya Bondeng.
Jawaban Alepu tak sesuai harapan Madeamin. Sang ayah hanya menjawab diplomatis. ”Kalau mau jadi nelayan, silakan. Bila ingin bersekolah juga tak dilarang. Hanya saja jika sekolah itu butuh biaya yang tidak sedikit. Jadi kalau memilih sekolah, maka dananya harus cari sendiri,” kenang Madeamin, menirukan penyataan ayahnya puluhan tahun silam.
Kecewakah Madeamin? Ternyata tidak. Ia menjadikan jawaban dari ayahnya itu sebagai tantangan untuk melanjutkan pendidikan.
”Ketika masih sekolah di Sabangko, saya juga biasa ikut melaut membantu orang tua mencari ikan. Kami menggunakan perahu kecil yang mengandalkan layar,” tutur Madeamin yang ditemui di kediamannya Jalan Andi Mauraga, Kelurahan Jagong, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep.
Karena keinginannya sudah bulat, Madeamin memutuskan untuk lanjut ke SMP PGRI di Pulau Salemo. Kendati harus mencari biaya sendiri.
Hari-hari penuh perjuangan dilakoni Madeamin ketika duduk di bangku SMP. Ia mesti mendayung lepa-lepanya seorang diri, dari Pulau Sabangko ke Pulau Salemo.
Bila cuaca buruk datang, ia memilih untuk tidak pulang ke Pulau Sabangko. Madeamin terpaksa bermalam di Pulau Salemo. Beruntung, ada seorang perempuan bernama Dg Tasa yang bersedia menerimanya untuk menginap. Wanita ini pun dianggap sebagai orang tua sendiri oleh Madeamin.
Tak terasa, tiga tahun telah terlewati. Madeamin berhasil menamatkan pendidikannya di SMP PGRI tahun 1990.
Jika biasanya banyak anak-anak pulau yang berhenti setamat SD dan SMP, tidak demikian dengan Madeamin. Cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan kembali membuncah. Dipilihlah SMEA Negeri 13 Bungoro yang ada di wilayah daratan Pangkep.
Di sini, Madeamin kembali harus hidup jauh dari orang tua. Namun, demi pendidikan, ia rela menjalaninya.
Saat bersekolah di Bungoro, dia sempat kebingungan untuk mencari tempat tinggal. Dan, Dewi Fortuna kembali berpihak ke Madeamin. Sebab, ada beberapa guru di sekolahnya yang masih muda dan belum berkeluarga berkumpul dalam satu rumah kontrakan. Lokasinya di Kampung Siang. Tak jauh dari SMEA 13 Bungoro.
”Guru itu tahu kalau saya berasal dari pulau dan tidak punya rumah di wilayah daratan. Mereka kemudian mengajak saya tinggal di rumah kontrakannya,” tuturnya.
Ada rasa berat yang membebani Madeamin dengan kondisi ini. Sebab ia sama sekali tak punya biaya hidup. Sementara keinginannya untuk bersekolah tetap menggebu.
”Karena tidak punya biaya hidup, di rumah itu saya kemudian yang memasak. Juga mencuci pakaian guru, meski guru kami itu menolak untuk dicucikan pakaiannya. Ada rasa berat menumpang di rumah orang tanpa berbuat sesuatu untuk mengurangi beban pemilik rumah,” ujarnya memberi alasan.
Ketika duduk di bangku SMEA, terkadang ada rasa rindu menggelayut di benak Madeamin. Ingin bertemu dengan orang tua dan membantunya mencari ikan di laut. Semua itu mesti dipendamnya. Ia baru bisa pulang ke Sabangko ketika waktu libur sekolah tiba.
Madeamin berhasil menyelesaikan pendidikan di SMEA 13 Bungoro tepat waktu. Tahun 1993 ia tamat.
Peruntungan dicobanya dengan mendaftarkan diri sebagai calon polisi di Kota Parepare. Di sini, lagi-lagi ia menumpang di rumah warga. Tak berlangsung lama. Karena bersama beberapa orang temannya, ia dinyatakan gugur di berkas administrasi.
Tak pernah berputus asa dengan setiap kegagalan yang ditemui. Madeamin mencoba lagi melamar sebagai tenaga honorer pada Dinas Perhubungan. Di tempat itu dirinya sempat diterima. Namun hanya sebentar bertugas. Karena selalu ada pikiran yang berkecamuk bahwa pendidikan tidak cukup hanya tamat pada level SMA/SMEA saja.
Dengan segala keterbatasan, dia kemudian kuliah di diploma II Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Agama Islam (PGAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Bangku kuliah diselesaikannya tahun 2003.
Seusai kuliah, Madeamin terpanggil untuk mengabdi pada SD di kampung halamannya. Ia pun mendaftar menjadi guru kontrak, dan akhirnya diterima.
Mengajar dengan status guru kontrak di SDN 41 Sabangko dilakoninya hingga tahun 2005. Gaji awal yang diterimanya sebesar Rp410 ribu per bulan. Sempat menikmati kenaikan penghasilan pada masa itu, karena perpanjangan masa kontrak dengan gaji Rp 710 ribu per bulan.
Dorongan untuk melanjutkan pendidikan seakan tak berhenti bagi Madeamin. Saat berstatus sebagai guru kontrak, ia memilih melanjutkan S1. Dipilihlah jurusan matematika di STKIP Muhammadiyah Andi Matappa Kota Pangkep.
Studi S1 keguruan diselesaikannya tahun 2005. Bersamaan adanya pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Yang dibutuhkan adalah 50 orang berstatus guru kontrak untuk diangkat menjadi CPNS.
Jumlah pendaftar ketika itu kurang lebih 1.000 peserta. Beruntung, satu diantara 50 nama yang lulus adalah Madeamin. Dia kembali ditempatkan untuk mengabdi sebagai guru SD di Pulau Sabangko. Status CPNS Madeamin di 2006 berubah menjadi PNS setahun kemudian.
Sambil mengajar sebagai guru SD di pulau, niat lanjut kuliah di S2 kembali muncul lagi. Diapun memilih mendaftar pada Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia di Unismuh Makassar dan selesai pada 2011.
Tak berhenti mengejar ilmu, hingga akhirnya Madeamin mendaftar untuk jenjang S3 Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana di Universitas Negeri Makassar ( UNM) tahun 2013. Dalam seleksi pertama dinyatakan tidak lulus. Kemudian ikut lagi pada seleksi tahap kedua di tahun yang sama. Akhirnya diterima untuk program doktor.
“Sambil kuliah di program S3 UNM, secara bersamaan kuliah S1 Prodi PGSD di Unismuh 2017. Bersyukur kepada Tuhan, karena pada 2018 berhasil meraih gelar doktor,” ujarnya dengan nada penuh haru.
Sebagai bentuk rasa syukurnya, ia menghadirkan kedua orang tuanya saat menjalani promosi doktor pada hari Senin, 30 Juli 2018. Wakil Bupati Pangkep H Syahban Sammana juga hadir kala itu.
Judul disertasinya; Pengembangan Bahan Ajar Menulis Deskripsi Bahasa Indonesia Berwawasan Kepulauan Murid Sekolah Dasar Kabupaten Pangkep. Prof Dr Rapi Tang bertindak selaku promotor, dan Dr H Akmal Hamza,MPd selaku copromotor. Madeamin meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,68. (*/rus/b)




×


Doktor Itu Naik Lepa-lepa Kala Bersekolah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar