pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Jual Kayu Bakar dan Air Tawar

PILIHAN orang tua yang tidak melarangnya melanjutkan sekolah, tetapi biaya mesti dicari sendiri, akhirnya dijalani secara ikhlas oleh Madeamin. Selama tiga tahun dirinya mendayung perahu kecil saat bersekolah di SMP PGRI Pulau Salemo.
Dalam sepekan, setiap berangkat ke Pulau Salemo, ia juga membawa puluhan ikat kayu bakar yang diambil dari kayu bakau dan cemeti. Setiap ikatnya dijual Rp150.
Begitu pula saat kembali ke Sabangko. Lepa-lepa Madeamin dipenuhi jerigen berisi air tawar.
Pulau Salemo dikelilingi laut, tetapi memiliki keistimewaan karena dianugerahi air tawar di tengah kepungan air asin. Berbeda dengan Pulau Sabangko yang hanya ada air asinnya.
Perjuangan Madeamin di masa menuntut ilmu pada tingkat SMP berbeda kisah sewaktu melanjutkan ke SMEA Pangkep hingga ke perguruan tinggi. Melanjutkan pendidikan dengan biaya mandiri terbilang berani dan nekat. Sebab Madeamin menyadari bahwa biaya untuk kuliah S3 terbilang mahal.
”Ada tetangga di Pangkajene yang juga seorang pengawas (eks guru SD di daratan Pangkep) yang memberikan motivasi supaya saya kuliah S3. Sebab tetangga itu juga seorang doktor UNM. Waktu itu saya jawab, lagi tak punya biaya karena sedang membangun rumah,” imbuhnya. Ketika itu, Madeamin berpikir motivasi tetangganya itu sebagai sesuatu yang baik. Karenanya, diapun memberanikan diri mendaftar di PPs UNM untuk program doktor.
Saat menempuh pendidikan S1 yang kedua, kemudian S2 hingga S3, Madeamin diuntungkan dengan kondisi ekonominya yang sudah lebih baik dibanding sebelum menikah. Nursiah sebagai istri yang dinikahinya, juga merupakan guru SD Negeri 41 di Pulau Sabangko. Status istri sebagai guru ikut menopang ekonomi rumah tangga. Sedangkan gaji dan tunjangan Madeamin sebagai guru SD difokuskan untuk meringankan beban biaya pendidikan S3.
Disadari Madeamin bahwa dengan jumlah gaji sebagai guru jauh dari cukup jika menghitung biaya S3. Tetapi rezeki pendidikan selalu ada-ada saja sumbernya.
”Saya pernah kuliah D II program pendidikan guru Agama Islam. Jadi bisa berdakwah. Sudah biasa diundang untuk berceramah dari masjid ke masjid. Hasil ceramah itu juga merupakan sumber rezeki,” jelasnya.
Nilai-nilan keislaman diterapkan pasangan Madeamin dan Nursiah kepada tiga buah hatinya. Putri pertama mereka Nurhidayah Amin dan anak kedua Muhammad Fajrianto Amin disekolahkan di Pesantren DDI Mangkoso. Sedangkan si bungsu Muhammad Arqam Amin dititip ke tantenya untuk sekolah di SD di Desa Gentung, Kecamatan Labakkang.
Madeamin menilai pengaruh pendidikan terhadap warga di Pulau Sabangko tidaklah terlalu kuat untuk saat ini. Profesi sebagai nelayan berdampak besar terhadap anak-anak usia sekolah. Hal ini merupakan imbas dari latar belakang orang tua mereka yang rerata berprofesi sebagai nelayan.
Anak-anak nelayan pulau itu terlalu cepat mengenal uang. Sebab setiap hari bekerja membantu orang tua di laut dan hasilnya langsung dijual.
Namun, berkaca dari Madeamin, seorang anak pulau yang mampu meraih doktor, pengaruh tersebut sedikit demi sedikit mulai dikikis.
Di kekinian, kondisi SDN 41 Pulau Sabangko masihlah memprihatinkan. Di sini hanya ada dua ruang kelas untuk enam rombongan belajar (rombel). Karenanya, satu kelas masing-masing disekat menjadi tiga.
Saat ini, murid yang duduk kelas I sebanyak enam orang. Kelas II tiga orang. Kelas III sembilan orang. Kelas IV delapan orang. Kelas V tujuh orang. Dan kelas VI tujuh orang. Madeamin menjadi guru kelas VI.
Di sekolah yang dipimpin Ambo Asse ini terdapat empat orang PNS. Termasuk kepsek. Ditambah guru sukarela enam orang.
Sebagai guru yang juga pernah mengenyam pendidikan di sekolah ini, Madeamin sangat berhadap adanya perhatian pemerintah untuk membenahi kondisi yang ada. Apalagi, minat masyarakat setempat untuk menyekolahkan anaknya kini semakin tinggi.
”Warga Pulau Sabangko kurang lebih 130 jiwa, atau 52 kepala keluarga. Mereka berprofesi sebagai nelayan, petambak dan pembudidaya rumput laut. Dalam tiga tahun terakhir, anak-anak mereka yang tamat SD di Sabangko, sebagian besar telah melanjutkan pendidikan SMP di Pulau Salemo,” jelas peraih Satyalancana Karya Satya masa bakti di atas 10 tahun ini. (udi/rus/b)



×


Jual Kayu Bakar dan Air Tawar

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar