KETUA Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pusat Muhammad Ramli Rahim, meminta kepada pemerintah untuk memberi perhatian kepada guru yang mengajar di daerah terpencil. Apalagi mereka dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, semisal doktor.
Menurutnya, ada empat hal yang menjadi persoalan di dunia pendidikan kita selama ini. Dua di antaranya adalah persoalan guru dan infrastruktur.
”Di daerah terpencil, sangat wajar jika kondisi guru dan infrastruktur sekolahnya masih memprihatinkan. Itu terjadi di banyak tempat di Indonesia. Termasuk di Sulawesi Selatan,” ujarnya, kemarin.
Dia mengingatkan pemerintah akan kondisi gurus ASN saat ini. Dia memprediksi, 10 tahun ke depan guru ASN akan habis. Sebab 60 ribu dari mereka akan memasuki masa pensiun setiap tahunnya. Sementara guru ASN yang tercatat saat ini hanya 1,2 juta.
”Pendidikan kita akan lumpuh jika terjadi kesepakatan para guru honorer untuk tidak mengajar. Ini yang perlu menjadi perhatian khusus,” imbuhnya.
Hanya saja, untuk menentukan suatu daerah masuk wilayah terpencil itu menjadi kewenangan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Bukan oleh Kementerian Pendidikan.
” Di Sulsel ini yang masuk daerah terpencil hanya Jeneponto. Sehingga mendapatkan jatah guru garis terdepan. Akibatnya, banyak guru yang ditempatkan di kota. Bagaimana dengan Enrekang dan Tator yang memiliki wilayah pegunungan? Bagaimana pula pulau-pulau di Pangkep. Karena tidak masuk kategori terpencil, perhatian terhadap guru dan infrastruktur sekolahnya sangat kurang,” jelas Ramli lagi.
Ia juga menyinggung soal alokasi dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Ramli menilai apa yang berlaku selama ini tidak adil. Contohnya, seorang siswa di Makassar mendapatkan jumlah yang sama dengan mereka yang bersekolah di pulau ataupun pegunungan.
Karenanya, dia menyebut regulasi yang berlaku saat ini tidak memihak kepada daerah terpencil dan sulit dijangkau. (*/rus)
Ketua IGI: Harus Dapat Perhatian
×

