SEMANGAT dan bekerja ikhlas merupakan kunci bagi siapapun yang berusaha dan terus berusaha hingga menjadi sukses. Begitupun yang dikisahkan Burhanuddin, penjual bambu di kawasan Jalan Yusuf Daeng Ngawing, Kelurahan Tidung, Kecamatan Rappocini.
Laporan: ARIF AL QADRY
Pria kelahiran Jeneponto, 15 Juli 1986 yang karib disapa Burhan dulunya hanyalah seorang pengayuh becak. Dia sering mangkal di Jalan Alauddin persimpangan antara Jalan AP Petta Rani. Sejak pagi pukul 08:00 hingga 19:00 dia sabar menunggu orang-orang yang ingin gunakan jasanya.
Tak jauh dari tempat mangkalnya itu, terdapat penjual bambu. Sering dia mendapatkan orderan mengantarkan bambu-bambu pesanan orang menggunakan becaknya. Lumayan tarif jasa pengantaran bambu biasanya jauh lebih mahal ketimbang mengantarkan manusia. Apalagi kalau jaraknya jauh.
“Sebelum saya jualan bambu dan membuka usaha sendiri, saya dulu tukang becak yang suka antar pesanan bambu. Kebetulan tempat mangkal ku dulu itu sampingan dengan penjual bambu. Jadi saya sering dipanggil,” akunya.
Cukup lama bapak empat orang anak dari pasangan istri Daeng Neni mencari nafkah menjadi tukang becak. Dan membuka usaha jualan bambu tidak langsung begitu saja. Diawali dengan mendapatkan kepercayaan dan amanah mengelola usaha bambu.
Sela-sela waktu lowongnya menunggu penumpang becak, Burhan sering mengisi waktu menjadi pengatur bambu di tempat itu. Upahnya cukup untuk hanya sekadar membeli makanan dan kopi. Pekerjaan sambilan dilakukan selama satu tahun untuk mengurangi pengeluarannya makan dan ngopi.
“Satu tahun saya bantu-bantu atur bambu dan potong-potong bambu untuk dijadikan anyaman, saya kemudian diberikan kepercayaan mengawasi pekerja sampai pada memesan sendiri bambu dari daerah,” terangnya.
Setelah mendapat kepercayaan, Burhan putuskan untuk berhenti menjadi tukang becak. Hari – harinya mencari rezeki tidak lagi dengan bersusah payah mengayuh pedal becaknya. Penghasilannya terpenuhi dari gaji di tempat kerja jualan bambu.
Selama delapan tahun menjalankan amanah orang lain mengelola bisnis jualan bambu, Burhan memberanikan diri meminjam uang di bank. Dana tersebut digunakan sebagai modal membeli bambu dan membayar gaji para karyawannya. Lokasi jualannya di pilih di Jalan Yusuf DG Ngawing, tempatnya sekarang ini.
“Saya juga dapat dukungan dari bos saya dulu, bahkan sedikit saya dikasikan bantuan modal jualan. Lagian itu tempat saya juga jualan bambu sudah pindah, bukan mi lagi di Jalan Alauddin yang sekarang dipakai jadi tempat jualan pakaian,” paparnya.
Sekarang ini, Burhan sudah mempekerjakan sedikitnya lima orang sebagai karyawan. Tugasnya beragam mulai mengayam, memotong batang bambu sampai bertugas mencatat pengeluaran bagian pembukuan.
Batang bambu yang dijual didatangkan dari dua daerah, Kabupaten Maros dan Gowa. Jenis bambu adalah bambu Tali berwarna hijau. Bambu-bambu yang dijualnya ada yang sudah dibentuk jadi tangga, lasugi pengantin dan keranjang buah.
Khusus kerajinan bambu berupa Lasugi Pengantin, mulai dibuat ketika ada yang pesan. Harga yang ditawarkan beragam paling murah Rp700.000 sampai Rp4.000.000.
“Di Jalan Yusuf Dg Ngawing ini, saya sudah enam tahun jualan. Syukur karena bisa buka usaha sendiri. Di Jalan Alauddin, delapan tahun saya jualan dipercayakan kelola usaha tempat. Harga batang bambu saya jualkan dari Rp15.000 sampai Rp40.000, tegantung ukuran diameter,” tambahnya.
Pembeli yang memesan bambu sebanyak 50 batang dapat layanan pengantaran gratis. Pengantaran dengan mobil. Sedangkan pemesan dibawah 30 batang diantarkan ke lokasi menggunakan gerobak dengan biaya tambahan.
“Rata-rata bambu keluar setiap hari bisa 30 batang dan jarang pemesan lasugi pengantin. Dalam satu bulan bisa tiga kali pemesanan. Satu kali pemesanan satu mobil isi 200 batang bambu,” tutupnya. (arf)

