MAKASSAR, BKM — Kendati mendapat penolakan dari sejumlah kalangan masyarakat, pemerintah tetap melanjutkan Kampanye Imunisasi MR.
Penolakan masyarakat karena alasan vaksin MR belum mengantongi sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kampanye imunisasi itu berlangsung Agustus hingga September mendatang.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr Bachtiar, pada awal pencanangan vaksinasi tersebut, dari tanggal 1 sampai 3 Agustus, Sulsel mampu meraih ranking satu pemberian vaksin secara nasional.
Namun, karena ada masalah dengan Majelis Ulama Indonesia terkait kehalalan vaksin tersebut yang masih dipertanyakan, Sulsel sempat kita turun di urutan ke-7.
Menurut Bachtiar, hingga saat ini masih ada tiga daerah yang masih menunda pemberian vaksin, yaitu Kabupaten Gowa, Kabupaten Barru, dan Kota Palopo.
Oleh karena itu, kata dia, pihaknya akan mendekati ketiga kabupaten/kota tersebut, dan Penjabat Gubernur Sulsel telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh bupati/walikota se-Sulsel untuk menyukseskan program ini.
“Jadi bukan keamanannya, tapi yg dipersoalkan adalah sertifikat halalnya, Sulsel adalah daerah yg sangat religius, sehingga kami sangat paham itu, dan kami melakukan pendekatan persuasif sambil kami menunggu keputusan akhir dari MUI Pusat,” kata dr Bachtiar usai melaporkan progres kampanye imunisasi MR ke Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel, Soni Sumarsono di Rumah Jabatan Gubernur, Selasa (14/8).
Dia menambahkan, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menjamin keamanan vaksin Measles Rubella (MR).
“Dinas Kesehatan menjamin keamanan vaksin ini, demikian juga United Nations Children’s Fund (Unicef), dan World Health Organization (WHO), keduanya menjamin keamanan vaksin ini, karena telah melalui penelitian dan sudah uji coba yang cukup panjang,” tambahnya. Terkait kasus kematian seorang anak di Kabupaten Takalar yang dikaitkan dengan pemberian Vaksin MR, ia mengatakan, berdasarkan informasi dari dokter spesialis anak, kematian tersebut bukan karena vaksin.
“Untuk sementara dikategorikan akibat demam berdarah, karena terjadi pendarahan, trombositnya turun, kemudian demam turun, biasanya terjadi pendarahan, dan vaksin tidak ada kaitannya dengan pendarahan,” jelasnya.
Sementara itu, Pj Gubernur Sulsel Soni Sumarsono mengaku masih tetap optimistis jika kampanye imunisasi MR ini tetap bisa berjalan maksimal di Sulawesi Selatan.
Soni mengemukakan, sebenarnya MUI pusat sudah memberikan lampu hijau terhadap penggunaan vaksin MR. Namun, dia mengaku tetap menghargai keputusan warga yang masih tetap menunggu keluarnya sertifikat halal MUI sebelum memberikan imunisasi tersebut kepada anak-anaknya.
Dia mengemukakan, sebenarnya vaksin ini sudah dipergunakan di Malaysia, termasuk di negara-negara Arab. Pemberian imunisasi tersebut dinilai sangat penting karena merupakan investasi generasi muda Indonesia.
“Efeknya memang bisa terasa 20 tahun ke depan, ” jelas Soni. (rhm)
Gubernur Akui Imunisasi MR Sangat Penting
×

