MAKASSAR, BKM — Di balik kesibukannya mengajar, Prof Dr Anshari,MHum masih sempat menulis buku. Bahkan, guru besar Universitas Negeri Makassar (UNM) ini menghasilkan dua buku sekaligus.
Masing-masing berjudul Hitam Putih Demokrasi dan Mozaik Politik Kebangsaan. Bedah bukunya dilaksanakan di Hotel Kenari Tower, Rabu malam (29/8).
Dua buku ini disusun berdasarkan kumpulan beberapa opini karya Prof Anshari yang telah diterbitkan di berbagai media massa. Penanggap mengaku kagum, karena Prof Anshari yang berlatar belakang Bahasa Indonesia, mampu menulis beberapa tema selain kebahasaan dan pendidikan.
Prof Anshari mengatakan, dalam buku pertamanya yang berjudul Hitam Putih Demokrasi, ia hanya mengurutkan saja dari tanggal terbit opini karyanya. Selanjutnya ia susun menjadi buku. Sedangkan buku keduanya yang berjudul Mozaik Politik Kebangsaan, ia mulai menyususnnya secara tematik berdasarkan tema tulisan.
“Jadi ada empat tema yang disusun, yaitu tema pendidikan, hukum, kriminalitas, dan agama. Alhamdulillah, selama saya menulis di koran pun, baru satu tulisan saya yang mendapat tanggapan kurang positif. Sedangkan yang lainnya semua menanggapi positif,” kata Prof Anshari.
Dalam buku keduanya, ia sengaja mengurutkannya berdasarkan tema, bukan tanggal terbit. Tujuannya supaya lebih membantu para pembaca untuk mencari tema apa yang ingin dibaca sesuai minatnya.
Inspirasi pembuatan buku ini tercetus sejak dirinya sering melihat-lihat ada beberapa buku yabg serupa. Kumpulan dari beberapa opini di media massa yang dijadikan sebuah buku. Makanya, ia pun melakukannya juga untuk menuntun pembaca yang meminati tulisannya, untuk lebih cepat menemukan tulisan apa tang diinginkan atau dibutuhkan.
“Saya kan penulis opini di koran. Saya pernah melihat buku serupa, kenapa saya juga tak melakukannya. Karena itu saya pun lakukan dan jadilah buku ini. Pernah juga suatu saat saya sudah tulis tulisan itu, malah hilang. Nah kali ini saya gunting, simpan dan dijadikan sebuah buku,” jelasnya.
Prof Anshari mengatakan, ia sengaja membuat buku ini dengan bahasa yang sedemikian rupa, sehingga mudah dibaca dan dipahami oleh semua kalangan masyarakat. Ia berharap, mulai dari kalangan atas sampai bawah bisa mencerna tulisannya.
“Bahasanya ringan, karena saya tidak mengulas suatu persoalan secara teoritik, namun secara pragmatis saja. Tidak merujuk pada suatu teori, walaupun ada beberapa tulisan saya yang diperkuat dengan teori. Supaya meyakinkan pembaca kalau saya melihat fenomena dari sudut pandang teori,” tambah Prof Anshari.
Penanggap yang hadir dalam bedah buku tersebut adalah Penggerak Literasi Sulsel Bachtiar Adnan Kusuma, dan pengamat politik UIN Alauddin Firdaus Muhammad.
Bachtiar mengatakan, kedua buku Prof Anshari sangat baik dan bagus. Baik dari segi isi, maupun bahasa.
Bachtiar juga memuji Prof Anshari sebagai pribadi yang baik. Apalagi dari deretan guru besar, hanya sedikit saja yang karyanya dituangkan dalam karya artistik berbentuk buku. Olehnya, Bachtiar menganggap Prof Anshari sebagai pribadi yang memiliki keahlian.
“Hanya sedikit dari deretan guru besar yang menulis buku. Nah, Prof Anshari ini beda. Kita butuh orang seperti beliau untuk menyebarkan virus literasi,” kata Bachtiar.
Firdaus pun menilai hampir serupa. Ia melihat Prof Anshari ini sebagai penulis, bukan akademisi. Tapi kekuatannya justru disitu, di akademisinya atau di pendidikannya.
“Kalau akademisi itu kan pasti mengedukasi tidak keluar dari keahliannya. Berbeda kalau penulis, ia bisa menguasai berbagai keahlian, seperti Prof Anshari ini. Keunggulannya penulis juga adalah ia merupakan pembaca yang baik,” katanya.
Firdaus tak luput memberikan pandangan mengenai buku yang diterbitkan Prof Anshari. Jika dilihat dari keseluruhan, Firdaus sangat menyukai sampul dan judul bukunya. Karena mozaik itu punya makna yang mendalam. Ada budaya, pendidikan, dan ada juga sastranya. (nug/rus)
Guru Besar UNM Hasilkan Dua Buku
×

