HASANUDDIN adalah pria kelahiran Bone, 60 tahun lalu. Dia dibesarkan di Soppeng, sebelum akhirnya menghabiskan masa tuanya hingga kini di Makassar. Di masa tuanya pula ini lah, ia menghidupi keluarganya dengan hasil dari berjualan batu akik.
Laporan: NUGROHO
Penghasilan satu-satunya hanya dari berdagang batu akik. Namun ternyata ia mampu menghidupi dua istrinya, hingga menguliahkan anak-anaknya. Bahkan dari total lima anaknya, satu anaknya kini telah bekerja di Jepang sebagai karyawan swasta disana.
Kepada penulis, Hasanuddin masih terlihat begitu semangat menjual batu akik. Katanya, pekerjaan ini memang yang ia sukai dan tak mau lagi beralih pekerjaan. Selain itu tentu ia juga merupakan penyuka batu akik.
Istri keduanya pun kini juga menjual batu akik di Pasar Sentral Makassar. Hasanuddin yang dulu menjual batu akik disana, telah digantikan oleh istrinya. Hasanuddin pun membuka lapak baru ditempatnya kini.
Sebelum pukul 10.00 pagi, Hasanuddin sudah beranjak dari rumahnya di Jalan Batua Raya menuju Jalan Tamalate 1 untuk berjualan. Tepat jam 10.00 lah ia mulai berjualan hingga pukul 14.30 baru ia kembali untuk pulang. Rutinitas inilah yang ia kerjakan setiap harinya.
Beberapa jenis batu ia jual dengan harga yang juga bervariasi. Mulai dari jenis batu safir, batu pirus, batu merah siam, batu alexander, batu kalimaya, batu menyala, sampai batu lobo ada di tempatnya. Harganya mulai dari Rp35 ribu hingga Rp2 juta. Tergantung minat para pembeli.
“Kalau yang Rp35 ribu ini kayak batu merah siam, karena ini batu lokal ji. kalau batu safir sama batu pirus, ini yang harganya sampai Rp2 juta,” kata Hasanuddin.
Hasanuddin mengatakan, walaupun harganya mahal, namun masyarakat lebih banyak mencari batu jenis safir dan pirus. Batu yang berasal dari luar negeri ini memang dikenal dengan batu dengan motif yang cantik. Apalagi Hasanuddin telah mengukirnya dengan bentuk yang unik. Ada yang bulat seperti biasa, ada yang mengkerucut seperti bentuk corong.
“Sekarang kalau batu-batu dari luar banyak yang cari, kayak ini safir sama pirus. Kalau batu lokal sepi, bahkan hampir ndakda yang cari,” ucapnya.
Hasanuddin juga menceritakan, jika dulunya, banyak sekali pelanggannya yang berdatangan dari luar Makassar. Seperti dari Soppeng, Sengkang, sampai Palopo. Berbeda dengan sekarang yang telah begitu sangat jarang ada orang-orang dari luar Makassar yang mencari batu ditempatnya.
Ia juga tak memiliki harapan apa-apa. Baginya, menjual batu akik sudah menjadi hidupnya. Ia pun ingin selamanya menjual batu akik. Karena baginya, profesinya kini pun sudah ia anggap lebih dari cukup.
Ada puluhan cincin berbatu akik yang ia jajakan. Mulai dari jenis batu lokal hingga luar negeri. Tempat jualannya begitu sederhana. Hanya bermodalkan karpet, ia menyusun semua batu akiknya di emperan jalan tersebut. Sambil setia menunggu pelanggan yang menawar batu-batu akiknya.
Di lokasi tersebut, bukan ia sendiri yang berjualan batu akik. Ada sekitar lima pedagang lainnya yang juga masih setia berjualan batu akik.
Hasanuddin tak pernah lupa akan masa jayanya batu akik kala dulu. Saat itu, dalam sehari ia bisa meraup untung berlipat dari penjualan batu akik. Sampai Rp50 juta pun ia bisa dapatkan, karena sangat banyaknya orang yang mencari. Dulu orang yang datang ke tempatnya tak pernah sepi. Selalu saja orang-orang mengerumuni tempatnya.
Namun sekarang kondisinya telah jauh berbeda. Sekarang, ia sudah sangat bersyukur jika bisa mendapatkan keuntungan sampai Rp300 ribu perhari. Bahkan biasanya, hanya Rp150 ribu saja yang bisa dibawa pulang.
“Kalau dulu, saya ke Jakarta untuk ambil batu itu bisa sampai tiga kali dalam sebulan, saking lakunya. Sekarang ndak bisa mki begitu. Sekarang saja di tempatku ini, biasa ta lima orang ji datang dalam sehari, itupun belum tentu beli,” ucapnya.(nug/war/b)

