SEMUA manusia di mata hukum tetap sama, tak ada bedanya apakah dia seorang pejabat, pengusaha, penjahat maupun pembunuh. Mereka bisa saja khilaf melakukan kesalahan yang cukup berat sehingga harus mendekam di balik jeruji besi.
Laporan: JUNI SEWANG
Di dalam penjara-pun tidak selamanya pekat. Mereka yang berada di dalam sel selalu saja ada yang bertobat, seperti yang dilakukan Iqbal Saputra alias Tony.
Pria berusia 21 tahun itu merupakan warga Jalan Rajalawali 1 Lorong 13 B, kelurahan Pannambungan, kecamatan Mariso. Ia ditahan dalam kasus pembunuhan dan penganiayaan.
Siang pada senin kemarin, cuaca di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas I A Makassar terlihat agak panas. Penulis sempat menemui Iqbal yang sibuk mengurusi klinik kesehatan yang berada dalam lapas. Iqbal mengaku kepada penulis, kalau di dalam lapas ia baru mengenal tuhannya. Iqbal Saputra tidak seperti kebanyakan napi yang merasa terkurung, Iqbal malah mengaku menemukan ‘kebebasannya’ di tempat ini.
“Orang lain bilang sial masuk penjara, terkurung badan bertahun-tahun. Tapi bagi saya justru ini sebuah keberuntungan dari tempat ini saya mengenal tuhan. Di tempat ini saya merasakan petobatan, saya dijatuhi hukuman 12 tahun atas pembunuhan, 7 bulan untuk penganiayan,” ujarnya saat ditemui lingkungan Lapas.
Kehidupan penjara Iqbal Saputra di mulai pada 2015, palu hakim menjeratnya dengan Pasal 340 tentang pembunuhan berencana dan 170 atas penganiayaan, atas putusan itu ia menjalani kurungan badan selama 12 tahun 7 bulan penjara. Perjalanan nasib mengantarkan Iqbal Saputra ke Lapas Klas 1 A Makassar yang menerapkan pola pendidikan yang dirasakan oleh Iqbal Saputra. Dia menjadi penghuni di sel D 1 Kamar 5. Sebagai napi dengan kasus pembunuhan, Iqbal Saputra melewati hari harinya bekerja di Klinik perawatan Lapas Klas 1 A Makassar, sebagai Tamping.
“Dalam waktu singkat semua napi kenal saya, syukurnya saya diajak membantu sebagai Tamping Klinik Lapas oleh Kepala Seksi Perawatan, Amsar Amir. Menurutnya petugas ini kerap memaksanya menjalankan ibadah. Mulai dari kewajiban lima waktu hingga yang sunah. Pagi dibangunin buat salat subuh, lalu disambung lagi dengan salat duha diminta buat baca Alquran. Terus saja seperti itu, didikan beliau keras dalam mendisiplinkan. Saya yang awalnya terpaksa akhirnya terbiasa,” cerita Iqbal Saputra. (jun)

