UNANG adalah orang Makassar asli. Walaupun kini ia tinggal di Kabupaten Gowa. Tiap harinya, ia pun harus pulang balik Gowa-Makassar untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Laporan: NUGROHO
Hanya memiliki satu anak. Anaknya yang bernama Putra, yang kini berusia 19 tahun, sudah mampu bekerja seperti ayahnya. Di tempat ayahnya bekerja di Jalan Muna, Putra juga digaji secara profesional oleh ayahnya.
“Putra juga sama saya kerja di sini. Daripada tidak ada dia bikin. Sekarang juga dia sudah jago ji buat kunci. Saya gaji dia juga lah. Biasanya Rp200 ribu perhari saya gajikan Ki,” kata Unang.
Sebelum pukul 21.00 malam, Unang sudah harus pergi dari rumahnya untuk bersiap membuka lapaknya. Dengan menaiki motor, ia berangkat dan harus telah membuka lapaknya tepat pukul 09.00 pagi.
Ia tidak membawa kunci-kunci. Karena semua kuncinya ia simpan di lapaknya.
Selain menduplikat kunci, Unag juga menyediakan jasa pembuatan kunci. Seperti misalnya pelanggan yang kehilangan kunci, ia membuatkan kunci tang baru. Tentu saja biayanya tak sama seperti menduplikat.
“Kalau misalnya motor yang hilang kuncinya na bawa ke sini, itu saya kasih biasa hanya Rp 35 ribu ji. Tapi kalau misalnya saya yang datangi, biasanya Rp 50 ribu atau Rp 60 ribu, tergantung jaraknya yang saya datangi,” jelasnya.
Unang sendiri sudah sejak lama menjadi tukang reparasi kunci. Tepatnya sejak tahun 1989 silam. Selama itu, ia pun mengatakan telah beberapa kali pindah lokasi lapak.
Mulai dari di Jalan Irian, kemudian pindah ke Jalan Wahidin Sudirohusodo, dan terahkir di Jalan Muna. Alasannya beragam, dari waktu terbakarnya Pasar Butung yabg mengharuskannya pindah, sampai ditertibkan oleh pemilik lahan ditempat lapaknya berdiri.
Namun dikatakan Unang, hal itu adalah persoalan biasa yang harus diterimanya karena tak memiliki tempat yang tetap.
Untuk pengalaman sendiri, Unang juga tak menampik sering mendapati pelanggan yang ‘nakal’. Soal tak dibayar, menjadi pengalaman yang sering baginya. Karena biasanya banyak orang yang datang kepadanya membuat kunci, namun tak memiliki uang.
Pernah suatu saat, ada orang yang mendorong motornya sampai ditempatnya. Setelah Unang membuatkannya kunci, ternyata orang tersebut tak membawa uang. Orang tersebut pun akhirnya menitipkan kartu pemilihnya ke Unang dan akan kembali kemudian.
Namun setelah beberapa lama, orang tersebut tak kunjung datang. Unang pun mencoba mencari alamat si pemilik kartu pemilih. Setelah ketemu, orang tersebut degan entengnya mengatakan lupa.
“Dia bilang lupa, terus dia ambil uangnya mau bayar. Ini kan kalau begini jelas-jelas memang dia ndak niat bayar. Jadi saya ndak ambil uangnya, saya kasihkan saja kartunya, karena ku pikir mau ku pake apa itu kartu,” ucapnya.
Dikatakan Unang, hal tersebut menjadi biasa. Namun yang pasti, ia tak mau mempersoalkan lebih panjang jika terjadi hal serupa.
Penghasilannya yang mencapai sekitar Rp500 ribu perhari ternyata belum cukup baginya untuk membeli sebuah ruko. Hal yang sempat ia dambakan untuk membentuk usahanya menjadi lebih besar.
Karena selanjutnya, usaha ini nantinya akan diwariskannya ke Putra.
Unang setiap hari melayani orang-orang dalam menggandakan atau mengganti kuncinya yang hilang.
Perbedaan reparasi secara konvensional dan dengan menggunakan alat cetak tentu adalah durasi pembuatan yang relatif singkat. Selain itu, pembuatannya juga terbilang lebih mudah karena langsung dicetak oleh alat tersebut.
Jika secara konvensional harus diukur dan diukir, Unang hanya menempelkan kunci yang akan dicetaknya di mesin pencetak tersebut. Hanya butuh waktu kurang lebih satu menit saja, kunci akan terukir sendiri dengan alat tersebut secara otomatis.
Berbagai macam kunci bisa ia kerjakan, dari kunci rumah, kunci gembok, kunci motor, sampai kunci mobil. Ternyata tidak semua kunci sama. Unang mengatakan, semua tergantung dengan bahan dan model kunci tersebut.
“Tidak semua kunci sama, makanya saya punya tiga alat cetak yang beda semua. Selain bahannya semua beda, kunci-kunci kendaraan yang baru semua itu rata-rata bentuknya kotak. Nah itu pasti ndak bisa dibuat kalau diukir, harus pakai alat,” jelas pria 47 tahun ini.
“Untuk kunci kendaraan saja, setiap merek beda juga itu bahannya. Bahannya juga kadang susah didapat, ndak semua sesuai. Nah susahnya kerja begini juga begitu, susah cari bahan kunci yang sama,” tambahnya.
Tarif yang dipasang oleh Unang sendiri juga berbeda-beda. Tergantung bahan yang dipakai dan kerumitan pembuatannya. Mulai dari Rp10 ribu sampai Rp25 ribu.
Untuk yang harga Rp10 ribu, biasanya adalah kunci dari sepeda motor dengan merek dan model yang lawas. Sedangkan yang harga Rp 25 ribu, biasanya adalah kunci mobil dengan merek dan keluaran terbaru. Karena kunci kemdaraan keluaran terbaru dikatakan unang semakin sulit dikerjakan.(nug/b)

