NURUL Istikharah terbaring lemah tak berdaya di salah satu ruang perawatan di Private Care Centre (PCC) RSUD Wahidin Sudirohusodo. Dara kelahiran 19 Oktober 2002 itu, pada Rabu (3/10) malam baru saja menjalani operasi pada kedua kakinya.
Yah, kedua kakinya terpaksa diamputasi karena sudah tidak bisa berfungsi secara total. Operasi kedua kembali dijalaninya pada Kamis sore (4/10) sekitar pukul 18.00 Wita.
Menurut penuturan ayahnya, Yusuf yang dengan sabar mendampingi sang anak, Nurul merupakan salah satu korban gempa Palu. Saat guncangan dahsyat terjadi, kaki Nurul tertimbun di tanah di sekitar perumahannya, Perumnas Balaroe.
Malang, kaki Nurul harus tertanam selama empat malam tiga hari di tanah, sebelum akhirnya bala bantuan datang dan mengevakuasi remaja perempuan tersebut.
Saat kakinya berhasil diangkat dari tanah, kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Nurul pun langsung dievakuasi menuju ke Bandara Mutiara Sis Al Jufrie, untuk selanjutnya menggunakan pesawat Hercules dibawa ke Makassar pada Rabu siang (3/10).
Dia tiba di Makassar sekitar pukul 15.00 Wita dan langsung dilarikan ke RS Wahidin Sudirohusodo. Tim dokter menanganinya dan Nurul pun dioperasi untuk mengangkat kedua kakinya yang sudah membusuk.
Masih di rumah sakit yang sama, ada seorang balita berusia empat tahun bernama Raisa. Ia terbaring di salah satu tempat tidur UGD. Tangan kirinya digips karena mengalami patah tulang.
Demikian pula kepalanya, dibalut perban karena ada luka yang sementara dalam proses pengobatan. Wajahnya penuh lebam. Sementara tangan kanannya dipasangi infus.
Saat dibesuk oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, tak ada ekspresi yang ditunjukkan wajahnya. Dia lebih banyak berdiam diri. Mungkin karena masih trauma terhadap bencana yang menimpanya. Raisa sudah empat hari dirawat di RS Wahidin Sudirohusodo ditemani sang bapak, Ruslan.
Selain Nurul dan Raisa, masih ada 100-an lebih pasien korban gempa Palu dan Donggala yang dirawat baik di RS Wahidin Sudirohusodo maupun di Private Care Centre.
Untuk Wahidin, data yang diperoleh, pasien yang menjalani perawatan berjumlah 115 orang. Terdiri dari laki-laki 52 orang, dan perempuan 63 orang. Yang kini masih dirawat sebanyak 73 orang. Sementara 40 orang sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit karena kondisinya telah membaik. Sedang dua lainnya meninggal dunia.
“Mereka tidak perlu siapkan biaya. Pemerintah yang menanggung semua. Bisa dicek, tidak ada kita bebankan. Justru kita kasih bekal,” kata Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah saat mengunjungi para korban gempa.
Ada 12 rumah sakit di Makassar yang disiapkan untuk pasien pengungsi dari Sulteng. Di rumah sakit itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengucurkan bantuan sebesar Rp250 juta untuk para pasien yang dirawat.
Ribuan Pengungsi Tiba
Pukul 12.45 Wita, Kamis (4/10), KRI Makassar bersandar di Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar. Kapal ini membawa 1.609 penumpang korban gempa dan tsunami dari Sulawesi Tengah.
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menjemput langsung. Penumpang yang sakit diprioritaskan.
KRI Makassar berangkat dari Pelabuhan Pantoloan, Palu, 3 Oktober 2018 pukul 12.00 Wita. Di antara penumpang tersebut, sembilan orang sakit dan dua orang melahirkan.
“Protapnya kita sama dengan penerimaan kita di Lanud Hasanuddin. Jadi yang sehat duluan turun. Terus yang sakit di atas itu sudah ditentukan,” kata Nurdin Abdullah.
Pasien sakit akan diantar ke rumah sakit. Tergantung tingkatan sakitnya. Yang mengalami luka serius atau butuh penanganan khusus langsung dibawa ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Bagi yang lukanya lebih ringan, dirujuk ke rumah sakit lainnya. Seperti RS Pelamonia dan RS Sayang Rakyat.
“Ada 12 rumah sakit kita siapkan. Yang sehat langsung kita bawa ke Asrama Haji. Di sana keluarganya sudah menunggu,” sebutnya.
Makanan siap konsumsi langsung juga sudah disiapkan, sebut Nurdin. Temasuk cemilan, biskuit dan roti.
Sementara, penumpang yang akan melanjutkan ke daerah lain, tiket juga disiapkan. Koordinasi dengan semua pemerintah daerah juga dilakukan.
Pemprov Sulsel berjanji akan tetap memberikan bantuan, usai semua warga dievakuasi. Sulsel akan membangun 100 rumah. Lokasinya bisa di Sulteng atau di Sulsel.
“Rencananya kita siapkan 100 rumah. Kita bangun rumah yang status tanahnya sudah jelas. Lokasinya bisa di Palu. Kalau di sini juga kita bantu. Termasuk pekerjaan yang ada di sini,” pungkas NA.
Pada Kamis malam (4/10) sekitar pukul 20.00 Wita, satu kapal kembali merapat di Pelabuhan Soekarno Hatta. Membawa sedikitnya 500 lebih pengungsi gempa Palu-Donggala. (rhm/rus)

