MAKASSAR, BKM– Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat nilai ekspor Sulsel pada September 2018 mencapai US dollar 93,80 juta atau menurun 5,78 persen dibanding ekspor Agustus 2018. Begitupun ekspor Sulsel ke Sulteng, Palu ikut menurun akibat gempa dan Tsunami penurunan itu dibawah 10 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, ekspor sulsel ke provinsi Sulteng ikut turun karena dipengaruhi pasca gempa yang terjadi. Terlebih lagi ekonomi Sulteng dalam beberapa minggu belakang sempat lumpuh akibat bencana tersebut.
“Diibaratkan begini ketika ada gelombang di air yang terjadi di Sulteng pasti ada dampaknya, apalagi yang berhubungan dengan komoditi atau ekonomi, secara tidak langsung pasti terkena dampaknya,” ungkapnya usai membaca rilis di Kantor BPS Sulsel, Senin (15/10).
Lanjutnya bahwa, gangguan ekspor sulsel ke Sulteng tidak terlalu jauh berpengaruh terhadap penurunan ekspor antar provinsi. Sebab selama ini ekspor Sulsel lebih banyak ke luar negeri seperti Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat dan Australia.
“Dengan gangguan ekspor barang kesana tidak secara langsung berdampak, inikan sebagian ekspor kita ke luar negeri, makanya relatif kecil pengaruhnya ke Provinsi Sulsel ke Sulteng. Meskipun yang dikonsumsi masyarakat Sulteng menjadi berkurang, tapi bukan produknya berkurang, cara sampainya jadi lebih mahal,” jelasnya.
Adapun penurunan ekspor Sulsel antar provinsi utamanya ekspor barang ke Sulteng hanya turun di bawah 10 persen. “Distiribusi ini mempengaruhi volume transasksi antara dua provinsi, tapi saya pikir tidak akan lama. Kecil sekali pengaruhnya, bisa di bawah 10 persen,” ucapnya.
Sedangkan berbicara mengenai geliat ekonomi di Sulawesi Selatan tercatat secara perbandingan di bulan sebelumnya memang turun sebesar 5,78 persen. Namun dilihat dari capaian september pada tahun sebelumnya di bulan yang sama ekspor sulsel mengalami peningkatan sebesar 15,82 persen atau US Dollar 80,98 juta.
“September di banding agustus, baik ekspor dan impor mengalami penurunan. Tapi secara kumulatif, tetap positif sekitar 15 persen ekspor dan 13 persen impor. artinya geliat ekonomi di sulsel cukup bagus dalam aktivitas domestik di sulsel peningkatan produk dan jasa yang dihasilkan,” bebernya.
Namun penurunan ekspor dibanding impor pada bulan september lalu, diyakini BPS akan mengalami peningkatan pada bulan selanjutnya. Dilima komoditas utama yang diekspor seperti biji-bijian tanaman berobat, kayu dan barang.
“Meskipun mengalami devisit di posisi september, tapi kita yakin di bulan-bulan berikutnya permintaan ekspor lebih meningkat dibanding impor, ini masih tersisa dibulan oktober, november dan desember yang puncaknya di akhir tahun,” terangnya.
“Walaupun nilai tukar rupiah menurun ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap jumlah ekpor kita secara volume. Bisa jadi ini disebabkan permintaan diluar negeri ini terjadi permintaan musiman, nanti diblan setelah ini mungkin akan naik, begitupun dengan impor kita bisa lihat trnyata impor secara volume mengalami penurunan, faktor terbesa volumenya turun karena bahan bakar,” tuturnya. (ita)
Ekspor Sulsel Turun 5,78 Persen
×

