RASA kasih sayang yang dicurahkan Nurhayati ke anak didiknya, sama dengan cara mendidik anak kandungnya sendiri di rumah.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Waktu 12 tahun bagi Nuhayati adalah bagian dari perjalanan pengabdiannya untuk membagi kasih sayang, kepada anak-anaknya dan anak-anak berkebutuhan khusus.
Sehari-harinya Nuhayati disapa bunda Ati sangat dekat dengan anak-anak didiknya. Karena kedekatannya itu, Ati tidak susah mengajarkan mereka bahkan pihak sekolah mempercayakannya sebagai ketua pembina anak-anak berkebutuhan khusus.
“Saya tidak pernah membedakan cara didik anak di sekolah dan di rumah, apa yang saya terapkan ke anak saya dengan anak di sekolah tetap sama. Kalau mau tahu perasaan anak kebutuhan khusus itu sangat miris mereka kerap terpinggirkan dari kehidupan masyarakat,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu di sebuah acara sekolah SLB se Makassar.
Lanjut Ati, bahwa suka duka tidak perlu ditanyakan lagi, dikarenakan jika mengajari anak berkebutuhan khusus keduanya tersebut pasti ada. Bahkan untuk mendidik anak berkebutuhan khusus ini tidak hanya mendapat support dari keluarganya saja, karena suami dan ketiga anak-anak terkadang mendampinginya ketika mengikut sertakan anak didiknya di Sekolah SLB-A Yapti Makassar.
“Alhamdulliah, suami dan anak-anak sangat mendukung saya di pekerjaan ini, bahkan mereka yang semangat mengantar kalau ada anak didik saya itu mau ikut lomba seperti ini mi’ mau ikut lomba menari. Karena saya ajarkan ke anak-anakku dek, jangan pernah menghina seseorang karena orang itu ada kekuarangan atau kurang sacara fisik, kita harus tetap saling kasih mengasihi,” ujarnya.
Menurut Ati, pekerjaan ini bukan hanya sebagai bentuk pengajaran kepada anak-anak berkebutuhan khusus, melainkan pekerjaan ini sebagai bentuk kerja sosial yang bisa menyelamatkan anak-anak yang membutuhkan penyemangat hidup. Separuh waktu ia mengisi waktunya untuk mendampingi anak-anak yang kurang beruntung, mereka memiliki keterbatasan secara fisik dan mental, yakni anak-anak tuna rungu, tuna grahita dan autisme.
“Saya tidak pernah menyesal, bahkan rasanya sulit meninggalkan tugas yang telah memberikan banyak pengalaman,” ucapnya.
Walaupun dulunya Ati mengakui, tidak pernah berkeinginan mengajar ke sekolah khusus, melainkan ingin di sekolah biasa atau umum. Namun, seiring berjalannya waktu dan banyaknya pengalaman yang ia dapatkan, mengajar anak-anak berkebutuhan khusus justru memberikan pengalaman tersendiri.
“Itulah yang saya bilang, dukungan keluarga itu penting untuk membuat semangat dalam mengajar anak-anak kebutuhan khusus, karena awalnya saya tidak ada niatan untuk mengajar tapi saudara saya yang menyarankan untuk mengambil kuliah pendidikan luar biasa, akhirnya saya coba dan ternyata memang sudah jalannya,” jelasnya.
“Apalagi yah, anak-anak ini tidak pernah menginginkan terlahir dalam kondisi kekurangan. Saya ingin membuat mereka merasa berharga dengan memberikan bekal keterampilan dan ilmu yang semampunya mereka terima, nmanya juga anak berkebutuhan khusus, jadi cara mendidiknya pun khusus,” tambahnya.
Nuhayati-pun menuturkan, baginya tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara anak yang berkebutuhan khusus dengan anak yang normal pada umumnya, sebab ia melihat anak yang berkebutuhan khusus jauh lebih tekun berusaha belajar dan mau berusaha mandiri tanpa perlu dikasihani orang lain.
“Kan banyak sekarang anak-anak itu jauh tidak menghargai kesempurnaan yang tuhan berikan, sedangkan anak seperti adel ini (Tunjuk anak didiknya), tekad usaha belajarnya tekun sekali, mencari tahu apa yang ada disekitarnya, mau mencoba pelan-pelan. Makanya saya yakin anak khusus seperti ini jauh lebih dari anak yang lainnya,” tuturnya.
Seperti saat ini, Nuhayati yang mengajar kelas B atau anak-anak tuna rungu, terus melakukan upaya untuk siswanya dengan mengikutkan berbagai lomba siswa dan mengajarkan berbagai keterampilan yang menurut orang sulit dilakukan bagi anak yang berkebutuhan khusus. Ia mengajar keterampilan kepada anak-anak berkebutuhan khusus ini mulai tahun 2002 hingga saat ini mulai mengajari menari, menjahit, olahraga dan lainnya.
“Kita memang punya namanya keterampilan di sekolah dek. Jadi, dimana minat mereka kita ajari sebisa mungkin, kami juga harus banyak mengajar dengan mereka itu sebenarnya ngobrol, berbicara, masukan kata-kata jadi biar mereka itu paham kalau misalnya garam rasanya asin, musik itu dengan irama,” jelasnya.
Menurut Ati sapaan akrabnya, menjelaskan anak berkebutuhan khusus ini lebih tertarik pada pelajaran keterampilan dari pada teori. Olehnya itu, pengajaran yang diterapkannya tidak banyak di penjelasan, lebih banyak kebutuhannya adalah keterampilan untuk kemandirian mereka sendiri.
“Beda, sangat jauh beda. Karena praktek lebih mereka perlukan ketimbang teori. Banyak biasanya salah mengajarkan, biasanya itu guru baru, kalau saya dek lama mi jadi apa yang mereka butuhkan dan mau itu saya sudah tahu. Tidak gampang dek, salah maksud saja biasanya mereka susah diajarkan, harus sentuh hatinya dulu untuk mau kita dekati,” katanya.(ita)

