MENEKUNI bisnis tidak harus membutuhkan modal besar, dan tidak juga menunggu usia yang matang untuk menjalaninya. Seperti yang dilakukan Muh Ipul yang memulai bisnis percetakan stiker di Jalan Abdul Dg Sirua sejak usia 18 tahun.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Saat itu, Ipul masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas. Awalnya ia menyempatkan waktu pulang sekolahnya dengan menjual stiker yang mangkal di pinggir jalan. Ia memajang stikernya memakai tali yang diikat kencang di pohon. Dari hasil kerja kerasnya tersebut, kini Ipul sudah mampu memiliki lahan sendiri dengan membangun toko pembuatan stiker dibantu tiga pegawainya.
“Awalnya saya hanya penjual stiker di jalan-jalan sana mba (Tunjuk tempat jualannya dulu), saya cuman ambil stiker-stiker biasa dulu. Kalau pulang sekolah saya jualan di depan sekolah,” ungkapnya saat ditemui di tokonya di Jalan Abd Sirua.
Bermula dari situlah Ipul juga menekuni bidang desain. Ia mulai belajar dari tempat usaha pembuatan stiker. Bahkan kala itu, ia sering dimarahi orang tuanya sebab di jam pulang sekolah, Ipul tidak langsung pulang ke rumah. Bahkan ia lebih banyak menggambar daripada belajar pelajaran sekolah.
“Iya orang tua saya selalu marah, karena pulang sekolah saya selalu keluyuran. Keluyuran bukan berarti bermain bersama teman, tetapi saya ke tempat sablon lah dan belajar desain sambil menjual. Makanya sering dimarahi sama bapak karena terlambat pulang ke rumah dan tidak pernah belajar,” ucapnya.
Tapi hasil ketekunan itulah, Ipul bisa mengembangkan jasa pembuatan dan pemasangan stiker motor dan mobil. Kini seperti kehidupan Ipul, lelaki berumur 27 tahun ini menghidupi diri dan keluarganya dari lembaran-lembaran stiker buatannya.
“Tapi biar bandel banget mba dulu, saya itu orangnya pebisnis sekali, bahkan apa saja saya jadikan bisnis. Tapi memang bakat dan naluri saya jadi pebisnis stiker itu sangat bulat sekali, makanya biasanya saya lansung yang desain stiker-stiker disini, kalau yang lain (Pegawainya) tinggal polesi saja,” tuturnya.
Selain itu, bapak satu anak ini mengaku suka duka di bisnis yang ia jalani banyak, utamanya tuntutan gambar dan kata-kata menarik. Sekaligus desain gambar yang diinginkan konsumen, jadi salah satu pekerjaan rumah bagi Ipul. Untuk itu, ia biasanya mencoba mendesain sendiri atau membeli stiker-stiker yang sudah jadi namun berharga miring.
“Biasanyakan kita baru cetak kalau sudah ada permintaan desain seperti apa dari konsumen. Maunya konsumen inikan biasanya macam-macam, jadi harus digambar dulu polanya seperti apa maunya, biasanya yang begitu agak merepotkan, kecuali stiker yang sudah dipajang dan konsumen tinggal mau dipasangkan itu enak,” akunya.
Untuk biayanya sendiri, awalnya Ipul menjual di pingir jalan hanya bermodalkan uang Rp150 ribu yang ia selalu tabung dari uang jajannya. Kini, dengan adanya modal yang ia dapatkan ia bisa mendirikan toko stiker motor mobilnya yang terkenal di Makassar.
“Modal buka usaha ini lumayan, ada bantuan beberapa teman, yah ada sekitar Rp80 Juta karena sudah beli peralatan, mesinnya cetaknya sama membangun toko. Biasanya yang pasang dalam sehari itu ada 5-8 motor/mobil, dan prosesnya itu beda-beda karena biasanya pemasangannya itu kita sesuaikan dulu dengan maunya konsumen,” jelasnya.
Tidak hanya stiker saja yang ia jadikan bisnis, melainkan juga pemasangan prabotan motor mobil termaksud memodivikasi motor mobil juga dikerjakannya. Untuk harga pembelian dan pemasangan stiker motor ia patok dari harga Rp100-250 ribu dan ia patok stiker mobil full body dari harga Rp 350 ribu hingga Rp5 juta lebih. (ita)

