SELAIN menjalani kehidupannya yang penuh ekstra keras, Kiki juga memiliki kisah pilu. Kisah ini diceritakannya disela-sela penulis mewawancarainya. Kisah masa lalunya yang tak bisa ia lupakan.
Laporan: NUGROHO
Kedua orang tuanya telah meninggal saat Kiki masih menempuh pendidikan di SD. Ia lupa tepat umur berapa saat itu ditinggal oleh orang tuanya, yang jelas kepergian orang tuanya membuat dirinya harus banting-tulang sendiri dari saat anak-anak hingga kini.
Kepergian orang tuanya pun membuat dirinya tak bisa menyelesaikan sekolah. Hingga saatnya kini ia menjadi tukang semir sepatu, ia sadar akan sulit mencari pekerjaan lain karena ijazah SD pun tak punya.
Saat dirinya masih berusia sekitar sembilan tahun, Kiki harus telah merantau jauh untuk bisa menghidupi dirinya sendiri. Anak seusia itu, yang seharusnya mendapat pendidikan yang layak, telah harus bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Jakarta.
Ia ditempatkan di rumah majikannya saat itu. Tugasnya selayaknya PRT lain. Mencuci, menyapu, membersihkan rumah telah ia jalani sejak saat anak-anak.
Namun Kiki mengatakan, ia tak betah bekerja ditempatnya saat itu. Terang saja, karena dirinya kerap disiksa, bahkan gajinya tak dibayarkan. Sungguh tragis, sedari anak-anak, Kiki telah merasakan kerasnya hidup.
“Sering ka dulu disiksa. Dipukul ka, terus gajiku ndak na bayar. Pokoknya ndak mau ma lagi kerja rumah tangga begitu,” kata Kiki.
Setelah trauma dan tak mau lagi menjadi PRT, Kiki pun mulai mencoba pekerjaan baru. Semir sepatu yang ia tekuni hingga saat ini, ternyata dipelajarinya sewaktu di Jakarta. Perlahan-lahan ia pelajari dari orang-orang terdekat, hingga kemudian ia memutuskan untuk terus menggelutinya.
Lama di perantauan, Kiki pun rindu Makassar. Setelah mahir menjadi tukang semir sepatu di Jakarta, Kiki pun memutuskan untuk pulang ke Makassar.
Pulang ke Makassar tak serta merta lepas dari penderitaan. Kiki yang saat ini tinggal bersama kakak tirinya pun kerap dimarahi olehnya kalau tidak mengerjakan pekerjaan rumah.
“Sering ka dimarah-marahi kakakku, na mintaki uangku, kalau ndak dikasih na marahi ma. Sekarang saja, yang bayar itu rumah kontrakan saya ji,” tambah Kiki.
Namun Kiki tetap merasa ikhlas dengan keadaannya hingga kini. Ia tak pernah menyesalinya sekalipun. Bahkan ia percaya suatu saat hidupnya akan bisa lebih baik.
Di Kantor Balai Kota, hampir semua pegawai negeri maupun honorer mengenal Kiki. Kiki sudah puluhan tahun mencari rezeki di kantor tersebut, dan bahkan sudah berapa wali kota berganti, Kiki tetap bertahan.
Kepada penulis, Kiki mengaku tetap ingin melakoni tukang semir sepatu hingga tua nanti.
Usianya yang masih sangat muda, masih 19 tahun, tetapi dirinya harus menanggung biaya hidupnya sendiri. Terik panasnya matahari, derasnya guyuran hujan telah ia rasakan bertahun-tahun demi bertahan hidup.
Wanita asal Sinjai ini memulai harinya dengan berangkat dari rumah kakaknya di Jalan Abdul Kadir, Makassar ke Balai Kota. Ya, ia tinggal bersama kakak tirinya beserta suami kakaknya di sebuah rumah kontrakan di salah satu sudut Jalan Abdul Kadir.
Dari rumah itu ia berangkat tepat pukul 8.00 pagi menggunakan pete-pete. Tujuan utamanya Balai Kota Makassar. Walaupun tempatnya mencari nafkah bukan hanya di Balai Kota saja.
“Saya keliling ka, biasanya kalau dari sini ma, terus ke Polrestabes, BRI, Warkop Poenam, Pelabuhan, Kantor Pos. Keliling-keliling sekitar sini jalan kaki,” katanya.
Walaupun lelah mencari pelanggan dengan berjalan kaki, Kiki tetap saja tampak ceria. Seperti saat diwawancara oleh BKM, tak sedikitpun raut lelah maupun sedih akan hidupnya. Mulai menawari satu persatu pegawai di Balai Kota, dari staff biasa hingga walikota pernah menggunakan jasanya.
Kiki juga membawa sebuah kantong plastik hitam yang didalamnya terdapat sepasang sandal jepit. Sandal itu ia gunakan untuk para pelanggannya. Jika ia sedang menyemir sepatu pelanggannya, ia meminjamkan sandal tersebut untuk dipakai pelanggannya teraebut.
“Kalau lagi saya semir kan na lepas ki sepatunya, jadi saya kasih dulu ini sandal. Biar pak wali juga begitu ji, saya kasih juga dulu ini sandal, baru saya semirkan sepatunya,” katanya.
Tarif yang dipasangpun berbeda-beda. Untuk sepatu biasa ia pasang tarif sebesar Rp10 ribu. Jika sepatu laras dipasang Rp15 ribu. Kalau sandal, Rp5 ribu.
Dalam sehari, Kiki mendapat keuntungan sekitar Rp100 ribu perhari. Itu jika cuaca cerah, karena ia bisa bebas kemana-mana. Namun jika sedang hujan, penghasilannya hanya Rp30 ribu saja perhari, bahkan dikatakannya, pernah beberapa kali ia bahkan tak mendapat penghasilan sama sekali dalam sehari.
Jika telah usai, saat tepat pukul 17.00, ia pun kembali ke rumahnya. Kembali harus menggunakan pete-pete untuk pulang. Sesampainya dirumah, ia pun hanya tinggal beristirahat untuk menyiapkan tenaganya kembali keesokan harinya.(nug/b)

