WALAU diketahui jika koperasi sekolah adalah untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, ternyata Ratnawati memiliki sepenggal cerita suka duka seperti kesejahteraan yang minim hingga harus bekerja dan melayani sendiri kebutuhan koperasi.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Sebagai anak pertama, Ratna juga menjadi tulang punggung keluarganya, sebab kedua orangtuanya hanya sebagai petani di kampung yang diperbantukan untuk mengurus sawah dan tanaman sayur. Sehingga setiap bulan, Ratna selalu menyisihkan gajinya untuk keluarganya.
“Pendapatan sebagai penjaga koperasi sekolah itu kecil, dulu waktu awal-awal kerja cuman Rp500 ribu sekarang sudah Rp800 ribu. Saya kirim uang dikampung itu Rp500 ribu sisanya untuk kebutuhan saya disini. Karena kan saya disini tinggal sama tante ji jadi kebutuhan disini tidak banyak-banyak, karena ada ji (membantu),” ungkapnya saat ditemui penulis disela-sela kerjanya, kemarin.
Sekalipun dari sisi kesejahteraan atau gaji kurang, ia banyak memutar otak untuk memenuhi kebutuhan adik-adiknya dan dirinya di Makassar, seperti ia berjualan produk tas dan sepatu melalui online.
Di jam isterahat dan pulang kerja, Ratna menghabiskan waktunya untuk berbinis online dan sore harinya ia berlatih kursus menjahit. Selama jam-jam kerjanya tidak terganggu, diakui Ratna tidak ada pihak sekolah atau keluarga yang mempermasalahkannya.”Selama tidak menghambat kerja di sekolah tidak ada yang mempermasalahkan, hanya waktunya saja yang biasa bikin drop, tapi itu saya syukuri saja,” ucapnya.
Sekarang ia harus berpikir bagaimana mendapat biaya tambahan.”Saya jualan produk online juga, pulsa juga pokoknya apa yang bisa dikerjakan saya kerjakan supaya ada tambahan sedikit buat dikirim dan ditabung juga. Karena kalau tidak begitu tidak ada yang bisa saya pegang,” bebernya.
Terlahir mandiri, Ratna sudah diajarkan orangtuanya untuk tidak meminta-minta dan mengharapkan bantuan dari orang lain untuk hidup. Oleh sebab itu, sejak duduk di bangku sekolah hingga menyelesaikan studi strata satunya ia biayai sendiri dari hasil kerja kerasnya.
“Kalau dulu itu, saya jualan-jualan kue, bantu orangtua di sawah dari hasil kerja itu saya dapat uang jajan, sampai selesai di jurusan ekonomi saya juga yang biayai. Karena saya tahu orangtua tidak sanggup, makanya saya memutuskan kerja dulu baru lanjut kuliah. Sekarang sudah bisa membantu keluarga sedikit-sedikit,” tuturnya.
Makanya berkat kemandirian dan ketekunannya dalam bekerja, Ratna mendapatkan penghargaan dalam struktur pengurus koperasi menjadi pengurus terbaik sehingga ia mendapatkan reward atas penghargaan tersebut.
“Iya sudah tiga tahun berturut-turut ini, mendapat pengurus terbaik. Lumayan, bisa bantu perbaiki rumah, karenakan rumah dikampung itu rumah panggung, baru banyak dindingnya sudah rusak itu, kemarin saya gunakan untuk perbaiki sisanya itu untuk tabungan buka toko itu,” jelasnya.
Wanita berumur 25 tahun ini kesehariannya menyuplai dan melayani para murid dan siswa yang ada di sekolah tersebut. Seperti melayani pembelian barang yakni alat tulis, seragam sekolah, makanan, dan banyak lainnya.
“Saya hanya tinggal menunggu siswa atau guru yang datang dan melayaninya, juga mencatat penjualan tersebut secara terperinci dan akurat untuk dilaporkan. Saya pulang kalau sudah pulang juga siswa, sama ji juga masuknya,” ungkapnya.
Ratna mengakui jika ia bekerja sebagai penjaga koperasi di sekolah sudah ditekuni sejak 8 tahun lama. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Ratna mengakui jika yang paling penting dalam menjaga koperasi adalah sikap ramah yang harus selalu ditunjukkan kepada konsumen, meskipun terkadang ada konsumen yang bersikap kurang ramah dan cerewet menanyakan hampir semua harga barang.
“Kurang lebih jalan 8 tahun saya menjaga koperasi. Banyak watak berbeda dari siswa dan murid, tetapi saya tetap melayani dengan baik sesuai prinsip koperasi yaitu melayani dengan ramah. Karena banyak permintaan makanan atau kebutuhan yang harus ada,” ujarnya.
Tapi itu semua menurut Ratna, wajar karena karakteristik orang yang satu dengan yang lain banyak yang berbeda.”Tidak apa, karena saya juga banyak belajar kerja disini. Biar tidak seberapa yang penting pekerjaan itu dikerjakan dengan suasana nyaman dan senang. Kecil seberapa pun itu, dan seberat apapun itu pasti enak dikerjakannya,” tambahnya.(ita)

