pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

NA: Pengusaha Katering Harus Tanggung Jawab

MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah (NA) memberi perhatian terhadap kasus keracunan yang menimpa puluhan siswa boarding school di SMAN 17 Makassar.
Secara umum, kata mantan Bupati Bantaeng dua periode itu, dirinya belum mendapat laporan resmi dari Dinas Pendidikan (Disdik) terkait insiden tersebut. Namun, jika memang kondisi yang terjadi seperti informasi yang didengarnya, di mana siswa keracunan karena makanan yang disajikan pihak katering, maka mereka harus bertanggung jawab.
“Berarti pengusaha kateringnya yang harus bertanggung jawab,” kata NA usai menghadiri rapat paripurna di DPRD Sulsel, Jumat (23/11).
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Irman Yasin Limpo yang dikonfirmasi, mengatakan hingga kemarin sore pihaknya masih bekerja merampungkan hasil investigasi di SMAN 17.
“Tadi malam (Kamis malam) tim bekerja sampai pukul 21.00 Wita. Tim memanggil semua yang terkait. Sampai saat ini masih bekerja,” kata lelaki yang akrab disapa None itu.
Dia melanjutkan, semua pihak terkait sudah diperiksa. Ada dari pihak katering, hingga kepala sekolah.
“Kita buat dulu hasil temuan sementara. Kita akan ajukan ke Pak Gubernur,” jelasnya.
Dia melanjutkan, dirinya juga sudah turun memantau ke lapangan, dan memang menemukan ada anak yang sakit. Mereka sudah dikonfirmasi apakah memang keracunan. Setelah dihitung, ada 18 siswa yang terpapar.
Demikian juga dengan pihak rumah sakit atau puskesmas tempat mereka dirawat. Disdik juga sudah meminta sampel makanan diperiksa oleh Balai POM (Pengawasan Obat dan Makanan).
None menyalahkan pihak sekolah karena peristiwa keracunan ini tidak dilaporkan ke cabang dinas atau pengawas. “Saya sendiri tahunya lewat media,” cetusnya.
Ketua Komisi E DPRD Sulsel Kadir Halid, berjanji pihaknya akan segera memanggil Dinas Pendidikan dan Kepala SMAN 17 untuk menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) yang akan digelar sekaitan peristiwa tersebut. Hanya saja, RDP baru dilaksanakan setelah mengetahui hasil investigasi Disdik di lapangan.
Kadir meminta Disdik melibatkan BPOM untuk melakukan pemeriksaan terhadap makanan yang dikonsumsi siswa boarding school SMAN 17.
“Kita akan menggelar RDP. Kalau ada kesalahan fatal, dan ada yang harus bertanggung jawab terhadap insiden ini, tentu harus diberikan tindakan,” tegas Kadir.

Lapor ke Polisi

Terpisah, Kepala Ombudsman RI Sulsel Subhan Djoer, memperlihatkan contoh makanan sehari-hari yang disiapkan pihak katering di SMAN 17 Makassar. Isinya nasi yang banyak, sebungkus sayuran yang lebih banyak kuahnya, serta sepotong ikan.
”Ini contoh makanan sehari-hari mahasiswa boarding school di SMAN 17 Makassar. Jadi sebelum peristiwa keracunan itu terjadi, orang tua siswa sudah menyampaikan protesnya,” ungkap Subhan.
Menyusul peristiwa keracunan siswa di sekolah tersebut, Subhan mendorong agar penanganannya diserahkan ke polisi, selain oleh Dinas Pendidikan Provinsi dari sisi administrasi. Harus pula dikaji ulang penunjukan pihak ketiga sebagai penyedia katering, apakah sudah sesuai mekanisme atau tidak.
”Makanan yang disediakan harus memenuhi standar gizi anak-anak yang sedang dalam masa pendidikan. Mereka butuh asupan gizi yang cukup. Apalagi anggaran untuk boarding school cukup tinggi, sehingga penyediaan makanan harus dipastikan aman serta higienis,” tandas Subhan.
Informasi yang diperoleh Subhan dari sekolah, pengelola katering disebutkan mengintimidasi kepala asrama, mengancam serta menuduh pihak asrama yang menyimpan racun di makanan anak-anak.
”Ini tidak boleh terjadi. Pihak asrama harus melaporkan atas ancaman dan tuduhan telah meracuni makanan anak-anak. Karena yang paling mungkin melakukan kelalaian adalah penyedia,” jelas Subhan.

Jangan Takut Bicara

Sebelumnya, saat mendatangi SMAN 17, Kamis sore (22/11), None menegaskan ke pihak sekolah untuk tidak coba-coba memberikan apapun kepada tim yang datang. Termasuk makanan.
”Ada tiga orang anggota tim pengawas yang menggali informasi dan keterangan langsung dari siswa, pihak pengelola asrama, dan guru-guru. Termasuk kepsek sendiri. Jadi jangan maki kasih makanki timku. Adaji makanannya mereka,” ujar None.
Dalam kunjungannya, None tidak terlalu banyak menghabiskan waktu berbincang-bincang di dalam ruang. Hanya memperkenalkan adanya tim dari Disdik Sulsel. Ia lalu melanjutkan berkunjung ke lokasi asrama.
Jarak antara asrama dan ruangan kepsek kira-kira 15 meter. Ketika memasukinya, aroma tak sedap langsung menyeruak. Wajar jika masih ada bau seperti tiu, karena pada Jumat (16/11) pekan lalu, banyak siswa muntah-muntah di ruangan ini. Itu terjadi setelah mereka mengonsumsi makanan yang disediakan pihak katering.
“Di ruangan ini sempat ada anak-anak yang muntah, jadi aromanya seperti itulah. Tapi tidak lama kami simpan, karena langsung dibawa ke rumah sakit dan puskesmas,” kata Kepala Asrama, Farida.
Di kesempatan ini, None memanggil beberapa orang siswa yang sempat mendapat perawatan medis. Satu per satu siswa ditanya. Mulai dari jam masuk makanan, menu yang ada dalam makanan dan perbedaan rasa makanan yang disediakan di kantin sekolah. Semua siswa siswi antusias menjawab pertanyaan yang dilontarkan.
“Saya Irman, Kadis Pendidikan Sulsel. Saya mau tanyaki apa saja yang ada dalam dos makanan. Ada buah? Ada susu? Pernah makanan terlambat masuk? Bicaramaki nanti sama tim saya. Bicara yang sebenarnya saja. Jangan takut. Saya pastikan baik-baikjaki semua,” tandasnya.
Seorang siswa yang dirahasiakan namanya di hadapan None, mengaku makanan pernah lambat masuk. Hanya saja dia bersama teman-teman tidak berani mempertanyakan hal itu.
Sedangkan lauk di rantang makanan porsinya biasa saja. Kalaupun ada buah, biasanya sepotong semangka.
“Kalau buah cuma semangka saja. Ada snack, tapi tidak tahu cuma berapa kali dikasihkan. Kalau makanan telat masuk, pernah terjadi. Itu makan siang dan makan malam,” bebernya. (rhm-arf-jun/rus)



×


NA: Pengusaha Katering Harus Tanggung Jawab

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar