pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Konsumen Tetapnya dari Kabupaten Gowa dan Soppeng

JALAN Lamuru, Kecamatan Bontoala, menjadi tempat jualan sekaligus tempat Saing membuat tempat-tempat sampah dari drum bekas. Sudah lebih 30 tahun pria kelahiran Jeneponto, 15 Januari 1967 mencari nafkah dengan berjualan drum bekas di jalan yang tidak begitu lebar dan ramai ini.

Laporan: ARIF AL QADRY

Jalan Lamuru sejak dulu memang menjadi lokasi tempat jualan drum bekas bersama bapaknya. Hingga kini bisnis jualan drum bekas dilanjutkannya. Sedangkan saudara-saudaranya memilih untuk beralih menjadi karyawan di perusahaan.
“Sudah lama saya jualan di Jalan Lamuru ini, dari bapak sewaktu masih hidup sampai sekarang saya lanjutkan ini. Saya juga bersyukur pemilik rumah di area sini dukung kami yang bekerja drum bekas, tidak ada juga sewa saya bayar,” sebutnya.
Semua drum bekas yang dijual Saing juga diambil dari industri – industri di kawasan KIMA. Semua drum bekas yang dibelinya dengan kondisi rusak dan penyok harus diperbaiki lebih dulu sebelum dijualnya dan diubah jadi tempat sampah.
Dalam satu bulan penjualan drum tidak menentu, kadang paling banyak laku terjual sebanyak 150 drum dan paling banyak belum diubah. Paling sedikit setiap bulan hanya 100 drum laku terjual. Dia berjualan dari pukul 07:00 WITA sampai 18:00 sore.
“Tidak menentu penjualan juga kadang satu hari ada laku, kadang tidak ada sama sekali. Paling banyak biasa orang beli drum bekas masih utuh atau belum diubah jadi tempat sampah dan sebagainya,” ujarnya.
Sekarang ini Saing sudah memiliki pembeli tetap berasal dari daerah seperti Gowa, Bantaeng dan Soppeng. Dari situlah ia memilih untuk tetap bertahan berjualan drum bekas. Apalagi dalam setiap pesanan bisa 100 biji meski jarak waktu pesanan cukup lama.
“Dari daerah cukup banyak pesanan, ada yang gunakan untuk penampungan karet mentah untuk diekspor dan ada juga khusus untuk tempat sampah,” terangnya.
Untuk mengubah drum bekas menjadi tempat sampah, ia masih menggunakan alat berupa palu serta betel. Semua pekerjaan dilakukan seorang diri. Dalam sehari, ia dapat memotong 10 drum menjadi dua bagian. Selanjutnya jika ingin diubahnya jadi tempat sampah dilanjut besok hari.
“Susah-susah gampang juga ubah drum ini jadi tempat sampah. Tangan terkena palu sampai teriris besi pasti terjadi kalau kerja. Kalau buat yang lain selain tempat sampah itu sesuai pesanan. Kalau ada pesanan saya bikin, tapi kalau tidak ada cuma tempat sampah dan tempat cor semen yang saya bikin saja dan perbaiki drum yang penyok,” katanya.
Harga drum bekas utuh yang di jual Saing sebesar Rp160.000, dan tempat sampah sebesar Rp100.000. Itu yang besi, sementara drum plastik yang utuh sebesar Rp300.000 dan yang bentuk tempat sampah Rp150.000.
“Memang agak mahal yang plastik dari pada besi. Kalau besi bisa karatan dalamnya jadi kebanyakan drum besi dijadikan tempat sampah dan tempat penampungan karet,” tambahnya. (arf)



×


Konsumen Tetapnya dari Kabupaten Gowa dan Soppeng

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar